Sukses

Health

Ileus Paralitik, Gangguan Usus yang Perlu Diwaspadai dan Cara Mengatasinya

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasakan perut tiba-tiba sangat kembung, penuh, atau seperti “nggak bergerak sama sekali”? Banyak orang mengira itu hanya masuk angin atau masalah pencernaan ringan, padahal bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal gangguan yang lebih serius. Salah satunya adalah ileus paralitik, kondisi ketika usus kehilangan kemampuannya untuk mendorong makanan. Meski terdengar menakutkan, kondisi ini sebenarnya bisa pulih jika ditangani dengan tepat.

Melansir laman my.clevelandclinic.org ileus paralitik terjadi ketika gerakan peristaltik yaitu gelombang alami yang mendorong makanan di usus menghentikan aktivitasnya. Usus seharusnya memecah dan mengalirkan makanan hingga menjadi sisa pencernaan, namun pada kondisi ini, makanan, gas, dan cairan justru berhenti bergerak. Akibatnya, perut terasa penuh, kembung, dan sangat tidak nyaman. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan dapat membaik setelah penyebab utamanya ditangani.

Berbeda dengan penyumbatan usus yang disebabkan benda atau massa, ileus paralitik tidak melibatkan hambatan fisik apa pun. Masalah utama terletak pada fungsi usus yang melemah atau berhenti bekerja. Kondisi ini dapat terjadi pada sebagian kecil usus atau seluruh saluran pencernaan, tergantung penyebabnya. Biasanya, tubuh bereaksi demikian setelah adanya trauma, infeksi, atau gangguan metabolik tertentu.

Gejala yang perlu diwaspadai dan faktor pemicu ileus paralitik

Tanda-tanda ileus paralitik cukup mudah dikenali, mulai dari perut kembung, membesar, hingga sulit buang gas atau buang air besar. Beberapa orang juga mengalami mual, muntah, dan dehidrasi karena makanan tidak bergerak sebagaimana mestinya. Jika gejala semakin berat atau muncul tiba-tiba, kondisi ini perlu dianggap sebagai keadaan darurat dan segera diperiksakan.

Salah satu pemicu paling umum dari ileus paralitik adalah tindakan operasi, terutama yang melibatkan daerah perut. Setelah pembedahan, usus sering mengalami penurunan aktivitas sebagai respons alami tubuh. Namun, proses pemulihan biasanya sudah direncanakan oleh tenaga medis, sehingga ileus pasca operasi dapat ditangani secara terpantau.

Selain operasi, peradangan pada rongga perut juga bisa menghentikan kerja usus seperti pada kasus usus buntu, pankreatitis, gastroenteritis, hingga peritonitis. Beberapa obat, seperti opioid atau antikolinergik, dikenal dapat memperlambat gerakan usus. Gangguan elektrolit seperti kurang kalium atau magnesium pun turut memengaruhi kemampuan usus mempertahankan peristaltik.

Perawatan sehari-hari yang bisa mendukung fungsi usus lebih baik

Mengalami ileus paralitik memang bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman mulai dari perut kembung, mual, hingga sulit buang air besar bisa mengganggu mood dan produktivitas. Selain perawatan medis, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu mempercepat pemulihan fungsi usus.

Pertama, perbaiki pola makan dengan memilih makanan yang lebih ringan dan mudah dicerna. Saat gerak usus melambat, makanan bertekstur lembut seperti bubur, sup bening, atau sayuran yang dimasak hingga lunak bisa mengurangi tekanan pada pencernaan. Hindari makanan berlemak, terlalu pedas, atau penghasil gas seperti kol dan kacang-kacangan. Makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering juga membantu usus bekerja lebih stabil dibandingkan menyantap porsi besar sekaligus.

Kedua, biasakan bergerak ringan untuk merangsang aktivitas usus. Berjalan kaki 10–15 menit setelah makan membantu memicu peristaltik, gerakan alami usus dalam mendorong makanan. Kebiasaan ini sangat bermanfaat bagi orang yang baru menjalani operasi atau sedang dalam pemulihan. Jangan lupa untuk menjaga kebutuhan cairan dengan minum air putih yang cukup agar pencernaan tetap lancar dan terhindar dari sembelit.

Ketiga, perhatikan konsumsi obat serta kelola stres agar kondisi tidak semakin parah. Beberapa obat seperti opioid atau obat penenang dapat memperlambat kerja usus, sehingga penggunaannya perlu dipantau dokter. Selain itu, stres yang berlebihan juga memengaruhi sistem saraf yang mengatur pencernaan. Melakukan latihan pernapasan, meditasi ringan, atau menjaga kualitas tidur dapat membantu menenangkan tubuh dan menstabilkan ritme pencernaan.

 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading