Sukses

FimelaMom

Masih Ngompol di Usia Sekolah? Ini Solusi yang Bisa Dicoba Orangtua

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah merasa khawatir ketika anak masih mengompol meski sudah duduk di bangku sekolah? Kondisi ini memang sering membuat orangtua bingung dan bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan tumbuh kembang anak. Padahal, mengompol di usia sekolah masih bisa dianggap wajar pada sebagian anak.

Mengompol bukan berarti anak malas atau tidak bertanggung jawab, melainkan bagian dari proses perkembangan yang berbeda pada tiap individu. Ada anak yang cepat belajar mengendalikan kandung kemih, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor fisik maupun emosional anak.

Ngompol pada usia sekolah bukanlah hal yang langka. Hal yang terpenting yaitu, orangtua perlu memahami penyebabnya dan tahu bagaimana cara membantu anak dengan cara yang tepat.

Mengapa Anak Masih Mengompol?

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan anak masih ngompol, di antaranya:

1. Kandung kemih belum berkembang sempurna

Pada sebagian anak, perkembangan kandung kemih masih belum optimal meskipun usianya sudah memasuki usia sekolah. Hal ini membuat kapasitas kandung kemih lebih kecil sehingga tidak mampu menampung urine dalam jumlah banyak.

Akibatnya, anak lebih cepat merasa ingin buang air kecil, terutama saat malam hari. Kondisi ini membuat anak lebih berisiko mengalami ngompol saat sedang tidur nyenyak.

2. Tidur terlalu nyenyak

Beberapa anak memiliki pola tidur yang sangat nyenyak dan sulit terbangun oleh rangsangan dari tubuhnya sendiri. Saat kandung kemih sudah penuh, otak anak tidak merespons sinyal untuk bangun dan pergi ke kamar mandi.

Akibatnya, urine keluar tanpa disadari saat anak masih tertidur. Inilah sebabnya anak sering tidak ingat atau tidak menyadari bahwa dirinya telah mengompol di malam hari.

3. Produksi urine berlebih di malam hari

Pada malam hari, tubuh seharusnya memproduksi hormon yang membantu mengurangi jumlah urine. Namun, pada sebagian anak hormon ini belum bekerja dengan optimal.

Akibatnya, produksi urine tetap banyak meski anak sedang tidur. Jika kandung kemih tidak mampu menampung urine tersebut, maka risiko ngompol pun menjadi lebih tinggi.

4. Faktor genetik

Riwayat ngompol dalam keluarga dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami hal serupa. Jika salah satu atau kedua orangtua pernah sering ngompol saat kecil, anak memiliki risiko yang lebih besar.

Hal ini berkaitan dengan faktor keturunan yang memengaruhi perkembangan kandung kemih dan pola tidur. Jadi, ngompol bukan sepenuhnya karena kebiasaan, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh faktor bawaan.

5. Stres atau perubahan emosi

Perubahan besar dalam hidup anak, seperti pindah sekolah, kelahiran adik, atau tekanan pelajaran, dapat menimbulkan stres emosional. Kondisi ini bisa memengaruhi kerja saraf yang mengatur buang air kecil.

Saat anak merasa cemas atau tertekan, kontrol kandung kemih bisa menjadi kurang optimal. Akibatnya, anak lebih mudah mengalami ngompol meski sebelumnya sudah bisa menahan pipis dengan baik.

Solusi yang Bisa Dicoba Orangtua

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa membantu:

1. Batasi Minum Sebelum Tidur

Mengurangi asupan cairan di malam hari bisa membantu mencegah kandung kemih terlalu penuh saat anak tidur. Orangtua bisa mulai dengan membatasi minuman sekitar 1-2 jam sebelum tidur, terutama minuman manis atau berkafein yang bisa merangsang produksi urine lebih banyak.

2. Biasakan ke Toilet Sebelum Tidur

Membiasakan anak untuk buang air kecil sebelum tidur adalah langkah sederhana namun efektif. Rutinitas ini membuat kandung kemih kosong sehingga kemungkinan mengompol jadi lebih jarang.

3. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman

Mengompol sering membuat anak merasa bersalah atau malu. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman, orangtua bisa menggunakan alas kasur tahan air atau sprei khusus agar lebih mudah dibersihkan. 

4. Konsultasi dengan Dokter

Jika kebiasaan mengompol terus berlanjut hingga usia sekolah atau disertai gejala lain seperti nyeri saat buang air kecil, segera konsultasikan ke dokter. Pemeriksaan medis penting untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang mendasari. Dengan begitu orangtua bisa mendapatkan solusi yang tepat sesuai kondisi anak.

Sahabat Fimela, anak yang masih ngompol di usia sekolah membutuhkan dukungan, bukan hukuman. Yuk dampingi si kecil dengan kasih sayang dan jangan ragu berkonsultasi ke tenaga kesehatan jika keluhan terus berlanjut.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading