Sukses

Fashion

Diary Fimela: Adaptif dan Inovatif Jadi Kunci UMKM Lokal Kamidsummee Bertahan di Tengah Krisis Pandemi

Fimela.com, Jakarta Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia menuntut para pelaku UMKM lokal untuk beradaptasi dengan situasi tatanan normal baru. Agar mampu bertahan, inovasi menjadi salah satu kunci yang harus dianut oleh para pelaku bisnis di tengah kesulitan ekonomi.

Hal inilah yang juga dilakukan oleh UMKM lokal Kamidsummee, brand lokal asal Yogyakarta yang memproduksi produk berbahan dasar leather dan canvas mulai dari tas, dompet, card case, hingga watch strap dengan desain yang timeless dan simple.

Betty A. Stephney, Founder dari Kamidsummee mengungkapkan bisnisnya sangat terdampak oleh pandemi. Tantangan yang dihadapi Kamidsummee antara lain, merosotnya jumlah pembeli, susahnya bahan baku, hingga kesehatan karyawan juga turut dihadapi bisnis yang telah dirintisnya sejak November 2014 lalu itu.

“Tantangannya mulai dari merosotnya order, susahnya bahan baku, sampai harus sempat setop produksi juga karena ada karyawan yang isoman. Jadi produksi terpaksa mundur dari estimasi hingga akhirnya membuat kami beberapa refund ke customer, karena enggak enak banget kalau mereka harus menunggu kelamaan walaupun sebenarnya customer Kamidsummee baik-baik banget mau nungguin berbulan-bulan,” kata Betty saat dihubungi oleh Tim FIMELA.

Memahami kebutuhan konsumen

Agar bisa bertahan di tengah krisis pandemi, Betty paham betul para pelaku UMKM harus segera berinovasi. Melalui pengamatan dan strategi yang cermat, Kamidsumee akhirnya melakukan pergeseran produksi dari leather ke canvas.

Bukan tanpa sebab, Betty menilai produk dengan material kanvas lebih cepat, mudah diproduksi, dan lebih terjangkau. “Terutama di masa pandemi seperti ini yang kebanyakan orang lebih fokus ke kebutuhan pokok,” terangnya.

Terbukti, berkat tekad yang kuat untuk beradaptasi dan berinovasi, brand ini kini menuai tuahnya. Secara perlahan, omset Kamidsummee naik hingga 25%.

“Jadi pasca pandemi ini turunnya lumayan banget bisa 50% dari omset biasanya. Namun dengan meluncurkan berbagai inovasi jadi lumayan terbantu naik hingga 25%. Walaupun belum full 100% target omset seperti biasa, tetapi tetap bisa buat usaha tetap bertahan,” terangnya.

Kunci bertahan di tengah pandemi: bentuk tim yang solid

Tak hanya segera adaptasi dan berinovasi, di masa-masa sulit seperti ini menurut Betty pebisnis tak bisa bekerja seorang diri. Dibutuhkan kerjasama dari tim dan tim yang solid. 

“Komunikasikan segala kendala dan tantangan dengan tim dan karyawan, jadi bisa fair dan tim pun jadi enggak bingung kepikiran pandemi dan omset yang turun,” kata dia.

Selain itu, bila produk yang diproduksi kurang diminati, pebisnis juga tak boleh pantang semangat. Segera lakukan riset terkait kebutuhan konsumen.

“Inovasi lagi, kalau produk yang biasanya diproduksi sedang kurang diminati, riset lagi apa yang lagi dibutuhkan customer yang kita bisa produksi, reach out ke customer lagi biar kita tetap diingat, banyak posting, dan yang terakhir banyak berdoa,” tandasnya.

#Elevate Women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Talenta Wirausaha BSI, Upaya Pemerintah untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM
Artikel Selanjutnya
Asah Keterampilan Perempuan Jalani Bisnis UMKM Berbasis Digital dalam Program Akselerator