Sukses

Fashion

LA GARÇONNE, Perayaan Sosok Perempuan Modern yang Bebas dan Berani dari Sebastian Gunawan

Fimela.com, Jakarta - Sebastian Gunawan kembali mengeksplorasi karakter perempuan modern melalui koleksi terbaru SEBASTIANred 2026/2027 bertajuk LA GARÇONNE. Karya busana yang dipamerkan di The Langham Fashion Soirre ini, terinspirasi dari novel berjudul sama karya Victor Margueritte yang terbit pada 1922, koleksi ini membawa kisah tentang perempuan yang berani meninggalkan masa lalu, memilih kebebasan, dan membangun kehidupannya sendiri.

Novel La Garçonne sendiri dikenal menggambarkan perubahan sosial pada era 1920-an, ketika perempuan mulai mendobrak batas-batas konvensional dalam kehidupan maupun cara berpakaian. Sosok perempuan tidak lagi harus terikat pada korset atau busana dengan konstruksi yang membatasi gerak, tetapi mulai mengenakan siluet yang lebih praktis dengan sentuhan maskulin.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan Sebastian Gunawan ke dalam 56 set rancangan yang mempertemukan karakter feminin dan maskulin dalam bahasa mode yang elegan.

 

Sebastian Gunawan Interpretasikan Perempuan Modern

Dalam koleksi LA GARÇONNE, Sebastian Gunawan mengambil inspirasi dari dua ikon silent film, Louise Brooks dan Clara Bow. Keduanya dikenal sebagai aktris dengan gaya personal yang berani, sophisticated, sekaligus merepresentasikan perubahan citra perempuan pada era 1920-an.

Louise Brooks dikenal dengan karakter visual yang kuat dan modern, sementara Clara Bow memiliki citra yang lebih playful dan penuh energi. Dua karakter tersebut menjadi representasi dari sisi perempuan yang berbeda, tetapi dapat berjalan berdampingan.

Melalui koleksi ini, SEBASTIANred seolah ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak harus memilih antara feminin atau maskulin. Keduanya dapat berpadu menjadi karakter yang utuh—anggun sekaligus percaya diri, lembut tetapi memiliki kekuatan.

 

Hitam Putih dengan Sentuhan Merah

Secara visual, LA GARÇONNE hadir dengan permainan kontras yang menjadi salah satu daya tarik utamanya. Palet hitam dan putih menjadi fondasi koleksi, sementara aksen merah memberikan sentuhan dramatis yang memperkuat karakter busana.

Eksplorasi juga terlihat melalui penggunaan berbagai material dan tekstur. Bordir, lace, payet, hingga permainan layer digunakan untuk menciptakan dimensi pada setiap tampilan.

Kontras tersebut membuat koleksi terasa klasik sekaligus modern. Referensi era 1920-an tidak diterjemahkan secara literal, melainkan diolah kembali melalui proporsi, konstruksi, dan teknik yang lebih relevan dengan perempuan masa kini.

 

Tailoring Bertemu Drapery dan Layering

Salah satu kekuatan LA GARÇONNE terletak pada permainan siluet dan konstruksi. Tailoring presisi menjadi salah satu elemen yang memberikan karakter tegas, sementara drapery dan layering menghadirkan kelembutan serta pergerakan pada busana.

Keseimbangan tersebut memperlihatkan craftsmanship SEBASTIANred dalam mengolah volume, proporsi, dan tekstur. Setiap detail dirancang untuk menciptakan komposisi yang harmonis tanpa menghilangkan karakter kuat dari masing-masing busana.

Aplikasi bordir dan tekstur semakin memperkaya tampilan, memberikan dimensi sekaligus mempertegas sisi feminin yang tetap menjadi bagian penting dari koleksi.

Dengan pendekatan tersebut, Sebastian Gunawan tidak sekadar menghidupkan kembali estetika era 1920-an. Ia mengambil semangat kebebasan yang menjadi inti kisah La Garçonne dan menerjemahkannya menjadi busana yang terasa lebih kontemporer.

Presentasi koleksi ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan brand aksesori Le Ciel. Rangkaian aksesori dirancang khusus untuk melengkapi estetika LA GARÇONNE, mulai dari anting, kalung, hingga tas berbahan beads.

Kehadiran aksesori tersebut memberikan sentuhan akhir pada karakter perempuan yang ingin ditampilkan dalam koleksi. Detail yang feminin berpadu dengan siluet busana yang lebih tegas, menciptakan keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading