Ajarkan Anak Mengenal Batasan Tubuh dan Mencintai Diri Sendiri Sejak Dini

Devita AdyaDiterbitkan 16 Oktober 2026, 08:57 WIB

Fimela.com, Jakarta - Membantu anak memahami tubuhnya sendiri merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang. Sejak usia sekolah dasar, mereka perlu mengetahui bahwa tubuh anak berharga dan setiap orang berhak menentukan batasan pribadi. Pemahaman ini tidak hanya berkaitan dengan keamanan diri, tetapi juga membantu anak belajar menghargai dirinya dan orang lain.

Dilansir dari National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), edukasi tentang tubuh anak dapat dimulai dengan mengenalkan bagian tubuh menggunakan nama yang tepat, menjelaskan privasi, serta mengajarkan anak bahwa mereka boleh mengatakan tidak terhadap sentuhan yang membuat tidak nyaman. Orangtua juga perlu menegaskan bahwa anak dapat bercerita apabila mengalami sesuatu yang membuatnya takut atau bingung.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua bisa memulainya melalui percakapan sederhana. Misalnya, meminta izin sebelum memeluk anak dan menghormati ketika anak menolak. Dengan begitu, anak belajar bahwa batasan tubuh berlaku untuk semua orang, termasuk anggota keluarga.

Selain itu, penting untuk menciptakan suasana komunikasi yang aman. Anak perlu mengetahui bahwa mereka tidak akan dimarahi ketika menceritakan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman. Kebiasaan ini membantu membangun kepercayaan sekaligus menanamkan pemahaman bahwa tubuh mereka layak dihargai dan dilindungi.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tumbuhkan Self-Love Sejak Dini

Mengajarkan self-love kepada anak bukan sekadar membuat mereka merasa percaya diri, tetapi juga membantu mereka menerima diri sendiri. (Foto/Dok: Magnific)

Selain mengenal batasan tubuh, anak juga perlu belajar menghargai dirinya sendiri. Self-love pada anak dapat diperkenalkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menerima kelebihan dan kekurangan, mengenali perasaan, serta memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh penampilan atau prestasi semata.

Orangtua dapat memulainya dengan memberikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya hasil yang berhasil dicapai. Ketika anak mencoba sesuatu yang baru, misalnya, orangtua bisa menghargai keberaniannya meskipun hasilnya belum sempurna. Cara ini membantu anak memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

Penting juga untuk menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya. Setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan perkembangan yang berbeda. Alih-alih membandingkan, ajak anak mengenali hal-hal yang disukai dan kemampuan yang ingin dikembangkan.

Selain itu, orangtua perlu memberikan contoh dalam menghargai diri sendiri. Anak dapat belajar dari cara orang dewasa berbicara tentang tubuh, menerima kekurangan, dan menghadapi kegagalan. Ketika lingkungan rumah terasa aman dan penuh dukungan, anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih sehat.

Dengan membangun kebiasaan tersebut, anak belajar bahwa dirinya tetap berharga, bahkan ketika melakukan kesalahan atau menghadapi penolakan. Pemahaman ini menjadi bekal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain.

3 dari 3 halaman

Bantu Anak Merasa Aman Menjadi Dirinya Sendiri

Orangtua dapat membantu anak berani berkata tidak, mengenali situasi yang membuat tidak nyaman, dan mencari pertolongan. (Foto/Dok: Pexels)

Mengajarkan batasan tubuh dan self-love tidak cukup dilakukan melalui satu kali percakapan. Anak usia sekolah dasar membutuhkan pengingat dan contoh nyata agar dapat menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua dapat memanfaatkan situasi sederhana di rumah untuk membicarakan kenyamanan, privasi, dan pentingnya menghormati keputusan orang lain.

Misalnya, anak perlu memahami bahwa mereka boleh menolak pelukan atau sentuhan yang membuat tidak nyaman. Mereka juga perlu belajar meminta izin sebelum menyentuh orang lain. Ajarkan anak menyampaikan penolakan dengan kalimat sederhana, seperti, "Aku tidak nyaman, tolong berhenti." Namun, tanggung jawab untuk menghentikan perilaku yang tidak pantas tetap berada pada orang yang melakukannya, bukan pada anak.

Selain itu, bantu anak mengenali orang dewasa tepercaya yang dapat dimintai pertolongan, seperti orang tua, guru, atau anggota keluarga yang dipercaya. Jelaskan bahwa mereka boleh bercerita apabila mengalami perlakuan yang membuat takut atau bingung, meskipun seseorang meminta mereka merahasiakannya.

Hal yang tidak kalah penting adalah mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi. Hindari menyalahkan atau memarahi mereka ketika mengungkapkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Berikan dukungan dan yakinkan bahwa mereka berhak mendapatkan perlindungan.

Melalui komunikasi yang terbuka dan konsisten, anak dapat belajar menghargai tubuh, mengenali batasan pribadi, serta memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Kebiasaan ini membantu membangun rasa aman dan penghargaan diri sejak dini.