Sukses

Fashion

Diary Fimela: Dari Kopi hingga Fashion, Catherine Halim Mulai Rintis Bisnis Sejak Usia 16 Tahun

Fimela.com, Jakarta Tidak semua orang berani terjun ke dunia bisnis. Bahkan banyak yang lebih memilih bekerja sebagai pegawai kantoran dengan risiko yang lebih minim. Namun rupanya, tidak bagi Catherine Halim. Perempuan muda di balik kesuksesan KISAKU dan label fashion baru yang ia luncurkan yaitu, Snugg.

Perempuan lulusan University of Sidney, Bachelor of Commerce, Finance and Marketing, ini memanag sudah tertarik dengan dunia bisnis dan marketing sejak lama. Bahkan menurutnya, banyak hasil pembelajaran semasa kuliah yang bisa ia terapkan di dalam kehidupaan sehar-hari. Hal tersebut terbukti saat ia memasuki dunia bisnis.

Kariernya dimulai pada sembilan tahun lalu. Kala itu, Catherine Halim berkesempatan magang di dua bank multinasional. Lalu, ia pun juga pernah menjaadi Relationship Manager di HSBC. Pengalamannya tersebut yang membuat ia belajar tentang berjejaring dengan para klien dari ragam industri. Lalu ia juga pernah menjadi Head of Marketing di Ride Jakarta dan kini ia membangun kedai kopi KISAKU dan merek pakaian Snugg. 

Tertarik bisnis sejak remaja

Ternyata, ketertaraikannya di dunia bisnis di mulai sejak ia remaja. bahkan ia juga mengaku mulai mencoba berjualan sejak usianya 16 tahun. "ketika masih berusia 16 tahun, saya sudah mulai mencoba berjualan dalam skala kecil. Saya juga sangat suka melihat perkembangan perusahaan yang saya bangun dari nol, berawal dari sketsa kasar hingga menjadi sebuah bisnis yang bisa memberikan keuntungan. Saya juga menikmati proses mengembangkan dan melakukan mentoring sumber daya manusia, karena saya percaya bahwa SDM adalah kekuatan terbesar dari sebuah perusahaan. Bahkan bisa dikatakan bahwa karyawan adalah inti kesuksesan dari setiap bisnis." ungkapnya.

Bahkan ia juga sadar jika Indonesiaa memiliki banyak potensi bisnis yang bis berkembaang secara global, sehingga ia antusias untuk berkolaborasi dengan sesama merek lokal agar bisa maju ke pasar internasional. Dari bisnis kopi dan merambah ke fashion, Catherine mengaku jika ia cinta dengan dunia fashion. Apalagi di saat ia bertemu dengan merek yang sangat mementingkan kualitas kain, desain, dan kerapian jahitan baju.

"Saya orangnya sangat memerhatikan detail dan cenderung perfeksionis. Saya juga melihat ada banyak merek fashion lokal yang memiliki potensi bagus dengan kualitas yang sudah terjaga, serta desain yang menarik. Sayangnya yang bisa masuk ke pasar internasional masih sedikit." Cerita Catherine.

Mendirikan Snugg bersama Elisabeth Kurniawan

Oleh sebab itu, ia meggandeng Elisabeth Kurniawan, yang memiliki pengalaman 13 tahun di bidang consumer tech dan retail, untuk mendirikan Snugg. Keduanya percaya bahwa industri fashion Indonesia memiliki potensi besar untuk masuk ke pasar internasional. Dan ini yang ingin mereka wujudkan bersama Snugg.

Dengan kompetisi bisnis yang intens, maka Snugg berusaha untuk menyajikan produk secara konsisten dengan kualitas terbaik, agar bisa menonjol. Bahkan, ia juga memperkuat branding, sehingga dengan membeli produk maka konsumen aakan benar-benar tahu kelebihanya.

Produk Snugg memiliki keistimewaan tersendiri seperti anti air, anti bau, dan anti bakteri, agar dapat menonjol dibanding merek sejenis. Selain itu kami juga selalu berusaha meningkatkan brand awareness dengan cara berkolaborasi bersama para fashion enthusiast seperti Kallula dan Ayla Dimitri, agar merek ini dapat semakin dikenal oleh masyarakat luas. Sehingga nantinya, kami bisa memperkenalkannya ke pasar internasional.

Tetap optimis meskipun diluncurkan di masa pandemi

Meskipun diluncurkan di tengah pandemi, namun Catherine melihat jika perilaku konsumen perlahan berubah. Orang-orang mulai mencari produk berkualitas agar produk yang mereka beli bisa memberikan kenyamanan saat di rumah saja. Produknya juga tahan lama, oleh karena itu, ia sangat optimis saat meluncurkan Snugg.

Mengingat dengan KISAKU Catherine menjalankan inisiasi ramah lingkungan, konsep tersebut juga diterapkan pada Snugg. Di mulai dari memperhatikan kualitas produk yang menjadikannya lebih tahan lama dan menerapkan konsep slow fashion.

"Snugg tidak mementingkan kecepatan produksi, melainkan kualitas produk, waktu pemakaian produk yang lebih lama, dan daya tahan produk yang lebih baik. Bagi Snugg, tren bukan segalanya, karena kami lebih memilih untuk menciptakan sebuah lini pakaian yang klasik, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat." Ucapnya. 

Selain itu produk Snugg juga telah dibuat dengan kualitas sesuai dengan standar ekspor, agar ketika saatnya tiba, Snugg juga bisa menembus pasar global secara lebih mudah. Snugg juga mengadaptasi teknologi, sehingga produknya berbeda dengan yang lain. Selain teknologi anti air, anti bau, anti bakteri dalam satu paket, Snugg juga hadir dengan warna custom mde, sehinggaa tidak ditemukan pda merek pakaian lain.

Saat ditanya mengenai plagiator, Catherine tidak takut akan hal tersebut karena menurutnya plagiat adalah pujian terhadap suatu produk. Hal ini berarti produknya memang bagus sehingga membuat orang lain ingin menirunya. Bahkan Catherine juga menilai jika lebih baik menjadikan kompetitor sebagai motivator, sehingga ia bisa menciptakan inovasi produk lainnya di kemudian hari.

Meskipun Snugg adalah sebuah brand baru, Catherene ingin tingkatkan brand awareness Snugg melalui kolaborasi dengan merek lokal Indonesia lainnya. Selain itu, Snugg juga terus mencari kesempatan agar bisa masuk ke pasar internasional.

 

#Elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Kisah Node, Luncurkan Koleksi Sepatu Terbatas Berdesain Fauna Langka Khas Indonesia
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Gebrakan XR Sebagai Produk Perawatan Kulit Lokal Berformulasi Genderless