Content Creator Sashfir Alami Voyeurisme, Jadi Bukti Ruang Privat Tidak Lagi Aman

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 09 Oktober 2026, 07:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ruang privat, seperti toilet seharusnya menjadi tempat di mana setiap orang merasa aman dan memiliki kendali penuh atas tubuh serta dirinya sendiri. Namun, pengalaman yang dibagikan content creator Sashfir baru-baru ini kembali mengingatkan bahwa rasa aman tersebut masih dapat dilanggar, bahkan di tempat yang seharusnya memberikan privasi.

Sashfir mengungkap bahwa dirinya menjadi korban pelecehan seksual berupa perekaman secara diam-diam atau voyeurism saat berada di area toilet perempuan sebuah restoran di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada April 2026. Setelah memendam pengalaman tersebut selama beberapa bulan, ia akhirnya memilih untuk bersuara pada Oktober 2026. Sashfir menyebut kasus tersebut telah diserahkan kepada pihak berwajib dan berharap adanya tindakan tegas agar kejadian serupa tidak kembali menimpa perempuan lain.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa pelecehan seksual tidak selalu terjadi dalam bentuk sentuhan fisik. Merekam, memotret, atau mengintip seseorang tanpa persetujuan, terutama ketika berada dalam situasi privat, merupakan pelanggaran terhadap privasi dan tubuh seseorang.

 

2 dari 2 halaman

Bisa Terjadi di Mana Saja

Sashfir mengatakan permasalahan tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak berwajib. (dok. Instagram.com/@sashfir)

Voyeurism dapat terjadi di berbagai tempat, termasuk toilet, ruang ganti, kamar hotel, maupun ruang privat lainnya. Perkembangan teknologi bahkan membuat tindakan tersebut semakin sulit dikenali karena kamera berukuran kecil dapat disamarkan dalam berbagai benda. Kasus perekaman diam-diam di toilet kawasan Braga, misalnya, juga baru terungkap setelah seorang perempuan menemukan perangkat yang mencurigakan.

Yang tidak kalah penting untuk dipahami adalah korban tidak pernah menjadi penyebab terjadinya pelecehan. Berada sendirian, menggunakan fasilitas umum, mengenakan pakaian tertentu, atau berada di suatu tempat tidak pernah menjadi alasan yang membenarkan seseorang merekam tubuh orang lain tanpa persetujuan.

Bagi korban, keputusan untuk berbicara juga tidak selalu mudah. Setiap orang memiliki waktu dan cara yang berbeda untuk memproses pengalaman traumatis. Karena itu, ketika seseorang akhirnya memilih untuk bercerita, hal yang dibutuhkan bukanlah pertanyaan yang menyudutkan, melainkan dukungan dan ruang yang aman.

Lantas, apa yang dapat dilakukan jika mengalami atau menemukan dugaan voyeurism? Memprioritaskan keselamatan, mencatat dan menyimpan bukti, melapor kepada pihak pengelola tempat atau keamanan, serta mencari bantuan dari pihak yang dapat dipercaya merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Melalui infografis ini, Fimela mengajak perempuan untuk lebih mengenali voyeurism, memahami bahwa tindakan tersebut bukan sekadar "keisengan", serta mengetahui langkah yang dapat diambil ketika mengalami atau menemukan kejadian serupa.

Sebab, setiap perempuan berhak memiliki ruang yang aman dan privasi atas tubuhnya sendiri. Dan ketika batas tersebut dilanggar, yang perlu dipertanyakan bukan perilaku korban, melainkan tindakan pelaku.

Kasus pelecehan seksual voyeurisme dialami oleh content creator Sashfir di toilet perempuan sebuah restoran (ilustrasi oleh AI)