Sukses

FimelaMom

Saat Anak Mudah Frustasi, Micro Break Bisa Jadi Solusi Sederhana

Fimela.com, Jakarta - Rasa frustasi kerap dialami anak ketika mereka menghadapi tugas yang menantang, aturan yang sulit dipahami, atau situasi yang tidak berjalan sesuai harapan. Perasaan ini dapat muncul dalam bentuk marah, menangis, atau menolak melanjutkan kegiatan. Jika tidak dikelola dengan baik, frustrasi bisa membuat anak merasa terbebani dan kehilangan motivasi. Orangtua sering kali berada dalam posisi dilematis antara mendorong anak untuk terus berusaha atau menghentikan aktivitas agar emosi tidak semakin meningkat. Karena itu, diperlukan pendekatan yang tepat agar anak dapat mengelola perasaannya tanpa merasa tertekan atau disalahkan.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah micro break, yaitu jeda singkat yang memberi kesempatan bagi anak untuk berhenti sejenak di tengah aktivitas. Micro break bukan bentuk untuk menyerah, melainkan waktu singkat untuk membantu anak menenangkan pikiran dan tubuh. Jeda ini bisa berupa peregangan ringan, menarik napas dalam, minum air, atau melakukan aktivitas kecil yang menyenangkan. Berdasarkan sumber dari psychologytoday.com, dengan micro break, anak memiliki ruang untuk melepaskan ketegangan emosional sebelum kembali melanjutkan kegiatan dengan kondisi yang lebih tenang.

Melalui penerapan micro break, anak dapat belajar bahwa rasa frustrasi adalah hal yang wajar dan bisa dihadapi dengan cara yang sehat. Dibandingkan memaksa anak terus melanjutkan aktivitas saat emosinya sudah penuh, jeda singkat justru membantu meningkatkan fokus, kesabaran, dan kepercayaan diri. Dalam jangka panjang, anak akan lebih mampu mengenali batas dirinya serta memahami kapan perlu berhenti sejenak untuk mengatur ulang emosi, sehingga perkembangan emosional anak dapat didukung secara lebih empatik dan berkelanjutan.

1. Latihan napas bersama anak

Mengajak anak menarik dan menghembuskan napas secara perlahan membantu menurunkan ketegangan emosi yang sedang memuncak. Aktivitas ini memberi sinyal pada tubuh anak untuk merasa lebih aman dan tenang. Lakukan dengan hitungan sederhana agar anak mudah mengikuti dan tidak merasa sedang “diperbaiki” emosinya.

2. Gerakan ringan untuk melepas energi

Saat anak mulai gelisah atau kesal, gerak ringan seperti peregangan, melompat kecil, atau berjalan sebentar dapat membantu melepaskan energi yang terpendam. Aktivitas fisik singkat ini membuat tubuh anak lebih rileks sehingga pikiran pun lebih siap kembali fokus.

3. Jeda minum air putih

Mengajak anak minum air bukan hanya membantu kebutuhan tubuh, tetapi juga menjadi momen berhenti sejenak dari tekanan. Jeda singkat ini memberi waktu bagi anak untuk mengatur ulang perasaan sebelum kembali melanjutkan aktivitas yang sempat memicu frustasi.

4. Mengalihkan perhatian dengan aktivitas menyenangkan

Aktivitas sederhana seperti menggambar, mendengarkan musik, atau bermain ringan dapat membantu anak mengalihkan fokus dari rasa kesal. Pilih kegiatan yang tidak kompetitif dan tidak memiliki target, sehingga anak bisa menikmati momen tanpa beban.

5. Memberi waktu tenang tanpa gangguan

Beberapa anak membutuhkan waktu diam singkat untuk menenangkan diri. Duduk dengan tenang di tempat yang nyaman membantu anak menurunkan intensitas emosi dan mengenali perasaannya tanpa distraksi berlebihan.

6. Memvalidasi perasaan anak sebelum melanjutkan aktivitas

Mengakui bahwa rasa frustasi itu wajar membuat anak merasa dipahami. Dengan validasi ini, anak lebih terbuka untuk mencoba kembali dan tidak merasa bersalah atas emosinya.

Secara keseluruhan, micro break perlu dilakukan secara singkat, fleksibel, dan konsisten. Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola emosi dengan cara yang sehat tanpa merasa tertekan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading