Mengenal Split-Shift Parenting, Cara Pasangan Bekerja Berbagi Peran dalam Mengasuh Anak

Devita AdyaDiterbitkan 21 Oktober 2026, 17:33 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjalani peran sebagai orangtua sekaligus pekerja bukanlah hal yang selalu mudah. Pasangan perlu membagi waktu antara pekerjaan, kebutuhan anak, urusan rumah tangga, dan waktu untuk beristirahat. Ketika jadwal kerja keduanya sulit diselaraskan, split-shift parenting dapat menjadi salah satu pola pengasuhan yang dipertimbangkan.

Dilansir dari European Societies, pengaturan kerja bergantian atau split-shift dapat terjadi ketika salah satu orang tua bekerja pada jam yang berbeda dari pasangannya. Pola ini memungkinkan orangtua menyusun jadwal agar salah satu dari mereka dapat mendampingi anak ketika pasangannya sedang bekerja.

Dalam praktiknya, pembagian tersebut bisa dilakukan dengan menyesuaikan jam kerja, misalnya satu orangtua bekerja pada pagi hingga sore hari, sementara pasangannya bekerja pada sore atau malam hari. Dengan begitu, kebutuhan pengasuhan anak dapat diatur tanpa selalu bergantung pada bantuan pengasuh atau penitipan anak.

Meski demikian, split-shift parenting bukan berarti pasangan harus terus bergantian tanpa waktu bersama. Pola ini membutuhkan kesepakatan, komunikasi, serta pembagian tanggung jawab yang jelas agar kebutuhan anak tetap terpenuhi dan kedua orang tua memiliki kesempatan beristirahat.

2 dari 3 halaman

Hal yang Perlu Disepakati Pasangan Bekerja

Pembagian jadwal pengasuhan dapat membantu pasangan bekerja mengatur rutinitas keluarga (Foto/Dok: Pexels)

Menerapkan split-shift parenting membutuhkan perencanaan yang matang agar pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga dapat berjalan seimbang. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mendiskusikan jadwal kerja masing-masing pasangan. Kenali waktu tersibuk, jam pulang, serta kebutuhan anak sehari-hari, mulai dari waktu makan, mandi, belajar, hingga tidur.

Setelah itu, buat pembagian tugas yang jelas. Misalnya, orangtua yang bekerja pada pagi hari dapat menyiapkan kebutuhan anak sebelum berangkat, sedangkan pasangan yang memiliki waktu lebih fleksibel bisa mengambil alih pengasuhan pada sore hari. Pembagian ini sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keluarga, bukan berdasarkan anggapan bahwa tugas tertentu hanya menjadi tanggung jawab ibu atau ayah.

Komunikasi juga penting agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pasangan dapat membuat jadwal mingguan dan melakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah pembagian waktu tersebut masih efektif. Jika salah satu merasa kewalahan, keduanya perlu terbuka untuk menyesuaikan kesepakatan.

Selain mengurus kebutuhan anak, jangan lupakan pekerjaan rumah tangga yang juga membutuhkan perhatian. Memasak, membersihkan rumah, dan menyiapkan perlengkapan anak dapat dibagi sesuai kemampuan masing-masing. Dengan perencanaan yang realistis, split-shift parenting dapat menjadi strategi untuk mengelola tanggung jawab keluarga secara lebih teratur.

3 dari 3 halaman

Tantangan Split-Shift Parenting yang Perlu Diperhatikan

Pasangan perlu menjaga kualitas hubungan, waktu istirahat, dan kedekatan dengan anak. (Foto/Dok: Pexels)

Di balik manfaatnya, split-shift parenting juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Ketika pasangan bekerja pada jadwal berbeda, waktu untuk bertemu dan berkomunikasi bisa menjadi lebih terbatas. Jika tidak diatur dengan baik, kondisi ini berpotensi membuat salah satu atau kedua orang tua merasa kelelahan karena tanggung jawab pekerjaan dan pengasuhan terus berjalan bergantian.

Karena itu, penting untuk menyediakan waktu khusus bagi keluarga. Momen sederhana seperti sarapan bersama, membaca buku sebelum tidur, atau menghabiskan akhir pekan bersama dapat membantu menjaga kedekatan orang tua dan anak. Kualitas interaksi tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu bersama, tetapi juga perhatian yang diberikan ketika sedang berinteraksi.

Pasangan juga perlu memperhatikan kebutuhan istirahat masing-masing. Jadwal yang terlalu padat tanpa waktu pemulihan dapat membuat pengasuhan terasa semakin berat. Jika memungkinkan, manfaatkan bantuan keluarga tepercaya atau layanan penitipan anak untuk memberikan ruang istirahat bagi kedua orangtua.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan sebagai pasangan. Luangkan waktu untuk berbicara mengenai kondisi emosional, kebutuhan pribadi, dan pembagian tanggung jawab tanpa saling menyalahkan.

Pada akhirnya, split-shift parenting bukan tentang membagi waktu secara sempurna, melainkan menemukan pola yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Dengan komunikasi terbuka dan fleksibilitas, pasangan dapat bekerja sama menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih nyaman bagi anak maupun orang ua.