Sukses

FimelaHood

Komunitas Rhesus Negatif Indonesia: Support System Pemilik Varian Darah Langka

Fimela.com, Jakarta Tuhan menciptakan manusia dengan kondisi dan rupa yang beragam. Bukan hanya tampilan fisik, lebih luas dari itu, kondisi kesehatan juga mencakup di dalamnya. Termasuk jenis darah. Bicara soal darah, rupanya bukan hanya sebatas golongan A, B, AB, dan O, melainkan ada pengelompokan rhesus di dalamnya.

Dikutip dari Alodokter, varian darah rhesus negatif banyak ditemukan pada ras Kaukasian, dan paling jarang ditemukan pada orang-orang ras Asia. Dengan kata lain, orang-orang ras Asia masih memiliki peluang untuk memiliki varian darah rhesus negatif. 

Menjadi golongan minoritas, pemilik darah varian rhesus negatif menjadi populasi yang langka. Berdasarkan hal itu pula, berdirilah Komunitas Rhesus Negatif Indoensia (RNI). Ditemui di kawasan Cikini akhir Mei lalu, Lici Murniati, Ketua RNI mengungkapkan bahwa RNI didirikan oleh Irwan, pemilik rhesus negatif dari Lampung.

"Aku salah satu inisiator pembuat pengurusnya, tapi kalau founder-nya Pak Irwan dari Lampung sudah meninggal, 2011 kami bertemu beliau, 2012 beliau meninggal," ungkap Lici.

"Beliau membuat komunitas ini berdasarkan pengalaman pribadi susah dapat darah rhesus negatif, tapi mungkin karena kesibukan beliau jadi nggak terlalu berkembang, lalu ada kami dan kami buat pengurus dan terus meningkat, PMI (Palang Merah Indonesia) juga kenal kami, PMI banyak berkoordinasi dengan kami untuk kebutuhan darah," imbuhnya.

Terdapat di lebih 30 kota di Indonesia, RNI menaungi sekitar 3000 anggota yang terdiri dari pemilik rhesus negatif, pendonor, pasien, dan orangtua pemilik rhesus negatif. "Nggak hanya pendonor, ada pasien, ada anak kecil, ada orangtua yang mewakili anaknya, tapi kami diidentikkan dengan pendonor karena mau nggak mau kami cari pendonor juga," jelasnya.

Sebagai komunitas sosial, Lici mengandalkan media sosial sebagai media penyebaran informasi dan edukasi masyarakat terhadap rhesus negatif, yang selama ini kerap disalahartikan.

"Di sosial media kami sharing informasi yang dibutuhkan, kami nggak mau ada misperception, karena banyak yang menganggap rhesus negatif adalah penyakit, kelainan darah, dan ada yang merasa kami Alien, ada juga ibu yang merasa anaknya dikutuk memiliki darah rhesus negatif, bahkan ada dokter yang menyebut kami penderita dan kami protes," kata Lici.

"Kami selalu menegaskan rhesus negatif itu hanya variasi golongan darah, bukan kelainan darah, jadi tidak ada yang membedakan kami, hanya kebetulan kami langka," tegas perempuan kelahiran 23 September.

2 dari 3 halaman

Pemeriksaan Darah Jadi Program Nasional

Menurut Lici, kepemilikan rhesus negatif besar dipengaruhi oleh faktor gen. "Kebanyakan dari kami nyaris bapak dan ibunya rhesus positif, seperti orangtua dan empat saudara saya yang lain positif, tapi saya negatif sendiri, ini berarti ada keturunan saya terdahulu yang memiliki rhesus negatif," katanya.

Untuk gabung ke komunitas ini, Lici tidak serta merta menerima setiap orang yang ingin join. Dibutuhkan pemeriksaan darah berulang agar tidak terjadi kesalahan fatal, terlebih bagi pendonor. "Kami selalu menyarankan untuk memeriksakan lebih dari dua kali, karena kasus pemeriksaan rhesus negatif ini agak sensitif, ada human error, kemudian dari carian, jadi kami menyarankan untuk cek ulang sebelum gabung, karena beberapa kali ada anggota yang kami pilih untuk jadi pendonor begitu diperiksa ternyata rhesus positif," kata Lici menegaskan.

Kendati banyak yang beranggapan miring pada varian darahnya, rupanya Lici kerap menemukan kasus menggelitik pada pemilik rhesus negatif. "Terkadang ada orangtua yang worry dengan keadaan anaknya yang rhesus negatif, ada juga yang pikirannya macam-macam pasangannya selingkuh karena anaknya beda varian darah, ada juga yang nggak jadi nikah, itulah gunanya kami sebagai support system," ujar Lici.

Lebih lanjut, Lici meluruskan anggapan bahwa pemilik rhesus negatif tidak bisa memiliki anak. "Pemilik rhesus negatif bisa kok punya anak, tapi memang ada potensi yang harus perhatikan, potensi yang artinya bisa terjadi bisa tidak, kalau pun terjadi bisa jadi treatment-nya berbeda-beda, jadi jangan jadi patokan," katanya.

"Dengan kemajuan zaman dan dunia kedokteran, hal tersebut bisa diatasi dengan vaksin," tambah Lici.

Seiring berjalannya waktu, RNI tidak lagi sekadar komunitas, tetapi juga kawan bagi beberapa instansi kesehatan. "Dengan kesedehanaan komunitas kami, akhir tahun kemarin website kami telah diakui oleh PMI dan Depkes," kata Lici.

Di akhir pembicaraan, Lici berharap jika pemeriksaan golongan darah dan rhesus bisa menjadi program nasional sehingga tidak ada lagi kasus yang tidak diinginkan berhubungan dengan darah.

"Kami berharap pemeriksaan golongan darah dan rhesus menjadi program nasional, di mana itu menjadi barometer di Indonesia bahwa setiap individu harus tahu golongan darah dan rhesusnya, kalau di Jakarta mungkin banyak program seperti itu tapi yang di daerah kecil itu dan kadang kebutuhan di daerah itu yang tidak terpenuhi karena kami tidak tahu," tandas Lici.

3 dari 3 halaman

Kisah Ika dan PCOS

Di sisi lain, ada Ika, salah satu anggota RNI yang ditemui di kesempatan yang sama. Penyakit PCOS (Polycystic ovary syndrome) yang ia idap, membuatnya bertemu dengan RNI dan menjadi support system baginya.

"Aku pertama tahu RNI ini karena aku punya penyakit menstruasi yang menyebabkan aku harus transfusi darah, dari situ ternyata aku butuhnya darah A negatif dan keluargaku nggak ada yang punya, lalu dokter yang menanganiku memberi tahu komunitas RNI ini, dari situ aku baru kenal," kenang Ika.

 

Bagai pepatah pucuk di cinta ulam tiba, pertemuannya dengan RNI seperti hal yang ia harapkan. "Aku dapat pengalaman dan yang paling penting karena aku wanita aku jadi tahu bahwa rhesus negatif punya andil penting dalam kehamilan aku kelak, karena aku punya treatment yang berbeda saat aku hamil nanti," ujar perempuan 24 tahun ini.

Tidak hanya untuk diri sendiri, pengalaman Ika dengan rhesus negatif juga membuat ia membantu teman-temannya untuk lebih aware dengan rhesus negatif. "Sejak aku sakit aku jadi tahu kalau darah ada positif dan negatif, aku mulai tanya ke teman-temanku, dan rata-rata mereka nggak tahu, begitu juga orang-orang di dunia medis, mulai dari situ aku saranin teman-teman untuk cek darah," tutupnya.

Fimelahood #MyGoalMatter, Tempat Perempuan Berbagi Kisah Inspiratif
Loading
Artikel Selanjutnya
Partners in Goodness: Berbagi Takjil Selama Bulan Puasa
Artikel Selanjutnya
Komunitas MPASI Bayi Sehat, Ingin Jadi Perkumpulan yang Longlasting