Sukses

Fashion

Dian Sastrowardoyo Bawa Kebaya ke Gaya Sehari-hari Lewat Kolaborasi Bersama Wilsen Willim

Fimela.com, Jakarta - Dian Sastrowardoyo menjadi salah satu public figure yang mempopulerkan kebaya sebagai busana sehari-hari. Pesona ini semakin kuat ketika ia memerankan karakter Dasiyah dalam serial Gadis Kretek yang mendapat atensi begitu besar di industri film dunia.

Bagi Dian Sastrowardoyo, busana tradisional Indonesia tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai pakaian untuk acara formal. Kebaya juga bisa hadir dalam keseharian perempuan Indonesia dengan pendekatan yang lebih modern, kasual, dan mudah dipadupadankan.

Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam kolaborasi Dian Sastrowardoyo bersama desainer Wilsen Willim, yang melansir koleksi kapsul busana siap pakai bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional pada 24 Juli 2026. Koleksi ini menjadi kelanjutan dari hubungan kreatif keduanya yang sebelumnya telah beberapa kali dipertemukan melalui berbagai momen fashion.

Salah satunya ketika Dian mengenakan jaket berkerah beskap dengan potongan samping tinggi rancangan Wilsen saat mempromosikan serial Gadis Kretek di Busan International Film Festival 2023. Dian juga kembali mengenakan karya Wilsen ketika memerankan Dasiyah dalam Gadis Kretek, sebelum tampil sebagai model penutup dalam presentasi Wilsen Willim pada 2024.

Kini, hubungan kreatif tersebut berkembang menjadi sebuah koleksi kolaborasi yang secara khusus membawa siluet busana tradisional Indonesia ke dalam gaya yang lebih kontemporer.

 

Membawa Kebaya Lebih Dekat dengan Keseharian

Dalam koleksi ini, Dian tidak hanya berperan sebagai wajah kolaborasi. Ia bersama timnya turut menuangkan ide serta melakukan kurasi terhadap rancangan yang dibuat oleh Wilsen dan tim.

"Kita sudah beberapa kali saling menuangkan ide yang mendapat respons positif tidak hanya dari media sosial tapi juga dari pelanggan saya. Pada koleksi kali ini, Kak Dian tidak hanya tampil sebagai wajah kolaborator, namun Kak Dian dan tim turut menuangkan ide dan melakukan kurasi terhadap rancangan karya saya dan tim," jelas Wilsen Willim.

Dari proses tersebut lahir 13 artikel busana yang mengambil inspirasi dari berbagai siluet tradisional Indonesia. Koleksi tersebut mencakup kemeja, rok, korset, hingga luaran yang menerjemahkan elemen Kebaya Kartini, Kebaya Kutubaru, atasan Janggan, Beskap, Sikepan Hussar khas prajurit Keraton Surakarta, hingga Surjan ke dalam bentuk yang lebih modern.

Palet warnanya pun dibuat relatif netral, mulai dari putih, hitam, merah hati, biru laut hingga hijau gelap. Pemilihan warna ini sengaja dilakukan agar busana lebih mudah dikenakan kembali sekaligus dipadukan dengan berbagai wastra Nusantara yang memiliki warna maupun motif lebih berani.

"Kita sengaja memilih warna-warna netral agar mudah dikenakan kembali ataupun dipadukan dengan wastra Nusantara yang sering kali bercorak cerah dengan motif dominan," ujar Wilsen.

 

Ketika Siluet Tradisional Bertemu Gaya Modern

Eksplorasi terhadap busana tradisional tidak berhenti pada bentuk. Material yang digunakan juga dibuat beragam, mulai dari katun, suiting fabric, Jacquard, hingga batik tulis Cirebon berbahan dasar katun.

Pendekatan tersebut membuat koleksi terasa lebih dekat dengan kebutuhan perempuan masa kini. Elemen tradisional tidak tampil sebagai sesuatu yang kaku atau hanya diperuntukkan bagi acara tertentu, tetapi diterjemahkan menjadi potongan yang dapat dikombinasikan dengan item fashion lainnya.

Bagi Dian, pendekatan inilah yang menjadi alasan utama keterlibatannya dalam kolaborasi tersebut.

"Saya ingin kebaya bisa menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia, dengan gaya yang lebih kasual, material yang sejuk, namun tetap menjaga nilai dan identitas budayanya," papar Dian Sastrowardoyo.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana Dian melihat kebaya bukan hanya sebagai pakaian tradisional, tetapi sebagai bagian dari identitas fashion perempuan Indonesia yang masih dapat terus berkembang.

 

Dian Sastrowardoyo dan Wilsen Willim Merayakan Warisan Indonesia

Kolaborasi ini juga menjadi pertemuan dua dunia kreatif yang berbeda. Dian membawa perspektif dari seni peran dan perfilman, sementara Wilsen hadir melalui dunia mode dan pengembangan wastra Indonesia.

Keduanya bertemu dalam satu visi yakni menjaga warisan budaya Indonesia dengan memberikan ruang bagi tradisi untuk beradaptasi dengan zaman.

Koleksi bagian pertama ini menjadi awal dari kolaborasi yang akan berlanjut pada Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Nantinya, keseluruhan koleksi akan diluncurkan secara lengkap.

Sementara itu, publik dapat melihat dan mendapatkan koleksi kolaborasi tersebut melalui acara Heritage Reimagined di ASHTA District 8 pada 6–30 Agustus 2026. Selain koleksi Dian Sastrowardoyo dan Wilsen Willim, acara tersebut juga menampilkan Algorithm: Universal Language, koleksi batik tulis Cirebon Wilsen Willim, busana siap pakai, sepatu Bocorocco x Wilsen Willim, serta aksesori Subeng Klasik x Wilsen Willim 2.0.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading