Franck Muller Ungkap Keindahan Skeletonisation, Ketika Mekanisme Jam Tangan Menjadi Karya Seni

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 30 Oktober 2026, 14:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Dalam dunia haute horlogerie, keindahan sebuah jam tangan tidak hanya terletak pada desain case, dial, maupun kilauan precious stones yang menghiasinya. Ada keindahan lain yang tersembunyi di balik setiap komponen mekanis, mulai dari movement, bridges, hingga susunan roda gigi yang bekerja secara presisi. Melalui seni skeletonisation, Franck Muller mengajak para pencinta horologi untuk melihat lebih dekat kompleksitas tersebut melalui tiga kreasi istimewa yang memperlihatkan interpretasi berbeda dari teknik openworking.

Dikenal sebagai Master of Complications, Franck Muller menghadirkan skeletonisation bukan sekadar sebagai elemen dekoratif, melainkan sebuah pencapaian teknis dalam dunia watchmaking. Proses ini dilakukan dengan mengurangi material pada movement hingga menyisakan struktur esensialnya, tanpa mengorbankan kekuatan, reliabilitas, maupun performa. Setiap bridge dan plate harus dirancang ulang secara cermat agar tetap berfungsi optimal sekaligus menciptakan komposisi visual yang harmonis. Hasilnya, movement yang biasanya tersembunyi di balik dial justru menjadi pusat perhatian.

1. Long Island Evolution Master Jumper Skeleton: Kompleksitas Mekanis yang Terbuka

Menghadirkan skeletonisation dalam bentuk paling teknis, Long Island Evolution Master Jumper Skeleton memperlihatkan kompleksitas triple jumping complication pertama Franck Muller. Jam tangan ini memiliki lima synchronised discs yang bekerja secara bersamaan untuk menampilkan jam, menit, dan tanggal melalui mekanisme instantaneous display.

Ditenagai in-house calibre MVT 3100-L, tantangan terbesar pada movement ini adalah memastikan ketiga indikator dapat melakukan lompatan secara presisi, terutama ketika seluruh tampilan harus berubah secara bersamaan pada pergantian hari. Untuk menjawab tantangan tersebut, Franck Muller mengembangkan double-barrel architecture. Satu barrel menggerakkan movement dan date mechanism, sementara barrel lainnya didedikasikan untuk jumping hour dan minute displays.

Keindahan teknisnya semakin terlihat melalui konstruksi openworked yang memperlihatkan lima display discs serta roda penggeraknya. Mengusung case berukuran 35,3 mm dengan kombinasi black PVD-treated brushed titanium dan rose gold bezel, kreasi ini juga menggunakan sapphire crystal yang memberikan dimensi visual lebih dalam. Model terbarunya hadir dengan perpaduan rose gold inner case dan black PVD-treated titanium outer case, menghadirkan karakter arsitektural yang tegas.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Round Triple Mystery Skeleton: Ilusi yang Memperlihatkan Mekanisme di Baliknya

Untuk pertama kalinya dalam koleksi Mystery, Franck Muller menghadirkan interpretasi full skeletonisation melalui Round Triple Mystery Skeleton. / Foto dok: Franck Muller.

Untuk pertama kalinya dalam koleksi Mystery, Franck Muller menghadirkan interpretasi full skeletonisation melalui Round Triple Mystery Skeleton. Jam tangan ini menawarkan perspektif baru terhadap signature handless display yang selama ini dikenal dengan efek visual seolah-olah indikator waktu bergerak tanpa mekanisme yang terlihat.

Ditenagai in-house calibre MVD 2800-TMY dengan automatic movement dan 42-hour power reserve, jam tangan ini menggunakan tiga rotating discs independen untuk menampilkan jam, menit, dan detik. Menariknya, central seconds disc memiliki bobot hanya 0,052 gram, memperlihatkan tingkat presisi luar biasa dalam proses pembuatannya.

Ketiga discs menampilkan motif geometris terinspirasi dari spirograph yang menciptakan permainan cahaya dan gerakan. Kemewahannya semakin terasa melalui white gold case berdiameter 39 mm yang dihiasi 120 brilliant-cut diamonds seberat 3,9 carats. Sementara itu, hour dan minute discs dipercantik dengan 281 brilliant-cut diamonds. Kreasi ini juga menjadi finalis kategori Gemset dalam Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) 2026.

Sesi touch and feed bersama Franck Muller. / Foto dok: Franck Muller.
3 dari 4 halaman

Vanguard Curvex Cut Flower: Keindahan Bunga dalam Arsitektur Movement

Vanguard Curvex Cut Flower menghadirkan interpretasi skeletonisation yang lebih puitis. / Foto dok: Franck Muller

Berbeda dari dua kreasi sebelumnya yang menonjolkan kompleksitas mekanis, Vanguard Curvex Cut Flower menghadirkan interpretasi skeletonisation yang lebih puitis. Pada jam tangan ini, bridges yang biasanya berfungsi sebagai komponen struktural movement diolah menyerupai batang bunga, menciptakan komposisi floral yang menyatu dengan mekanisme jam.

Dibalut rose gold Vanguard case, dial-nya dihiasi tiga bunga berukuran besar dan tiga bunga kecil yang tampak melayang di atas movement. Terdapat 36 Curvex Cut™ pink sapphire petals dengan desain 73-facet geometry, dilengkapi enam brilliant-cut diamonds sebagai pusat bunga.

Keindahan tersebut didukung in-house MVT FM 1540-VS3, sebuah manually wound skeleton movement dengan four-day power reserve. Transparansi konstruksinya memungkinkan cahaya menembus movement dari berbagai sudut, memperlihatkan kedalaman dan detail setiap komponennya.

Vanguard Curvex Cut Flower juga tersedia dalam variasi ruby, emerald, sapphire, dan diamond, termasuk Color Dreams edition dengan kombinasi precious stones warna-warni. Kreasi ini turut menjadi finalis kategori Jewellery pada GPHG 2026.

Melalui ketiga kreasi tersebut, Franck Muller memperlihatkan bahwa skeletonisation memiliki ruang eksplorasi yang begitu luas. Dari kompleksitas triple jumping complication, ilusi Mystery display, hingga komposisi bunga yang artistik, setiap jam tangan membuktikan bahwa keunggulan haute horlogerie tidak hanya terletak pada ketepatan waktu, tetapi juga pada kemampuan mengubah mekanisme teknis menjadi sebuah karya seni yang dapat dinikmati secara visual.

4 dari 4 halaman

Workshop hand-painting jam tangan Crazy Hours

Workshop hand-painting jam tangan Crazy Hours, salah satu produk terpopuler dari Franck Muller. / Foto dok: Franck Muller.

Dalam acara ini, tersedia juga mini workshop corner, pembuatan jam tangan Franck Muller yang menampilkan proses langsung hand-painting yang sangat teliti, pada pelat jam (dial) khas dari koleksi ikonik Crazy Hours. Dalam acara ini turut hadir, seorang ahli pembuat jam yang terlihat menggunakan mikroskop presisi untuk mengaplikasikan detail warna secara manual pada angka-angka unik koleksi jam tangan Crazy Hours.