Bukan Lagi Baju Kondangan, Batik Kini Jadi Identity Statement Anak Muda

Revania ImmanuelaDiterbitkan 20 Oktober 2026, 19:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernahkah kamu merasa kalau batik itu terkesan kaku, formal, dan cuma cocok dipakai saat menghadiri pesta pernikahan atau agenda resmi hari Jumat? Kalau jawabanmu “ya”, artinya kamu perlu memperbarui sudut pandangmu. Hari ini, batik telah mengalami metamorfosis luar biasa. Dari selembar kain warisan leluhur yang disimpan rapi di lemari tua, batik bertransformasi menjadi timeless fashion statement yang hidup, fleksibel, dan sangat lekat dengan keseharian generasi muda.

Fenomena menarik ini dibahas secara tuntas dalam podcast After Hours. Mengangkat tema keberlanjutan wastra, acara ini menghadirkan dua figur penting dalam ekosistem mode dan budaya Indonesia: Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, serta desainer muda berbakat, Wilsen Willim.

Pergeseran cara pandang terhadap batik ini tidak terjadi dalam semalam. Menurut Renitasari, upaya untuk membawa budaya ke dalam gaya hidup harian sudah diusahakan sejak bertahun-tahun lalu. Dulu, memakai batik kerap dibatasi oleh stempel “acara resmi” atau kebiasaan seragam mingguan. Namun kini, batas-batas kaku tersebut pelan-pelan mencair. Anak muda masa kini menyerap batik bukan karena paksaan, melainkan karena rasa bangga dan ekspresi diri.

Batik tidak lagi dipandang sebagai sekadar warisan sejarah yang berdebu di museum. Batik adalah kanvas hidup. Saat dikombinasikan dengan sneakers, jaket denim, atau dipotong dengan siluet yang modern, batik menjelma menjadi statement piece yang menunjukkan karakter penggunanya: menghargai akar budaya, namun tetap berpikiran terbuka dan relevan dengan zaman.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tradisi dalam Balutan Gaya Modern

Wilsen Willim. (Foto/Dok: KapanLagi.com)

Lantas, bagaimana sebuah karya seni tradisional bisa merambah panggung fashion modern tanpa kehilangan esensinya? Di sinilah peran desainer seperti Wilsen Willim menjadi sangat krusial. Dalam sesi diskusi, Wilsen membagikan sudut pandangnya saat mengolah kain batik menjadi sebuah koleksi pakaian ready-to-wear.

Bagi seorang desainer, lembaran batik bukan sekadar kain bermotif biasa. Di dalamnya terkandung cerita, ketelitian jari perajin, hingga nilai spiritual dari malam dan canting. Tantangan utamanya adalah bagaimana menerjemahkan keindahan tradisional tersebut ke dalam bahasa mode yang bisa diterima oleh pasar anak muda saat ini.

Salah satu kunci utamanya adalah keberanian dalam bereksplorasi dengan teknik pemotongan, pemilihan material pendamping, hingga permainan proporsi. Batik tidak selalu harus dijahit menjadi kemeja kaku atau kebaya klasik. Kain batik bisa dirancang menjadi oversized blazer, celana kulot yang nyaman untuk ke kantor, outerwear santai untuk hangout di akhir pekan, bahkan busana kasual untuk menonton festival musik.

Walaupun demikian, menjaga core essence atau inti keaslian batik tetap menjadi prioritas utama. Modifikasi gaya boleh saja dilakukan sebebas mungkin, tetapi proses dasar pembuatan batik seperti teknik cap atau tulis yang menggunakan perintang malam harus tetap dihormati. Kombinasi antara penghormatan pada pakem dan kebebasan berekspresi inilah yang membuat batik mampu bertahan melintasi berbagai tren mode dunia tanpa kehilangan identitas aslinya.

3 dari 3 halaman

Menggerakkan Roda Ekonomi dan Menjaga Keberlanjutan Pembatik

Renitasari Adrian. Foto/Dok: KapanLagi.com)

Lebih dari sekadar urusan tampil gaya di media sosial, keputusan anak muda untuk memakai batik secara harian membawa dampak yang jauh lebih besar: menjaga keberlanjutan ekosistem dan masa depan perajin lokal.

Dalam Fimela After Hour, Renitasari Adrian dan Wilsen Willim menyoroti bahwa regenerasi pembatik adalah isu nyata yang sedang kita hadapi. Jika generasi muda tidak ada yang mau membeli atau mengapresiasi batik, maka perajin di daerah akan kehilangan mata pencaharian, dan keahlian membatik terancam punah.

Saat kita membeli dan mengenakan batik baik karya maestro ternama maupun hasil karya pembatik muda daerah, kita sebenarnya sedang mengambil bagian dalam menggerakkan roda ekonomi lokal. Apresiasi dari konsumen muda memberikan kepastian bahwa profesi pembatik masih memiliki masa depan yang cerah dan dihargai tinggi secara ekonomi.

Langkah untuk mendukung pelestarian batik pun kini semakin mudah dan tidak perlu terasa membebankan. Kamu tidak harus langsung mengoleksi batik tulis seharga belasan juta rupiah. Memulai dari membeli aksesori kecil beraksen batik, memilih busana kasual dari merek lokal yang memberdayakan perajin daerah, hingga bangga memakainya ke tempat kerja atau kafe favorit sudah merupakan langkah nyata.

Pada akhirnya, menjadikan batik sebagai timeless fashion statement adalah tentang merayakan identitas kita sendiri. Batik bukan lagi tentang masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita membawa warisan bernilai tinggi tersebut berjalan berdampingan dengan gaya hidup masa kini dan masa depan.

Ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana batik menjadi bagian dari gaya hidup modern tanpa kehilangan nilai tradisinya? Saksikan selengkapnya di YouTube Fimela dan KapanLagiDotCom melalui podcast “Batik From Heritage to Timeless Fashion Statement”. Kamu juga bisa menontonnya melalui Vidio.com!