Sukses

Beauty

Tak Harus Mengubah Wajah, Ini Pentingnya Konsultasi Sebelum Menjalani Perawatan Estetika

Fimela.com, Jakarta - Di tengah banyaknya referensi kecantikan yang berseliweran di media sosial, keinginan untuk mencoba perawatan estetika semakin mudah muncul. Bentuk wajah, bibir, hingga kontur tertentu yang sedang menjadi tren dapat menjadi inspirasi. Namun, apa yang terlihat cocok pada orang lain belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan pada wajah sendiri.

Karena itu, sebelum memutuskan menjalani perawatan estetika, mengenali kebutuhan dan karakter wajah menjadi langkah yang tidak kalah penting. Bagi dr. Abdul Wahid Mufti, pendiri Mufti Clinic, konsultasi bukan sekadar tahap sebelum tindakan, melainkan ruang bagi pasien untuk memahami keinginannya sekaligus mengetahui pilihan yang realistis untuk kondisi wajahnya.

“Wajah adalah identitas kita. Bagi saya, hasil yang natural adalah hasil yang selaras dengan karakter wajah pasien. Karena itu, percakapan perlu dimulai dari apa yang ingin dicapai pasien dan apa yang realistis untuk diupayakan,” ujar dr. Mufti.

Dalam praktiknya, dr. Mufti menemukan bahwa alasan seseorang ingin menjalani perawatan estetika bisa sangat beragam. Sebagian pasien ingin merespons perubahan wajah yang muncul seiring bertambahnya usia, sementara lainnya ingin merasa lebih nyaman dengan penampilan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

 

Ketika Tren Kecantikan Bertemu Karakter Wajah

Perbedaan tujuan tersebut membuat pendekatan perawatan tidak bisa disamaratakan. Referensi dari media sosial, menurut dr. Mufti, tetap dapat menjadi bahan awal untuk memahami keinginan pasien. Namun, referensi tersebut perlu dibicarakan kembali berdasarkan kondisi dan karakter wajah masing-masing.

“Pasien bisa membawa referensi, dan itu membantu saya memahami keinginannya. Selanjutnya, kami perlu membicarakan kesesuaiannya dengan karakter wajah, batas hasil yang dapat diupayakan, serta risiko dan pemulihannya. Hasil yang diharapkan perlu dipahami bersama sejak awal,” jelasnya.

Perspektif ini menjadi semakin relevan ketika tren kecantikan terus berubah. Apa yang populer hari ini belum tentu menjadi standar kecantikan beberapa tahun mendatang. Alih-alih menjadikan wajah orang lain sebagai patokan, konsultasi dapat menjadi kesempatan untuk memahami fitur wajah yang menjadi ciri khas diri sendiri.

Face Contouring Tidak Selalu Berarti Perubahan Drastis

Ketertarikan dr. Mufti pada dunia estetika bermula dari kedekatannya dengan sang istri yang memiliki ketertarikan pada kecantikan dan perawatan diri. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi pada 2015 dan mulai berpraktik pada 2017, ia kemudian mendirikan Mufti Clinic pada 3 September 2018 dengan fokus pada face contouring nonbedah.

Sepanjang perjalanan praktiknya, ia menempatkan komunikasi sebagai bagian penting dalam mendampingi pasien. Menurutnya, permintaan untuk mengubah atau memperbaiki area tertentu pada wajah perlu dilihat lebih jauh: apa alasan di balik keinginan tersebut, seperti apa hasil yang diharapkan, serta apakah pasien sudah siap menjalani prosesnya.

Face contouring juga tidak selalu harus menghasilkan perubahan bentuk wajah yang mencolok. Dalam pendekatan dr. Mufti, perhatian justru diberikan pada proporsi dan keselarasan wajah, termasuk menghindari penggunaan produk secara berlebihan.

Dengan demikian, hasil perawatan estetika dapat tetap mempertahankan karakter wajah seseorang, alih-alih membuatnya terlihat seperti mengikuti satu standar kecantikan tertentu.

 

Tiga Hal yang Perlu Dibawa Saat Konsultasi

Bagi masyarakat yang baru mempertimbangkan perawatan estetika, dr. Mufti membagikan beberapa hal yang dapat dipersiapkan sebelum datang ke ruang konsultasi.

1. Kenali tujuan pribadi

Sampaikan dengan jelas bagian wajah yang menjadi perhatian serta perubahan yang diharapkan. Tujuan yang spesifik dapat membantu dokter dan pasien membicarakan pilihan perawatan sekaligus memahami batas hasil yang mungkin dicapai.

2. Ceritakan riwayat medis dan jangan ragu bertanya

Konsultasi merupakan kesempatan untuk menyampaikan kondisi kesehatan, riwayat perawatan atau tindakan sebelumnya, serta hal-hal yang masih belum dipahami. Pasien juga perlu mendapatkan informasi mengenai risiko dan proses pemulihan sebelum mengambil keputusan.

3. Pertimbangkan waktu pemulihan dan anggaran

Jika terdapat beberapa bagian yang ingin ditangani, diskusikan prioritasnya. Rencana perawatan sebaiknya juga mempertimbangkan aktivitas sehari-hari, agenda penting, waktu pemulihan, serta anggaran yang tersedia.

“Untuk pasien yang baru pertama kali mempertimbangkan perawatan, saya menyarankan agar tujuan pribadinya disampaikan dengan jelas. Jika ada beberapa tindakan yang dibahas, tanyakan mana yang menjadi prioritas, bagaimana risikonya, dan berapa waktu pemulihan yang perlu disiapkan,” kata dr. Mufti.

Salah satu hal penting dalam konsultasi estetika adalah memberikan waktu bagi pasien untuk mempertimbangkan keputusan. Menurut dr. Mufti, kesiapan pasien menjadi bagian dari perencanaan tindakan. Dalam kondisi tertentu, tindakan bahkan dapat disarankan untuk ditunda, misalnya ketika pasien sedang tidak dalam kondisi fit atau waktu pemulihan terlalu berdekatan dengan agenda penting.

Di Mufti Clinic, pembahasan sebelum tindakan mencakup ekspektasi hasil dan risiko. Setelah prosedur, kondisi pasien juga dipantau selama masa pemulihan dan dapat dilakukan evaluasi kembali apabila diperlukan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading