Memahami Perasaan Anak, Ini Pentingnya Validasi Emosi daripada Sekadar Melarang

Devita AdyaDiterbitkan 12 Oktober 2026, 15:59 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menghadapi anak yang menangis, marah, atau kecewa sering kali menjadi tantangan bagi orangtua. Dalam situasi tersebut, respons yang muncul terkadang berupa larangan, seperti meminta anak berhenti menangis atau tidak marah. Padahal, di balik perilaku tersebut, anak mungkin sedang berusaha memahami perasaan yang belum mampu diungkapkan dengan jelas. Validasi emosi menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu anak merasa didengar dan dipahami.

Dilansir dari American Academy of Pediatrics (AAP), orangtua dapat membantu anak mengelola emosi dengan mengakui perasaannya, memberi nama pada emosi tersebut, dan menunjukkan bahwa perasaan itu dapat dimengerti. AAP juga menekankan bahwa perasaan anak dapat diterima meskipun perilakunya tetap perlu diarahkan.

Artinya, Validasi emosi bukan berarti membenarkan semua tindakan anak. Orangtua tetap bisa menetapkan batasan, tetapi tanpa meremehkan perasaan yang sedang dialami. Misalnya, ketika anak marah karena tidak diizinkan bermain, orangtua dapat mengakui kekecewaannya sambil menjelaskan alasan aturan tersebut.

Dengan pendekatan ini, anak memiliki kesempatan untuk belajar mengenali perasaan dan memahami cara mengekspresikannya secara lebih tepat. Hubungan orangtua dan anak pun dapat terasa lebih hangat melalui komunikasi yang penuh empati.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Bantu Anak Mengenali Emosi, Bukan Sekadar Memintanya Berhenti Menangis

Ketika anak menunjukkan emosi yang kuat, respons orangtua berperan dalam membantu mereka memahami perasaannya. (Foto/Dok: Pexels)

Anak belum selalu mampu menjelaskan apa yang dirasakan atau mengapa dirinya bereaksi dengan cara tertentu. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, misalnya, anak bisa menangis, berteriak, atau menunjukkan kemarahan. Dalam situasi seperti ini, orangtua perlu memahami bahwa perilaku tersebut bisa menjadi cara anak mengekspresikan emosi yang belum mampu dikelolanya dengan baik.

Alih-alih langsung memarahi atau menyuruh anak berhenti menangis, orangtua dapat mencoba mendekati anak dengan tenang. Kalimat sederhana seperti, "Kamu kecewa karena belum boleh bermain, ya?" dapat membantu anak mengenali perasaannya. Respons tersebut menunjukkan bahwa orangtua berusaha memahami apa yang sedang dialami anak, tanpa harus menyetujui semua keinginannya.

Setelah anak merasa didengarkan dan mulai lebih tenang, orangtua dapat menjelaskan batasan yang berlaku. Misalnya, anak tetap perlu memahami bahwa memukul atau melempar barang bukan cara yang tepat untuk menunjukkan kemarahan. Orangtua bisa menawarkan pilihan lain, seperti bercerita, menarik napas perlahan, atau meminta bantuan ketika merasa kesulitan.

Proses ini membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Anak mungkin tidak langsung mampu mengelola emosinya dalam satu kali percakapan. Namun, melalui pendampingan yang berulang, anak dapat belajar membedakan perasaan dan tindakan, sekaligus menemukan cara yang lebih tepat untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

3 dari 3 halaman

Tetap Tegas dengan Empati, Cara Orangtua Membantu Anak Mengelola Emosi

Dengan tetap memberikan batasan yang jelas, orangtua membantu anak merasa dihargai sekaligus belajar bertanggung jawab atas perilakunya. (Foto/Dok: Pexels)

Sebagian orangtua mungkin khawatir bahwa menerima perasaan anak akan membuatnya menjadi manja atau sulit diatur. Padahal, memvalidasi emosi berbeda dengan selalu menuruti keinginan anak. Orangtua tetap memiliki peran untuk menetapkan aturan, mengajarkan tanggung jawab, dan membantu anak memahami konsekuensi dari perilakunya.

Ketika anak menangis karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, orangtua tidak harus langsung mengubah keputusan. Perasaan kecewa dapat diterima, tetapi aturan tetap perlu dijalankan apabila memang sesuai dengan kebutuhan dan keselamatan anak. Orangtua bisa mengatakan, "Ibu tahu kamu masih ingin bermain, tetapi sekarang waktunya beristirahat." Kalimat tersebut menunjukkan empati sekaligus memberikan batasan yang jelas.

Konsistensi juga penting dalam menerapkan pola asuh ini. Jika orangtua terbiasa mendengarkan perasaan anak, mereka dapat membangun suasana yang membuat anak lebih nyaman untuk bercerita. Sebaliknya, meremehkan emosi dengan mengatakan anak terlalu sensitif atau tidak boleh menangis dapat membuat anak merasa kesulitan menyampaikan perasaannya.

Orangtua pun perlu memberikan contoh dalam mengelola emosi sendiri. Ketika merasa kesal, cobalah menyampaikan perasaan dengan tenang dan menunjukkan cara menyelesaikan masalah tanpa menyakiti orang lain.

Pada akhirnya, validasi emosi bukan tentang membiarkan semua perilaku, melainkan membantu anak merasa dipahami sambil belajar mengendalikan tindakannya. Dengan pendampingan yang penuh empati, anak dapat mengembangkan kemampuan mengenali perasaan dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang di sekitarnya.