Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pemandangan berbeda terlihat di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang dan membentangkan spanduk berukuran besar. Aksi ini ditujukan untuk menyuarakan persoalan lingkungan serta isu-isu publik yang tengah menjadi perhatian masyarakat luas.
Sorotan publik mengerucut pada keberadaan dua aktivis perempuan yang memilih tetap bergantung pada struktur patung selama berjam-jam. Keputusan itu diambil agar pesan yang dibawa Greenpeace terus terlihat oleh pengguna jalan yang melintas di kawasan ikonik tersebut.
Di ketinggian, keduanya bertahan dengan tali pengaman sembari menghadapi terik matahari dan kualitas udara Jakarta yang penuh polusi. Seiring waktu, proses evakuasi dilakukan menggunakan tali rescue setelah beberapa aktivis terlihat lemas saat berada di atas patung.
Salah satu aktivis perempuan mulai turun sekitar pukul 10.30 WIB, kemudian dibawa menuju ambulans untuk mendapatkan penanganan medis. Di media sosial, muncul beragam respons atas aksi tersebut; perdebatan tentang isu yang disuarakan bersisian dengan apresiasi atas keberanian para aktivis perempuan yang bertahan dari ketinggian.
Perempuan dan Ruang Publik dalam Aksi Greenpeace
Apa yang terjadi di Bundaran HI menunjukkan bahwa perjuangan isu lingkungan dan sosial tak melulu berlangsung di forum formal. Jalanan, ruang publik, hingga platform media sosial dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, termasuk melalui aksi damai yang menarik perhatian.
Keterlibatan perempuan dalam gerakan lingkungan bukan hal baru. Sejumlah kajian tentang politik lingkungan dan aktivisme perempuan menempatkan perempuan sebagai aktor penting dalam berbagai bentuk partisipasi publik, mulai dari keanggotaan organisasi lingkungan hingga terlibat dalam gerakan sosial yang memperjuangkan keadilan ekologis. Literatur mengenai gender and environmental politics juga melihat hadirnya perempuan di ruang publik sebagai kunci untuk memahami cara isu lingkungan diperjuangkan.
Dalam konteks perubahan iklim, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat adanya kaitan antara kepemimpinan perempuan dan langkah-langkah nyata menghadapi krisis iklim. Perempuan tidak hanya termasuk kelompok yang terdampak, tetapi juga menjadi penggerak aksi dan bagian dari solusi di berbagai tingkatan pengambilan keputusan.
Keterkaitan ini terasa relevan ketika isu lingkungan bersinggungan dengan dimensi sosial dan politik yang lebih luas. Kebakaran hutan, kerusakan ekosistem, tata kelola sumber daya alam, dan arah kebijakan pembangunan pada akhirnya memengaruhi kehidupan masyarakat, bukan semata-mata perkara lingkungan hidup.
Jaringan, Kepemimpinan, dan Daya Gerak Perempuan
Sejumlah penelitian menyoroti potensi besar perempuan dalam membangun gerakan yang bertumpu pada komunitas. Studi tentang gerakan perempuan dan aktivisme lingkungan di India, misalnya, memperlihatkan bagaimana pengalaman sehari-hari serta pengetahuan ekologis dimanfaatkan untuk memperjuangkan isu ketimpangan iklim, hak atas lahan, dan tata kelola lingkungan yang lebih adil.
Daya itu juga tumbuh melalui kemampuan merajut jejaring dan kolaborasi. Laporan UNDP mengenai kepemimpinan perempuan dalam perubahan sosial menemukan bahwa organisasi yang dipimpin perempuan berperan memperkuat partisipasi, membangun koalisi, mendorong akuntabilitas institusi, sekaligus melakukan advokasi yang bertumpu pada bukti.
Pada isu lingkungan, kontribusi tersebut menjadi semakin krusial karena dampak perubahan iklim sering berkaitan erat dengan ketidaksetaraan. UN Women menyoroti bahwa perempuan berada di garis depan dalam menghadapi dan merespons dampak-dampak itu, meski kiprah mereka masih kerap kurang terlihat.
Secara berkala, Reuters Events juga menampilkan sosok-sosok perempuan yang berada di garis depan aksi iklim, mencakup aktivis, ilmuwan, pembuat kebijakan, hingga pemimpin bisnis. Dalam laporan Trailblazing Women in Climate, para pemimpin perempuan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas komunitas, pemerintah, sektor usaha, dan masyarakat sipil untuk mendorong perubahan yang lebih nyata.
Temuan penelitian mengenai kepemimpinan politik perempuan turut memberi gambaran serupa. Dalam studi atas pemilihan kepala daerah di Brasil, wilayah yang dipimpin perempuan tercatat mengalami penurunan emisi gas rumah kaca dibandingkan wilayah yang dipimpin laki-laki, sesuai desain penelitian tersebut.
Aksi Lapangan ke Ranah Kebijakan
Peristiwa di Bundaran HI mengingatkan bahwa suara publik dapat hadir melalui beragam kanal: riset, petisi, diskusi terbuka, media sosial, hingga aksi langsung di ruang publik. Para aktivis perempuan yang bergantung di Monumen Selamat Datang memilih cara penyampaian aspirasi yang secara visual sulit diabaikan.
Kendati demikian, kekuatan sebuah gerakan tidak berhenti pada seberapa mencolok aksi yang dilakukan. Berbagai studi gerakan sosial menunjukkan aksi publik bisa membangun perhatian, memperluas partisipasi, dan mendorong perubahan sosial dalam jangka panjang. Dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan gerakan merangkai dukungan, lalu menerjemahkan atensi menjadi tekanan dan perubahan yang lebih konkret.
Di tengah keterkaitan isu lingkungan dengan ekonomi, kesehatan, hak masyarakat, dan kebijakan publik, peran perempuan semakin tak terpisahkan. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan dapat menjadi penggerak, pengorganisasi, komunikator, hingga pengambil keputusan di berbagai level.
Dari ketinggian Monumen Selamat Datang, aksi para perempuan Greenpeace hari itu menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat: ketika ruang untuk bersuara tersedia, perempuan memiliki kekuatan untuk mengisinya—serta membuat isu yang mereka perjuangkan kian terlihat, terdengar, dan diperbincangkan luas.