Sukses

Beauty

Bukan Operasi Plastik, Kini Prosedur Non-Invasif Seperti Skin Booster hingga Pico Laser Lebih Diminati untuk Hasil Wajah Cantik Natural

Fimela.com, Jakarta - Industri estetika medis mengalami pergeseran besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu prosedur kecantikan identik dengan perubahan drastis atau transformasi wajah yang terlihat jelas, kini semakin banyak orang justru mencari hasil yang halus, natural, dan hampir tidak terdeteksi. Bukan lagi tentang terlihat berbeda, melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Tren ini dikenal sebagai natural-looking aesthetic, sebuah pendekatan peremajaan yang berfokus pada kualitas kulit, kesehatan jaringan, dan keseimbangan wajah tanpa mengubah karakter asli seseorang. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan prosedur medis serta gaya hidup preventif, pilihan terhadap tindakan non-invasif pun semakin diminati dibanding prosedur invasif seperti operasi.

Dokter spesialis dermatologi dan estetika melihat perubahan pola pikir pasien yang cukup signifikan. Jika sebelumnya banyak pasien datang dengan referensi wajah selebriti atau keinginan perubahan bentuk tertentu, kini mayoritas justru menginginkan tampilan yang segar, sehat, dan awet muda tanpa terlihat “diapa-apakan”.

Pendekatan modern dalam peremajaan kulit juga menekankan bahwa penuaan bukan hanya terjadi di permukaan kulit, tetapi juga pada lapisan yang lebih dalam. Penurunan kolagen, elastin, pergeseran bantalan lemak wajah, serta melemahnya jaringan penopang menjadi faktor utama munculnya tanda penuaan seperti kulit kendur dan garis halus.

Chief Medical & Ancillary Services Officer Bamed, dr. Adhimukti T. Sampurna, Sp.D.V.E, Subsp. O.B.K, FINSDV, FAADV, menjelaskan bahwa konsep peremajaan modern sebenarnya bukan tentang melawan usia secara ekstrem.

“Rejuvenation is not just anti-aging. Banyak orang masih terjebak dalam paradigma bahwa estetika adalah upaya melawan waktu secara paksa. Padahal, modern rejuvenation bertujuan untuk improve skin quality, bukan mengubah bentuk atau shape wajah seseorang menjadi orang lain,” jelasnya dalam acara media gathering pada (25/2) di ASHTA District 8.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama perawatan estetika adalah membuat pasien tetap terlihat seperti versi terbaik dari diri mereka sendiri, bukan menjadi sosok yang asing di cermin.

Non-Invasif Jadi Pilihan karena Minim Risiko dan Downtime

Selain faktor estetika, pertimbangan keamanan juga menjadi alasan utama meningkatnya minat terhadap prosedur non-invasif. Tindakan tanpa operasi umumnya memiliki risiko komplikasi lebih rendah, waktu pemulihan lebih singkat, dan dapat dilakukan tanpa mengganggu aktivitas harian.

Perawatan berbasis teknologi energi seperti radiofrequency kini banyak digunakan karena mampu merangsang kolagen dari dalam jaringan kulit. Menurut dr. Riva Ambardina Pradita, Sp.D.V.E, proses penuaan wajah memang terjadi hingga ke struktur dalam kulit sehingga pendekatan peremajaan tidak lagi cukup hanya dari permukaan.

“Penguatan struktur kulit dari dalam kini menjadi kunci, terutama melalui pemanfaatan teknologi energy-based lifting & tightening. Teknologi ini memungkinkan stimulasi kolagen di lapisan dermis hingga jaringan penunjang kulit, sehingga menghasilkan efek pengencangan yang lebih alami, bertahap, dan tahan lama. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren natural-looking rejuvenation yang semakin diminati masyarakat,” ujarnya.

Adapun jenis prosedur estetika yang populer antara lain injectables (skin booster & biostimulators), energy-based devices (MIFU-V & RF Microneedling), dan laser (pico laser).

Perawatan Kombinasi untuk Hasil Lebih Natural

Pendekatan estetika modern juga tidak lagi mengandalkan satu jenis prosedur saja. Peremajaan kulit kini dilakukan melalui kombinasi teknologi yang bekerja di berbagai lapisan kulit, mulai dari warna, tekstur, hingga struktur penopang.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Bamed, dr. Caroline Oktarina, Sp.D.V.E, menjelaskan bahwa setiap teknologi memiliki target lapisan yang berbeda sehingga kombinasi perawatan sering kali memberikan hasil lebih optimal.

“Kulit dapat dianalogikan seperti sebuah bangunan yang tersusun dari banyak lapisan. Untuk mendapatkan hasil peremajaan yang optimal, kita tidak bisa hanya memperbaiki bagian luarnya saja, tetapi juga perlu memperkuat struktur di bagian dalam sehingga sangat penting melakukan pendekatan combination protocol antara laser dan energy-based device,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa personalisasi perawatan menjadi faktor penting karena tidak ada satu prosedur yang cocok untuk semua orang. Analisis kondisi kulit, usia biologis, hingga gaya hidup pasien menentukan terapi yang paling tepat.

Tren natural-looking aesthetic mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap kecantikan. Standar kecantikan yang dulu cenderung seragam kini bergeser menjadi lebih personal dan realistis. Kepercayaan diri tidak lagi berasal dari transformasi drastis, melainkan dari rasa nyaman dengan diri sendiri.

Pendekatan non-invasif juga menunjukkan bahwa estetika medis semakin terintegrasi dengan konsep kesehatan jangka panjang. Kulit yang sehat, metabolisme yang baik, serta gaya hidup seimbang menjadi bagian dari definisi kecantikan modern.

Pada akhirnya, tujuan terbesar dari perawatan estetika bukanlah mengubah siapa diri seseorang, tetapi membantu mereka terlihat segar, sehat, dan percaya diri, tanpa kehilangan karakter wajah yang membuat mereka unik.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading