Sukses

FimelaMom

Ajarkan Anak Berani Menghadapi Tantangan dengan Kemampuan Problem Solving

Fimela.com, Jakarta Setiap anak pasti akan menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya, mulai dari hal-hal sederhana seperti memilih mainan hingga situasi yang lebih kompleks seiring bertambahnya usia. Sebagai orang tua, naluri pertama kita sering kali ingin segera turun tangan, memberikan solusi, atau bahkan menyelesaikan masalah tersebut demi kenyamanan anak. Namun, pernahkah Sahabat Fimela berpikir bahwa membiarkan anak mencoba mencari solusi sendiri justru bisa menjadi bekal berharga untuk masa depannya?

Kemampuan memecahkan masalah atau problem solving adalah keterampilan penting yang akan membantu anak menghadapi berbagai situasi di masa depan. Anak yang terbiasa berpikir sendiri dalam menyelesaikan masalah akan lebih mandiri, percaya diri, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, jika anak terlalu sering bergantung pada orang tua atau orang lain, ia bisa kesulitan dalam mengambil keputusan dan kurang siap menghadapi tantangan di dunia nyata.

Maka, daripada selalu memberikan solusi instan, ada baiknya kita sebagai orang tua mulai membimbing anak untuk berpikir kritis dan mencari jalan keluar sendiri. Tentu saja, ini bukan berarti membiarkan anak kesulitan sendirian, tetapi lebih kepada memberikan dukungan yang tepat agar ia dapat belajar dari setiap tantangan yang dihadapinya. Melansir letgrow.org, berikut adalah cara melatih anak agar dapat memiliki kemampuan problem solving.

Beri Ruang bagi Anak untuk Menyelesaikan Masalahnya Sendiri

Sahabat Fimela, mungkin terasa sulit untuk menahan diri agar tidak langsung turun tangan menyelesaikan masalah anak. Naluri orang tua sering kali mendorong kita untuk membantu, tetapi langkah ini tidak selalu memberikan manfaat jangka panjang bagi mereka. Jika ingin anak tumbuh menjadi pemecah masalah yang mandiri, kita justru perlu memberi mereka kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pada dasarnya, manusia belajar melalui trial and error. Kegagalan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan bagian penting darinya. Itulah mengapa salah satu hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua dan guru adalah memberi ruang bagi anak untuk mencoba. Mereka akan belajar jauh lebih banyak dari pengalaman gagal dan mencoba lagi dibandingkan jika orang tua selalu turun tangan menyelesaikan setiap masalah yang mereka hadapi.

Namun, ini bukan berarti kita membiarkan anak berjuang sendirian tanpa arahan. Terkadang, memberikan ruang berarti mengarahkan mereka ke sumber informasi yang tepat. Misalnya, saat seorang anak mengalami kesulitan dalam tugas matematika, daripada langsung memberi jawaban, orang tua bisa mengajarkan cara mencari solusi, seperti menggunakan platform pembelajaran online atau membaca kembali materi yang telah diajarkan.

Dorong Anak untuk Menyelesaikan Masalah Nyata

Salah satu tantangan dalam pembelajaran di sekolah adalah bahwa banyak tugas dan proyek yang dibuat dalam lingkungan yang "terisolasi", sehingga anak tidak benar-benar menghadapi masalah nyata. Selama ini, pendekatan berbasis studi kasus atau simulasi dianggap lebih aman untuk mengajarkan anak menghadapi dunia nyata. Namun, mengapa tidak langsung melibatkan mereka dalam masalah yang sesungguhnya?

Menurut Australian Council for Educational Leaders (ACEL), salah satu elemen utama dalam "authentic learning" adalah pengalaman dunia nyata. Dengan kata lain, jika ingin anak benar-benar belajar, mereka harus berhadapan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dalam mengasah kemampuan problem solving—anak perlu diberi kesempatan menyelesaikan masalah yang benar-benar mereka hadapi.

Misalnya, ketika anak ingin membeli sesuatu tetapi uang saku mereka terbatas, orang tua bisa membimbing mereka dalam menyusun rencana keuangan sederhana. Dengan begitu, anak akan belajar bagaimana mengatur prioritas dan mencari solusi terhadap keterbatasan yang ada. Situasi seperti ini jauh lebih efektif dalam mengajarkan keterampilan problem solving dibandingkan hanya memberi mereka teori tentang cara mengatur keuangan. 

 

Ajarkan Anak Mengidentifikasi Masalah

Sebelum bisa menyelesaikan masalah, anak harus bisa mengenali adanya masalah terlebih dahulu. Kemampuan ini bisa diasah dengan melatih mereka untuk lebih reflektif dan sadar terhadap lingkungan sekitar. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mendiskusikan pilihan yang telah mereka buat dan bagaimana keputusan tersebut memengaruhi situasi.

Sebagai contoh, seseorang mungkin baru menyadari ada masalah ketika mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari. Seperti saat seorang remaja menyadari bahwa indikator bahan bakar mobilnya rusak dan tidak memiliki cukup uang untuk memperbaikinya. Ia kemudian menemukan solusi dengan selalu mengisi tangki penuh dan menghitung jarak tempuh untuk menghindari kehabisan bensin di tengah jalan. Dari situ, ia belajar bahwa masalah yang tidak segera diselesaikan akan terus muncul kembali.

Dengan membiasakan anak untuk berpikir tentang tindakan dan keputusan mereka, mereka akan lebih mudah mengenali masalah bahkan sebelum masalah itu terjadi. Orang tua bisa membantu anak mengembangkan kebiasaan ini dengan bertanya, "Menurut kamu, apa yang bisa terjadi jika kita tidak merencanakan dengan baik?" atau "Apa yang bisa kita lakukan agar hal ini tidak terjadi lagi di masa depan?" Pertanyaan seperti ini akan mendorong anak untuk berpikir lebih jauh dan lebih kritis.

Bagaimana Jika Anak Kesulitan?

Tak dapat dimungkiri, mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah sendiri bisa menjadi tantangan. Sebab, proses ini melibatkan sesuatu yang sulit untuk disaksikan oleh orang tua dan guru, kegagalan. Melihat anak frustrasi saat mengerjakan tugas atau menghadapi situasi sosial yang sulit tentu tidak mudah. Dalam beberapa kasus, membiarkan anak sepenuhnya menghadapi masalah sendiri juga tidak selalu memungkinkan, seperti dalam situasi perundungan atau ketika mereka masih terlalu kecil untuk memahami dampak jangka panjang dari suatu keputusan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan jika anak tampak kesulitan? Salah satu pendekatan yang efektif adalah menciptakan solusi bersama. Orang tua dan anak bisa membuat rencana lima langkah, di mana orang tua hanya terlibat dalam dua langkah pertama, sementara anak mengambil alih tiga langkah sisanya. Dengan cara ini, anak tetap mendapatkan dukungan yang dibutuhkan tanpa kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri.

Selain itu, memberikan contoh juga sangat penting. Anak akan lebih mudah belajar jika mereka melihat orang tua atau gurunya menghadapi masalah dengan cara yang konstruktif. Misalnya, ketika orang tua mengalami kendala dalam pekerjaan atau tugas rumah tangga, mereka bisa berbagi proses berpikirnya dengan anak, "Mama mengalami masalah dengan jadwal kerja yang padat, jadi Mama membuat daftar prioritas agar bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu."

Pada akhirnya, mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah sendiri adalah investasi jangka panjang. Dengan bimbingan yang tepat, mereka akan tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan hidup. Jadi, daripada selalu memberikan solusi instan, yuk, mulai ajarkan anak untuk berpikir kritis dan menemukan jawabannya sendiri! 

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading