Dari Lombok ke Paris, Koleksi Kolaborasi Desainer Indonesia dan Prancis Tampil di Première Classe 2026

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 13 Oktober 2026, 16:34 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kain tradisional Indonesia menyimpan lebih dari sekadar keindahan motif. Di balik setiap helainya, terdapat keterampilan, pengetahuan, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Ketika kekayaan tersebut bertemu dengan perspektif desain kontemporer, lahirlah kemungkinan baru untuk membawa tekstil Nusantara ke panggung mode dunia.

Semangat inilah yang dihadirkan melalui PINTU Residency, program kolaborasi kreatif yang mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis untuk bekerja bersama artisan lokal. Setelah menjalani residensi selama empat bulan di Indonesia dan memperkenalkan hasilnya di JF3 Fashion Festival 2026, dua koleksi dari program ini, GARUDA dan AU LARGE, melanjutkan perjalanannya ke Première Classe Paris pada 2–5 Oktober 2026.

Kehadiran kedua koleksi tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil eksplorasi tekstil dan desain kepada buyer serta pelaku industri mode internasional. Lebih dari sekadar memamerkan busana, program ini juga memperlihatkan bagaimana pertukaran perspektif lintas budaya dapat membuka cara baru dalam mengolah warisan tekstil Indonesia.

 

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Ketika Desainer Indonesia dan Prancis Berkolaborasi

Intip pesona kain Indonesia di Paris (dok. JF3)

PINTU Residency merupakan bagian dari PINTU Incubator, program yang mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman melalui kolaborasi kreatif. Jika pada 2025 program ini menghadirkan desainer Prancis untuk bekerja bersama artisan Indonesia, pada 2026 pendekatannya dikembangkan melalui format creative pairing.

Format tersebut mempertemukan desainer dari kedua negara untuk menciptakan koleksi bersama, sekaligus mengeksplorasi hubungan antara teknik tradisional, konteks budaya, dan desain kontemporer.

Selama April hingga Juli 2026, Beatrice Angelica dan Gabriel Marcella dari Indonesia berkolaborasi dengan Mickaël Nana dan Lisa Rayar dari Prancis. Di bawah kurasi Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer, para desainer menjalani residensi yang tidak hanya berfokus pada eksplorasi teknik tekstil.

Mereka juga berinteraksi lebih dekat dengan lingkungan tempat keterampilan tersebut berkembang, bekerja bersama komunitas artisan, serta memahami konteks budaya yang menjadi bagian dari proses penciptaan koleksi. Pendekatan ini memungkinkan para desainer melihat material dan teknik tradisional dari perspektif yang berbeda, sekaligus membuka ruang untuk interpretasi yang lebih kontemporer.

Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, menjelaskan bahwa residensi bukan semata-mata tentang mempelajari teknik atau menghasilkan koleksi.

Menurutnya, ketika desainer Indonesia dan Prancis bekerja bersama, mereka membawa pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Pertemuan tersebut dapat membantu mereka melihat kembali material, keterampilan, hingga budaya yang selama ini terasa familiar melalui perspektif baru.

 

3 dari 5 halaman

GARUDA, Membawa Tenun dan Songket Lombok ke Ranah Kontemporer

Beatrice bersama buyer di Premiere Classe 2026. (dok. PINTU Incubator)

Salah satu koleksi yang diperkenalkan melalui PINTU Residency adalah GARUDA, hasil kolaborasi desainer Indonesia Beatrice Angelica dan desainer Prancis Mickaël Nana selama residensi di Lombok.

Koleksi ready-to-wear ini terdiri dari 10 tampilan yang mencakup busana perempuan dan laki-laki. GARUDA terinspirasi dari arsip fotografi Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kemudian menerjemahkan referensi sejarah tersebut melalui perpaduan Tenun dan Songket Lombok dengan struktur tailoring Barat.

Dalam proses pengembangannya, Beatrice dan Mickaël bekerja bersama artisan perempuan setempat untuk menciptakan tekstil khusus menggunakan teknik tradisional yang kemudian diolah menjadi desain kontemporer.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana tekstil tradisional dapat hadir dalam bentuk yang lebih relevan dengan kebutuhan berpakaian masa kini tanpa melepaskan hubungan dengan asal-usulnya. Tenun dan songket tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga bagian penting dari identitas visual koleksi.

Melalui GARUDA, kekayaan tekstil Lombok dipertemukan dengan konstruksi busana yang memiliki karakter berbeda. Hasilnya adalah eksplorasi desain yang menghubungkan warisan lokal dengan perspektif internasional.

Sementara itu, koleksi AU LARGE juga menjadi bagian dari presentasi PINTU Residency di Paris. Bersama GARUDA, koleksi ini memperlihatkan hasil proses kreatif yang dikembangkan melalui pertemuan desainer, artisan, dan pendekatan lintas budaya selama residensi di Indonesia.

 

4 dari 5 halaman

Première Classe dan Focus Week Paris, Membuka Perspektif Baru

Lisa bersama buyer di Premiere Classe 2026. (dok. PINTU Incubator)

Partisipasi di Première Classe Paris menjadi bagian dari upaya PINTU memperluas akses pelaku mode Indonesia ke industri internasional. Para desainer tidak hanya memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan karya kepada buyer dan pelaku industri, tetapi juga melihat secara langsung dinamika pasar fashion global.

Selain mengikuti Première Classe, para peserta PINTU Incubator 2026 dijadwalkan mengikuti Focus Week Paris, yang mencakup workshop di sekolah mode serta kunjungan ke sejumlah institusi kreatif dan budaya di Paris.

Program ini dirancang untuk memperkenalkan peserta pada pendidikan mode, industri, craftsmanship, dan budaya fashion Prancis. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi para desainer dalam mengembangkan kreativitas sekaligus memperkuat aspek bisnis brand mereka.

Soegianto Nagaria, Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, menegaskan bahwa membawa PINTU ke Paris bukan hanya tentang memperkenalkan karya ke pasar internasional. Para peserta juga perlu memahami bagaimana industri fashion bekerja di negara lain, membangun jejaring, dan memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan dalam pengembangan bisnis mereka.

 

5 dari 5 halaman

Membangun Ekosistem Fashion Indonesia secara Berkelanjutan

Langkah PINTU ke Paris juga menjadi bagian dari pengembangan program yang lebih luas. Pada 2026, Yayasan PINTU Incubator Indonesia dibentuk sebagai landasan untuk mendukung keberlanjutan program ke depan.

Saat ini, PINTU memiliki tiga program utama, yaitu PINTU Incubator, PINTU Accelerator, dan PINTU Residency. Ketiganya dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan serta tahap perkembangan pelaku mode, mulai dari pengembangan talenta hingga perluasan peluang bisnis.

Rangkaian program ini menunjukkan bahwa pengembangan industri fashion tidak berhenti pada penciptaan koleksi yang menarik. Akses terhadap pengetahuan, pengalaman lintas budaya, jejaring profesional, dan pasar juga menjadi bagian penting agar desainer dapat terus bertumbuh.

Perjalanan GARUDA dan AU LARGE dari proses residensi di Indonesia menuju Première Classe Paris menjadi salah satu gambaran bagaimana kolaborasi dapat membuka ruang baru bagi tekstil tradisional dan talenta kreatif Indonesia.

Di tengah industri mode yang terus berkembang, warisan budaya memiliki peluang untuk terus menemukan bentuk baru. Melalui pertemuan antara keterampilan artisan, perspektif desainer, dan akses ke pasar internasional, tekstil Nusantara dapat hadir bukan hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi bagi masa depan fashion.