Sukses

FimelaMom

Mengenal Snowplow Parenting, Gaya Asuh yang Berpotensi Hambat Kemandirian Anak

ringkasan

  • Snowplow parenting adalah gaya asuh proaktif di mana orang tua menghilangkan semua hambatan dari jalan anak untuk menjamin keberhasilan dan meminimalkan frustrasi.
  • Gaya asuh ini berbeda dari helicopter parenting karena snowplow parents bertindak proaktif sebelum masalah muncul, sementara helicopter parents bereaksi setelah masalah terjadi.
  • Dampak negatif snowplow parenting meliputi terhambatnya perkembangan keterampilan hidup, kurangnya ketahanan, rendahnya kepercayaan diri, peningkatan kecemasan, dan kesulitan dalam pemecahan masalah.

 

Fimela.com, Jakarta - Istilah snowplow parenting, yang juga dikenal sebagai lawnmower parenting atau bulldozer parenting, merujuk pada gaya pengasuhan di mana orang tua secara aktif menyingkirkan segala bentuk hambatan, kesulitan, kegagalan, atau ketidaknyamanan dari jalur anak sebelum mereka menghadapinya. Tujuannya adalah untuk memastikan keberhasilan anak dan meminimalkan rasa frustrasi serta kegagalan. Pendekatan ini, meskipun sering kali didasari oleh niat baik dan keinginan orang tua untuk melindungi, berpotensi menghambat perkembangan keterampilan hidup krusial pada anak.

Seperti sebuah bajak salju yang membersihkan jalan, orangtua dengan gaya ini berupaya menciptakan jalur yang mulus bagi anak-anak mereka agar tidak mengalami rasa sakit, kegagalan, atau ketidaknyamanan. Mereka secara proaktif menghilangkan rintangan sebelum anak memiliki kesempatan untuk menghadapinya. Menurut WebMD, pola pengasuhan snowplow parenting adalah gaya pengasuhan yang berupaya menghilangkan semua rintangan dari jalan anak agar mereka tidak mengalami rasa sakit, kegagalan, atau ketidaknyamanan.

Gaya pengasuhan ini sering kali disamakan dengan helicopter parenting, namun terdapat perbedaan mendasar. Menurut VOX Mental Healt. Orangtua helicopter cenderung "melayang" di atas anak dan melakukan intervensi secara reaktif saat masalah muncul. Sebaliknya, orangtua snowplow bertindak secara proaktif untuk menghilangkan hambatan bahkan sebelum anak menyadarinya. Orangtua snowplow berupaya mencegah anak mengalami kesulitan sama sekali, sementara orang tua helicopter akan datang menyelamatkan saat masalah sudah terjadi.

Ragam Perilaku Orangtua Snowplow dalam Keseharian

Orangtua yang menerapkan gaya snowplow parenting dapat menunjukkan berbagai perilaku yang bertujuan untuk melancarkan jalan anak-anak mereka. Tindakan ini seringkali dimulai dari hal kecil namun dapat berkembang menjadi intervensi yang lebih dalam seiring waktu.

  • Melakukan tugas sekolah

    Orang tua mungkin mengerjakan sebagian besar atau seluruh proyek atau tugas sekolah anak, bahkan menulis esai lamaran kuliah demi anak mereka.

  • Mengintervensi nilai atau guru

    Mereka bisa menghubungi guru secara terus-menerus atau mengintervensi jika anak mendapat nilai buruk, bahkan menelepon sekolah untuk memperdebatkan nilai rendah.

  • Mengurus janji dan jadwal anak

    Menjadwalkan janji dokter atau ganti oli untuk anak yang sudah kuliah, atau mengatur setiap momen untuk menghilangkan kebosanan dan ketidakpastian.

  • Berkomunikasi dengan pihak ketiga

    Mengirim email kepada profesor atau administrator sekolah atas nama anak, atau memanipulasi situasi dengan guru, pelatih, atau konselor.

  • Menyelesaikan konflik anak

    Campur tangan dalam konflik pertemanan atau menyelesaikan perselisihan dengan pelatih atau orangtua lain.

  • Menghindari konsekuensi alami

    Membayar denda atau mengerjakan ulang tugas rumah tangga setelah anak menolak, atau mencegah konsekuensi alami lainnya.

  • Kasus ekstrem suap

    Dalam kasus yang sangat ekstrem, seperti skandal penerimaan perguruan tinggi “Varsity Blues” di AS, orang tua bahkan menyuap untuk menjamin penerimaan anak-anak mereka ke universitas elit.

Dampak Jangka Panjang Snowplow Parenting bagi Anak

Meskipun niat di balik snowplow parenting adalah untuk melindungi dan menjamin keberhasilan anak, pendekatan ini justru dapat menimbulkan konsekuensi negatif yang signifikan terhadap perkembangan mereka di masa depan. Anak-anak yang terlalu dilindungi dari tantangan kecil akan kesulitan menghadapi masalah yang lebih besar saat dewasa.

  • Perkembangan keterampilan terhambat

    Anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan penting seperti manajemen stres, cara mengatasi kegagalan, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. 

  • Kurangnya ketahanan (resilience)

    Dengan melindungi anak dari kegagalan, orangtua snowplow menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan ketekunan dan kemampuan beradaptasi. Mereka kehilangan kemampuan untuk bangkit dari kemunduran.

  • Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)

    Anak-anak mungkin merasa tidak mampu mengatasi kesulitan sendiri dan percaya bahwa mereka tidak dapat membuat keputusan hidup tanpa bimbingan orangtua. Mereka terbiasa bahwa kemajuan terjadi karena ada orang lain yang menyingkirkan hambatan.

  • Rendahnya kepercayaan diri atau harga diri

    Anak-anak dapat menyerap pesan bahwa orangtua mereka tidak percaya mereka bisa menangani sesuatu, yang mengarah pada penurunan rasa diri dan kesulitan percaya pada diri sendiri. 

  • Peningkatan kecemasan dan kesulitan mengatur emosi

    Anak-anak mungkin menjadi lebih cemas, kesulitan mengelola tekanan, dan sulit mengatur emosi karena kurangnya paparan terhadap tantangan yang dapat dikelola. Mereka mungkin merasa kewalahan oleh tantangan yang lebih besar di masa dewasa.

  • Keterampilan pemecahan masalah yang buruk

    Jika orang tua selalu memperbaiki masalah, anak-anak tidak mendapatkan latihan yang diperlukan untuk memecahkan masalah sendiri.

  • Perkembangan kemandirian yang lambat

    Keterampilan hidup berkembang melalui proses coba-coba, sesuatu yang jarang dialami anak-anak yang diasuh dengan gaya snowplow.

  • Kesulitan dengan kata "tidak"

    Anak-anak mungkin kesulitan ketika diberitahu "tidak" karena hambatan biasanya dihilangkan dari jalan mereka.

  • Ketakutan akan kegagalan

    Melindungi anak dari kegagalan dapat menyebabkan mereka takut membuat kesalahan.

  • Rasa berhak (entitlement)

    Terus-menerus melancarkan jalan dapat membuat anak-anak mengharapkan perlakuan istimewa.

  • Kurangnya otonomi

    Gaya asuh ini menghambat perkembangan rasa diri yang kuat dan kemampuan untuk membuat keputusan mandiri. Anak-anak mungkin berjuang untuk membentuk identitas mereka sendiri.

Fenomena Snowplow Parenting di Berbagai Belahan Dunia

Kekhawatiran terhadap snowplow parenting merupakan fenomena global, dengan berbagai wilayah menunjukkan tren dan dampaknya. Para ahli secara umum menyarankan agar orang tua membiarkan anak-anak membuat kesalahan, bertanggung jawab, dan mengalami konsekuensi sebagai pelajaran penting untuk keberhasilan di dunia nyata.

Di Amerika Serikat, banyak sumber membahas snowplow parenting, menyoroti kekhawatiran di kalangan psikolog dan pendidik. Skandal penerimaan perguruan tinggi "Varsity Blues" pada tahun 2019 menjadi contoh ekstrem dari gaya asuh ini, di mana orang tua menyuap untuk menjamin masuknya anak-anak mereka ke universitas elit. Puluhan orangtua, termasuk aktris Lori Loughlin dan Felicity Huffman, didakwa karena membayar suap hingga $500.000 untuk memastikan penerimaan anak mereka. Para ahli di AS menekankan bahwa meskipun niatnya baik, pendekatan ini mencegah anak-anak mengembangkan ketahanan, keterampilan memecahkan masalah, dan kepercayaan diri.

Di Australia, diskusi mengenai snowplow parenting muncul sebagai salah satu faktor di balik krisis disiplin sekolah yang memburuk. Para guru mengamati bahwa anak-anak yang terbiasa dengan orang tua yang menghilangkan semua hambatan mungkin kurang memiliki kemampuan untuk menghadapi konsekuensi atau tantangan di lingkungan sekolah. Psikolog Ron Rapee dan rekan-rekannya di Macquarie University menemukan bahwa ibu yang cemas atau terlalu protektif cenderung terlalu terlibat dalam tugas anak untuk mengurangi tekanan, yang justru meningkatkan kerentanan anak terhadap kecemasan.

Sementara itu, di India, snowplow parenting semakin umum, terutama di perkotaan. Hal ini didorong oleh faktor-faktor seperti ukuran keluarga yang menyusut, di mana energi emosional dan sumber daya terkonsentrasi pada lebih sedikit anak, serta persaingan ketat dalam pendidikan dan karier. Para ahli di India memperingatkan bahwa hal ini dapat merusak ketahanan dan kemandirian anak dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak membantu anak dapat memiliki biaya psikologis yang tidak diinginkan, termasuk kecemasan yang lebih tinggi dan keterampilan mengatasi masalah yang lebih rendah.

Meskipun tidak ada sumber spesifik yang secara eksplisit melabeli "Eropa" dalam konteks ini, konsep snowplow parenting dan dampaknya bersifat universal dalam psikologi perkembangan. Publikasi global seperti The Times of India dan Forbes sering mencerminkan tren dan kekhawatiran yang relevan di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa. Kekhawatiran tentang anak-anak yang kurang mandiri, cemas, dan tidak memiliki keterampilan mengatasi masalah adalah topik yang relevan secara global. Para ahli menyarankan agar orang tua membiarkan anak-anak membuat kesalahan dan belajar dari konsekuensinya untuk membangun kemandirian.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading