Social Climbing: Saat Gengsi Finansial Membuat Pengeluaran Melebihi Kemampuan

najwa maulidinaDiterbitkan 24 Oktober 2026, 14:42 WIB

Fimela.com, Jakarta - Tampil menarik dan mengikuti tren terkini memang bisa menjadi cara untuk mengekspresikan diri. Mulai dari membeli pakaian terbaru, menggunakan tas yang sedang populer, hingga nongkrong di tempat yang ramai dibicarakan. Namun, keinginan untuk terlihat berkelas dan menjaga gengsi finansial bisa menjadi masalah ketika seseorang merasa harus mengikuti gaya hidup tertentu demi mendapatkan pengakuan sosial, meskipun pengeluaran untuk menunjang penampilan mulai melampaui pendapatan. Inilah salah satu situasi yang kerap dikaitkan dengan fenomena social climbing.

Dilansir dari Columbia Business School, perasaan tertinggal secara finansial dibandingkan orang lain dapat mendorong seseorang meningkatkan pengeluaran untuk barang-barang yang menunjukkan status sosial. Artinya, keputusan belanja tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh keinginan untuk merasa setara dengan lingkungan sekitar.

Dalam kehidupan sehari-hari, dorongan untuk menjaga gengsi finansial bisa muncul ketika melihat teman menggunakan barang bermerek atau mengunggah pengalaman mewah di media sosial. Tanpa sadar, seseorang mulai merasa perlu mengikuti standar yang sama agar terlihat mampu secara ekonomi dan tidak dianggap tertinggal. Keinginan untuk mempertahankan citra finansial ini bisa membuat seseorang rela mengeluarkan uang lebih banyak demi menunjukkan gaya hidup tertentu. Padahal, kondisi keuangan setiap orang tentu berbeda sehingga penting untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan finansial masing-masing.

Masalahnya, keinginan untuk menjaga citra tidak selalu berhenti pada satu pembelian. Setelah membeli pakaian baru, muncul keinginan untuk memiliki aksesori yang cocok, mencoba tempat populer, atau mengikuti tren berikutnya. Jika terus dituruti, pengeluaran kecil yang berulang dapat menghabiskan sebagian besar pendapatan. Bukan berarti membeli barang bagus atau merawat penampilan merupakan sesuatu yang salah. Hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut. Jika belanja dilakukan terutama karena takut dinilai kurang mampu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali prioritas keuangan.

2 dari 3 halaman

Terjebak Gaya Hidup Demi Pengakuan, Ini Dampak Social Climbing bagi Keuangan

Memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain dapat membuat tabungan menipis dan kebutuhan utama terabaikan. (Foto/Dok: Pexels)

1. Uang untuk Kebutuhan Utama Ikut Terpakai

Salah satu dampak yang paling mudah terasa adalah berkurangnya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Demi membeli barang yang sedang populer, seseorang mungkin mengurangi anggaran makan, transportasi, atau kebutuhan penting lainnya. Padahal, kebutuhan tersebut seharusnya menjadi prioritas sebelum pengeluaran untuk menunjang gaya hidup.

Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, kondisi keuangan bisa menjadi semakin sulit dikendalikan. Penghasilan yang sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan justru terasa selalu kurang karena sebagian dialihkan untuk menjaga penampilan.

2. Tabungan Sulit Bertambah

Keinginan mengikuti tren juga bisa membuat rencana menabung terus tertunda. Setiap kali ada produk baru atau ajakan hangout, uang yang seharusnya disisihkan untuk dana darurat malah digunakan untuk berbelanja. Akibatnya, seseorang mungkin memiliki banyak barang yang terlihat menarik, tetapi tidak mempunyai simpanan ketika menghadapi kebutuhan mendadak. Situasi ini tentu dapat menimbulkan kecemasan, terutama saat ada pengeluaran yang tidak direncanakan.

3. Berisiko Mengandalkan Utang

Ketika pendapatan tidak lagi mencukupi, sebagian orang mungkin tergoda menggunakan kartu kredit atau layanan paylater agar tetap bisa mengikuti gaya hidup yang diinginkan. Pada awalnya, cicilan terlihat ringan. Namun, jika digunakan berulang kali tanpa perhitungan, tagihan dapat menumpuk dan membebani pendapatan berikutnya.

4. Selalu Merasa Kurang

Ada pula dampak emosional yang sering luput diperhatikan. Setelah berhasil membeli satu barang, muncul keinginan untuk memiliki barang lain yang dianggap lebih bagus. Kepuasan yang didapatkan pun hanya berlangsung sebentar.

Jika ukuran keberhasilan terus didasarkan pada apa yang dimiliki orang lain, seseorang akan sulit merasa cukup. Padahal, penampilan yang terlihat mewah tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sehat. Karena itu, penting untuk membedakan keinginan pribadi dengan tekanan sosial yang muncul dari lingkungan.

3 dari 3 halaman

Cara Lepas dari Jebakan Social Climbing Tanpa Harus Berhenti Tampil Menarik

Menentukan anggaran, mengenali kebutuhan, dan membatasi kebiasaan membandingkan diri dapat membantu menjaga keseimbangan finansial. (Foto/Dok: Pexels)

1. Kenali Kondisi Keuangan Sendiri

Langkah pertama untuk keluar dari jebakan social climbing adalah memahami kemampuan finansial. Catat jumlah pendapatan, kebutuhan rutin, tabungan, dan pengeluaran untuk hiburan atau penampilan. Dari sana, kalian bisa mengetahui berapa banyak uang yang aman digunakan untuk berbelanja tanpa mengganggu kebutuhan utama. Tidak perlu mengikuti standar pengeluaran orang lain karena setiap orang mempunyai kondisi dan prioritas berbeda.

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya ingin dimiliki karena sedang populer? Beri jeda sebelum melakukan pembelian, terutama ketika barang yang diincar memiliki harga cukup tinggi. Cara ini dapat membantu mengurangi belanja impulsif dan memberi waktu untuk mempertimbangkan apakah pembelian tersebut benar-benar sepadan.

3. Bangun Gaya Personal yang Sesuai

Tampil menarik tidak selalu berarti harus membeli barang baru atau menggunakan produk mahal. Bisa memadukan pakaian yang sudah dimiliki, memilih warna yang mudah dipadukan, serta merawat barang agar dapat digunakan lebih lama. Gaya personal justru dapat terbentuk ketika seseorang memahami apa yang membuatnya nyaman, bukan sekadar mengikuti tren yang berganti setiap saat.

4. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri

Media sosial sering menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, mulai dari barang yang dikenakan hingga tempat yang dikunjungi. Namun, apa yang terlihat di layar tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi finansialnya. Alih-alih menjadikan unggahan orang lain sebagai standar hidup, gunakan media sosial sebagai sumber inspirasi yang bisa disesuaikan dengan kemampuan diri sendiri.

Pada akhirnya, menjaga penampilan dan mengelola keuangan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Sahabat Fimela tetap bisa tampil percaya diri tanpa memaksakan diri memenuhi ekspektasi orang lain. Sebab, nilai diri tidak ditentukan oleh harga barang yang dikenakan, melainkan juga oleh kemampuan mengenali kebutuhan dan mengambil keputusan yang bijak.