Sukses

Fashion

Diary Fimela: Cerita Brand Kebaya Kirtas Rancangan Cinintya Syakyakirti yang Lahir Saat Pandemi

Fimela.com, Jakarta Sebagai orang Indonesia, pasti kamu tahu, kan, pakaian kebaya? Ya, baju tradisional Indonesia tersebut masih eksis hingga saat ini. Bahkan, kebaya bisa dimodifikasi menjadi gaya modern sesuai dengan desain yang diinginkan oleh orang-orang yang akan memakainya. 

Itulah yang akhirnya membuat Cinintya Syakyakirti melihat hal tersebut sebagai peluang dan ide bisnis yang akhirnya ia jalani sekarang ini, tepatnya baru berdiri sejak setahun yang lalu. 

“Memulai bisnis sejak Pandemi bulan Juli tahun 2020, prosesnya cukup singkat karena modal nekat, mungkin 2 bulanan. Awalnya hanya posting-posting kebaya yang aku buat, dan posting prosesnya juga di Instagram, dari situ ternyata banyak sekali yang minat, maka dari itu aku baru sadar bahwa itu bisa menjadi ide bisnis,” jelas perempuan yang akrab disapa Cinin ini pada Fimela.com, Senin (18/10)

Dalam hal ini, Cinin menciptakan brand fashion-nya sendiri, yakni Kirtas, yang menjual beragam kebaya dengan keistimewaan personalized design bagi para pemesannya. 

Tak hanya melihat hal tersebut sebagai ide bisnis, Cinin juga menjelaskan kepada Fimela.com bahwa awal mula terbentuknya brand kebaya Kirtas ini adalah karena dirinya memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap warisan budaya Indonesia, terutama kain-kain tradisionalnya. 

Memiliki Kecintaan Terhadap Kain Indonesia

Cinin mengatakan bahwa kecintaannya terhadap kain Indonesia sudah mulai muncul sejak dirinya masih kecil. Hal tersebut terjadi karena ayahnya berprofesi sebagai wartawan yang seringkali dinas ke luar kota dan selalu membawa oleh-oleh kain dari berbagai daerah di Indonesia. 

“Papaku tidak pernah lupa bawa oleh-oleh berupa kain dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Batik Jogja, Tenun Sumba, sampai Batik Papua pernah dia bawa,” jelasnya. 

Selain itu, sejak kecil Cinin selalu mendesain sendiri kebaya yang ingin dia pakai ketika akan menghadiri sebuah acara. 

“Dari kecil aku sering banget jahit kebaya di tukang jahit rumahan dengan model yang aneh-aneh tapi tetap ada unsur Indonesianya. Sampai-sampai, kalau tukang jahitnya nggak ngerti, aku bisa tungguin bapaknya hingga tengah malam untuk mengarahkan seperti yang aku mau, padahal saat itu aku masih nggak ngerti pola,” ujarnya. 

Hal itulah yang akhirnya membuat Cinin tersadar akan passion-nya di bidang fashion, khususnya pakaian tradisional, yakni kebaya.

Kirtas Merupakan Bentuk Cinta Terhadap Warisan Indonesia

Sebelum akhirnya membuat brand kebaya Kirtas, Cinin pernah menjadi volunteer sebagai guru di Italia dan terdapat event untuk memperkenalkan budaya masing-masing negara. Dalam event tersebut, Cinin dan teman-temannya menggunakan kebaya dan banyak orang yang antusias terhadap kebaya yang mereka gunakan. 

Dari situlah Cinin akhirnya merasa senang memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya Kebaya ke kancah internasional dari desain-desain yang ia buat. 

“Kirtas adalah bentuk kecintaanku kepada warisan budaya Indonesia, khususnya kebaya. Di sini aku mau menunjukkan kepada dunia, bahwa kebaya yang ku buat akan memberikan kebahagiaan pada orang yang memakainya,” jelas Cinin. 

Ia mengatakan bahwa kebaya yang ia buat biasanya ditujukan untuk para pengantin yang akan menikah. Hal inilah yang membuat kebaya menjadi salah satu pakaian yang akan selalu diingat, karena dipakai sekali seumur hidup.

Di situlah Cinin merasa bahwa melestarikan budaya Indonesia bisa dimulai dari hal kecil, yakni lewat acara-acara pribadi, khususnya pernikahan yang terjadi sekali seumur hidup. 

“It’s so Kirtas, but it’s so You”

Banyak orang yang menjual kebaya, tetapi Cinin menjelaskan bahwa kebaya Kirtas akan berbeda dari kebaya yang dijual di luar sana. Hal ini dikarenakan kebaya Kirtas selalu mengedepankan personalized design. 

We believe that nothing is more magical than personal touch, it’s so Kirtas, but it’s so You. kita mikirin banget value yang ada di kebaya atau baju pernikahan para bride or groom to be sesuai dengan personality mereka,” ujar Cinin menjelaskan keistimewaan dari kebaya Kirtas. 

Ia menegaskan bahwa para pengantin akan menjadi lebih percaya diri jika menggunakan desain yang memang disesuaikan dengan kepribadian dan desain yang memang mereka inginkan.

Omzet Selalu Naik

Bisnis Kirtas ini yang baru berdiri sejak setahun lalu masih dikerjakan sendiri oleh Cinin, dibantu dengan tiga orang karyawan tetap untuk bagian produksi. Selain itu, terdapat juga para freelancers untuk client-related mulai dari segi desain, brainstorm ide, dan juga proses fittings. Hal ini dikarenakan Cinin masih ingin benar-benar memastikan secara langsung dari segi kualitas dan apa yang diinginkan para klien. 

Meski begitu, omzet yang didapatkan oleh Kirtas selalu meningkat dan tak pernah mengalami penurunan.

Alhamdulillah, semuanya aman, justru aku rasa pandemi adalah waktu yang tepat banget untuk Kirtas, karena saat pandemi, acara pernkahan jauh lebih intimate dan banyak orang yang akhirnya tetap melangsungkan pernikahannya,” ujar Cinin. 

Untuk selalu mempertahankan dan meningkatkan omzetnya, Cinin dan Tim Kirtas memasarkan produk-produknya melalui media sosial dengan selalu mengunggah portofolio baru, dan selalu membuat karya sebaik mungkin. 

“Harapanku, Kirtas bisa terus berkembang dan bisa menjadi brand yang dikenal dan disukai oleh banyak orang, sehingga bisa memberikan impact yang lebih besar lagi kepada pekerja, bride-to-be, dan juga Indonesia sesuai visi awalku tadi,” tutupnya. 

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Sciesa, Brand Home Fragrance Lokal Suguhkan Aroma Penuh Cerita
Artikel Selanjutnya
Diary Fimela: Cané Drinks Manjakan dan Majukan Pecinta dan Industri Ready-to-drink di Indonesia