Sukses

Fashion

Diary Fimela: Cerita Diajeng Dirikan Hijup Hingga Berusia 10 Tahun dan Siapkan Rp 100 Miliar Untuk Pelaku Usaha Fashion Muslim

Fimela.com, Jakarta Didirikan pada tahun 2011, kini Hijup menjadi pioneer e-commerce fashion muslim di Indonesia bahkan dunia. Sejak awal berdiri, Diajeng Lestari selaku founder Hijup memiliki tujuan menjadi perantara antara para desainer Indonesia dengan para konsumen nasional hingga internasional.

Hingga dapat meningkatkan keuntungan bagi para brand fashion muslim lokal dan bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri bahkan dikenal di mancanegara. "Dari awal Hijup memang memiliki tujuan membuat brand lokal diminati di negeri sendiri hingga dunia," ujar Diajeng Founder and Chief Executive Officer HIJUP, dalam acara Hijup Growth Fund, Rabu (25/8).

Diajeng bercerita jika sejak awal Hijup mengambil konsep simbiosis mutualisme. Di mana kolaborasi dengan para brand fashion lokal terutama fashion muslim akan lebih menguntungkan.

Dari strateginya tersebut, Hijup yang semula hanya memiliki kantor 3x3 meter, kini sudah dapat menaungin kurang lebih 300 brand fashion lokal. Hingga menjadi kiblat fashion muslim di Asia Tenggara.

Tentu setiap bisnis pernah mengalami titik ter-rendah, begitu pun dengan Hijup. Seperti 1,5 tahun kebelakang ini dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang tentu membuat bisnis terhambat dan mencari cara bagaimana untuk beradaptasi.

Namun, Diajeng mengatakan dibalik kejadian buruk pasti ada hikmah yang baik. Misalnya saja digitalisasi yang membuat orang beralih menjadi online bahkan menghemat cost.

"Titik terendah itu pasti saat awal pandemi, bagaimana kita harus beradaptasi. Namun banyak hikmah di balik itu," tuturnya.

Genap berusia 10 tahun

Diajeng mengatakan Hijup telah mengembangkan industri fashion muslim di Indonesia selama 10 tahun. Ini menjadi awal yang baik untuk menjadikan perusahaan yang lebih baik lagi.

Di usia ke-10 tahunnya, Hijup meluncurkan program Hijup Growth Fund, yaitu pembiayaan hingga maksimal sebesar Rp 100 miliar ini ditujukan kepada para pelaku usaha di industri fesyen muslim dan modest lokal di Indonesia.

“Setelah melewati perjalanan selama 10 tahun, Hijup Growth Fund adalah inisiatif kami untuk bersamapara pelaku usaha fashion muslim dan modest lokal di Indonesia bisa #RiseUpWithHijup. Kami menyadaridan meyakini bahwa Hijup dapat bertahan dan menjadi besar seperti sekarang karena dukungan sertatotalitas dari para pelaku usaha fashion muslim Indonesia dengan menghasilkan karya-karya terbaiknya,” ujar Diajeng.

Selain pendanaan, Hijup juga akan memberikan pendampingan kepada lokal brand untuk dapat memaksimalkan potensi dan produktivitasnya.

Program Hijup Growth Fund menawarkan beberapa skema pendanaan. Pertama, skema “Special Collection” yang diperuntukkan bagi brand yang berminat menciptakan koleksi produk yang akan dikolaborasikan dengan Hijup dengan nominal pendanaan up to Rp 5 miliar.

Kedua, skema “Modal Kerja” dengan nominal up to Rp 2 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Terakhir, skema “Investasi Corporate” dengan konsep Hijup akan menjadi salah satu pemegang saham brand tersebut dengan nominal pendanaan up to Rp 20 miliar.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Sandiaga Uno, mengatakan Hijup diharapakan dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan menjadi perusahaan Indonesia yang mendunia.

"Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, pelaku usaha fashion lokal harus menjadi tuanrumah di negeri sendiri. Kami yakin kualitas produk lokal sudah sangat baik dan kompetitif hingga ke pasarglobal. Melalui inisiatif seperti yang dilakukan program Hijup Growth Fund ini kualitas tersebut akandidukung dengan produktivitas, sehingga skala bisnis dan kesejahteraan pelaku usaha juga terusmeningkat,” tegas Sandiaga yang hadir sebagai salah satu pembicara.

Penerima Hijup Growth Fund

Diajeng menjelaskan, bagi pelaku usaha yang berminat mengikuti program Hijup Growth Fund merekaharus menjadi tenant dan menjual produknya di situs Hijup. Brand tersebut kemudian akan melewatibeberapa tahapan sebelum mendapatkan pendanaan. Misalnya mulai dari tahap pengajuan, verifikasi,persetujuan, pencairan hingga tahap kesepakatan pengembalian dana.

Brand yang telah menerima seperti, Buttonscarves. Linda Anggrea, pemilik brand Buttonscarves mengungkapkan bahwa program pendanaan ini menjadi bukti bahwa HIJUP terus konsisten membangun ekosistem yang positif untuk local brand Indonesia, khususnya pada fashion muslim.

“Sejak awal Buttonscarves berdiri, kami telah banyak didukung oleh HIJUP dan kini kami dipercaya untukmenjadi salah satu local brand terpilih dalam Hijup Growth Fund. Tentu kami sangat bersyukur danmengapresiasi program ini. Suatu kebanggaan bisa terus bekerja sama, berkarya dan tumbuh bersamadengan HIJUP untuk memajukan industri fashion muslim Indonesia” ungkap Linda Anggrea.

Serta, Ragil Silvia, pemilik brand Puru Kambera sebagai salah satu penerima Hijup Growth Fund menyampaikanbahwa kehadiran Hijup Growth Fund telah memberikan harapan baru baginya untuk mengembangkanusaha, terutama meningkatkan produktivitas.

Ia menyadari bahwa situasi saat ini penuh tantangan.“Kami percaya bahwa dalam setiap ikhtiar dan doa akan terhampar jalan menuju kesuksesan. Denganadanya Hijup Growth Fund ini tentu kami akan bekerja lebih keras, disiplin dan menjadi semakinprofesional dalam menghadirkan karya terbaik. Kepada masyarakat, dukunglah brand-brand lokal untukkebangkitan ekonomi kita bersama. Terima kasih,” kata Ragil Silvia.

#elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Cerita Mantan Pramugari yang Kini Jadi Pembisnis Produk Kecantikan Lokal 
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Cerita Fresh Graduate Membangun Bisnis Lokal Sepatu Bersama Sang Ayah di Masa Pandemi