Sukses

Fashion

Hari Kebaya Nasional 2026, Ribuan Perempuan Berkebaya Cetak Rekor MURI

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, lautan kebaya dan kain songket mewarnai kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Sumatra Selatan, pada Minggu, 19 Juli 2026. Ribuan perempuan dari berbagai kalangan tampil anggun dalam balutan busana tradisional untuk memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3.

Momen tersebut semakin istimewa setelah parade berhasil memecahkan Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Parade Perempuan Berkebaya Berkain Songket Terbanyak. Parade yang diinisiasi DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Sumatra Selatan ini menghadirkan peserta dari organisasi perempuan, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga masyarakat umum.

Mereka berjalan bersama menyusuri rute dari Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) menuju Jembatan Ampera, menciptakan pemandangan yang memadukan keindahan kebaya dengan ragam motif songket khas Sumatra Selatan.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nannie Hadi Tjahjanto, menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi perempuan Indonesia dalam menjaga warisan budaya. "Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa ketika perempuan bersatu, berkolaborasi, dan memiliki tujuan yang sama, kita mampu menghadirkan gerakan budaya yang membanggakan bangsa Indonesia," ujar Nannie melalui keterangan resmi yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Senin (20/7/2026).

Lebih dari sekadar memecahkan rekor, parade ini juga menjadi panggung untuk memperkenalkan keindahan wastra Nusantara kepada masyarakat luas. Kehadiran ribuan perempuan berkebaya di ruang publik menunjukkan bahwa tradisi dapat terus hidup, relevan, dan dirayakan bersama lintas generasi.

Makna Kebaya dan Dampak Ekonomi

Perayaan Hari Kebaya Nasional tahun ini tidak hanya soal jumlah peserta. Nannie menegaskan kembali makna kebaya yang melampaui fungsi busana. "Kebaya adalah simbol jati diri, kesantunan, keanggunan, martabat, serta semangat perjuangan perempuan Indonesia," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa gerakan mengenakan kebaya ikut menggerakkan perekonomian. Peningkatan penggunaan kebaya dan kain tradisional dinilai membuka peluang bagi penenun songket, perajin, penjahit, desainer, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah.

Menurut Nannie, pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif dapat berjalan beriringan. Keberhasilan memecahkan rekor pada momen Hari Kebaya Nasional ke-3 di Palembang menjadi contoh konkret kolaborasi untuk menjaga sekaligus menghidupkan ekosistem kebudayaan dan usaha terkait.

Jejak Sejarah dan Penguatan Status Hari Kebaya

Nannie mengingatkan bahwa kebaya memiliki kaitan erat dengan sejarah gerakan perempuan Indonesia. Salah satu momentum penting terjadi pada Kongres Wanita Indonesia ke-10 tahun 1964, ketika ribuan perempuan mengenakan kebaya sebagai lambang persatuan dan perjuangan.

Penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 mempertegas posisi kebaya sebagai identitas nasional. Penanda ini menjadi rujukan tahunan untuk menggelar perayaan dan aksi nyata pelestarian di berbagai daerah.

Pada 2024, status kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO melalui nominasi multinasional bersama sejumlah negara Asia Tenggara turut memperluas pengakuan terhadap warisan budaya tersebut. Pengakuan ini menjadi pijakan bagi beragam inisiatif yang berupaya menjaga keberlanjutan kebaya dalam kehidupan sehari-hari.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading