Fimela.com, Jakarta - Penggemar sinema Indonesia bersiap menyambut film baru bertajuk Bapak Paling Jujur. Karya Fajar Nugros ini mengangkat isu sosial politik dan diadaptasi dari film Brasil O Candidato Honesto (2014). Dalam penggarapannya, film ini hadir dengan sejumlah penyesuaian agar relevan dengan konteks Indonesia saat ini.
"Perbedaan yang paling terasa adalah versi Brasil yang dibuat pada tahun 2014, ketika kesadaran untuk menghargai perempuan mungkin masih kurang. Di sana, istri benar-benar diledek secara fisik. Sementara di sini, kami mengurangi hal tersebut agar tetap sesuai dengan konteks kita,” ujarnya dalam media junket di XXI Lounge Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Fajar menjelaskan bahwa pijakan tersebut tampak jelas melalui sejumlah karakter perempuan yang tampil di cerita, mulai dari figur para ibu hingga dua tokoh muda.
“Tokoh perempuan kita di sini semuanya memang kukuh. Mulai dari ibu-ibu, Una yang kritis, sampai Vanny yang punya jati dirinya sendiri dan percaya diri dengan keinginannya,” tutur Fajar.
Jejak Media Sosial dalam Versi Indonesia
Produser Aoura Lovenson Chandra menyebut ada satu warna baru yang menjadi pembeda kuat di versi Indonesia, yakni kehadiran elemen media sosial. Menurutnya, keputusan itu berangkat dari realitas sehari-hari masyarakat yang semakin lekat dengan platform digital dalam beberapa tahun terakhir.
“Salah satu elemen besar yang kami tambahkan adalah media sosial karena kami merasa hal tersebut relevan dengan Indonesia dan zaman sekarang. Media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan kita dalam beberapa tahun terakhir,” kata Aoura.
Aoura menegaskan, rujukan terkait penggunaan media sosial tersebut tidak ditemukan pada versi asli dari Brasil maupun adaptasi Korea. Ketiadaan referensi itulah yang kemudian memberi ruang untuk membangun pembedaan yang terasa kontekstual di edisi Indonesia.
“Media sosial itu tidak ada di original version-nya. Termasuk versi Korea yang juga diadaptasi dari Brasil, keduanya tidak memiliki referensi media sosial seperti yang kami masukkan di sini,” tambahnya.
Dari Skenario ke Reading: Perjalanan Panjang Cerita
Sementara itu, Fajar Nugros memaparkan proses pengembangan cerita yang melalui beberapa tahap penting. Ia menyebut semuanya dimulai dari penulisan skenario, lalu berlanjut pada pembahasan karakter dan penyepakatan aturan main di dalam cerita.
"Proses pengembangannya memang cukup panjang. Kami mulai dari skenario, kemudian menyepakati karakter dan rule of the game-nya. Setelah itu David Nurbianto menyatukan dan menjahit semua komedinya. Kami kemudian mendiskusikan soal komedi tersebut hingga akhirnya masuk ke tahap reading,” jelas sineas 47 tahun tersebut.
Pada fase membaca naskah, Fajar dan tim menghidupkan kembali memori tentang situasi yang pernah dialami bersama, khususnya yang berkaitan dengan dinamika sosial dan politik yang akrab di telinga publik Indonesia.
“Dalam proses membaca, kami menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang apa yang kita semua terpapar dalam situasi saat ini,” tambahnya.
Bapak Paling Jujur berfokus pada Jonas Prakoso (Andovi Da Lopez) yang terjun ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai gubernur bersama pasangannya, Sambodo (Soleh Solihun). Jonas piawai membangun citra publik dan menjaga setiap ucapannya demi meraih kemenangan dalam pemilihan umum.
Keadaan berubah ketika sebuah kutukan kejujuran dari sang nenek menimpa Jonas. Sejak saat itu, ia tak lagi mampu melontarkan kebohongan di hadapan masyarakat, hingga kekacauan demi kekacauan pun muncul dalam perjalanan kampanyenya sendiri.
Di tengah keblunderan yang ia ciptakan, pertanyaan pun mengemuka: mampukah Jonas tetap memenangkan pemilihan umum tersebut?