Sukses

FimelaMom

Menghadapi Mom-Shaming dengan Bijak dalam Pengasuhan Balita

Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua sering kali berarti harus mengambil banyak keputusan setiap hari, termasuk soal cara menghadapi anak yang sedang rewel, memilih makanan, menentukan waktu tidur, hingga menetapkan batasan. Di tengah proses tersebut, komentar dari orang lain terkadang ikut muncul. Situasi seperti ini dapat menjadi bagian dari mom-shaming, yaitu ketika seorang ibu merasa dinilai atau disalahkan karena cara ia mengasuh anak. Tidak selalu berupa kritik secara langsung, komentar sederhana seperti “kok anaknya dibiarin begitu?” juga bisa membuat seorang ibu merasa sedang dinilai dan dipertanyakan dalam menjalankan perannya sebagai orangtua.

Dilansir dari Parents, parental shaming dapat muncul ketika seseorang mengkritik pilihan orangtua dalam mengasuh anak. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari komentar tentang makanan dan kedisiplinan hingga pilihan pengasuhan. Media sosial juga dapat membuat komentar semacam ini semakin mudah diberikan karena orang dapat menilai situasi tanpa benar-benar mengetahui kondisi keluarga yang bersangkutan.

Pada orangtua dengan balita, situasi seperti ini mungkin terasa semakin dekat. Balita sedang berada dalam fase belajar mengenali emosi dan keinginan mereka. Tantrum, menolak makan, atau tiba-tiba menangis di tempat umum bisa menjadi bagian dari keseharian. Namun, ketika kejadian tersebut dilihat orang lain, ibu bisa saja mendapatkan komentar mengenai cara menenangkan atau mendisiplinkan anak. Komentar atau penilaian seperti ini dapat menjadi bentuk mom-shaming, yang membuat ibu merasa cara mengasuhnya dianggap kurang tepat atau tidak sesuai dengan harapan orang lain.

Padahal, satu situasi yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita. Orang lain mungkin hanya melihat beberapa menit dari kejadian, sementara ibu mengetahui kebiasaan, karakter, dan kebutuhan anaknya setiap hari. Karena itu, menghadapi kritik tidak selalu berarti harus memberikan penjelasan panjang. Ada kalanya komentar tersebut cukup didengarkan, dipertimbangkan, lalu dilepaskan jika memang tidak sesuai dengan kondisi keluarga.

Tidak Semua Kritik Harus Masuk Hati, Ini Cara Menyikapinya

Ketika seseorang memberikan komentar tentang cara mengasuh anak, respons pertama yang muncul mungkin adalah keinginan untuk langsung membela diri. Namun, mengambil jeda sebelum merespons dapat membantu ibu melihat situasinya dengan lebih tenang. Coba tanyakan pada diri sendiri, apakah komentar tersebut benar-benar berisi informasi yang bisa dipertimbangkan atau hanya merupakan penilaian pribadi? Tidak semua orang yang memberikan pendapat mengetahui kebiasaan anak, kondisi keluarga, maupun alasan di balik keputusan yang dibuat.

Misalnya, seorang ibu mungkin memilih membawa camilan tertentu ketika bepergian karena sudah mengetahui makanan apa yang biasanya dapat diterima anaknya. Orang lain yang melihat dari luar mungkin memiliki pilihan berbeda. Perbedaan tersebut tidak otomatis membuat salah satu pihak menjadi orangtua yang lebih baik.

Hal yang sama berlaku ketika menghadapi balita yang sedang tantrum. Ada orangtua yang memilih memberikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri, sementara yang lain lebih nyaman mengalihkan perhatian atau mengajak anak berbicara. Setiap keluarga bisa memiliki pendekatan berbeda selama tetap memperhatikan kebutuhan dan keamanan anak.

Jika kritik datang dari orang terdekat, ibu juga bisa menyampaikan batasan dengan cara sederhana. Tidak perlu berdebat panjang untuk menjelaskan setiap keputusan. Kalimat seperti, “Aku paham maksudnya, tapi cara ini yang sedang kami coba,” sudah cukup untuk menunjukkan bahwa masukan tersebut didengar tanpa harus langsung diikuti.

Sementara itu, ketika komentar muncul di media sosial, tidak semua komentar membutuhkan balasan. Mengurangi interaksi dengan akun yang membuat tidak nyaman atau memilih lingkungan digital yang lebih suportif juga dapat membantu. Pada akhirnya, menerima masukan bukan berarti harus menerima semua penilaian. Ada perbedaan antara mendengarkan dan merasa wajib mengikuti.

Tidak Harus Jadi Ibu yang Sempurna untuk Menjadi Ibu yang Baik

Momen ketika balita menangis di tempat umum, menolak makanan, atau sulit diajak mengikuti aturan memang dapat membuat orangtua merasa kewalahan. Ditambah komentar dari sekitar, situasi yang sebenarnya sudah melelahkan bisa terasa semakin berat.

Namun, menjadi orangtua bukan berarti harus selalu berhasil menjaga semuanya tetap tenang. Ada hari ketika rencana berjalan lancar, tetapi ada juga hari ketika semuanya terasa berantakan. Hal tersebut tidak serta-merta membuat seorang ibu gagal menjalankan perannya.

Daripada membandingkan diri dengan ibu lain, perhatian bisa dikembalikan kepada kebutuhan anak sendiri. Setiap balita memiliki karakter, kebiasaan, dan tahap perkembangan yang berbeda. Apa yang terlihat berhasil pada keluarga lain belum tentu cocok ketika diterapkan di rumah.

Hal ini juga berlaku untuk konten parenting di media sosial. Berbagai tips dapat menjadi sumber informasi, tetapi tidak harus dianggap sebagai aturan yang wajib diterapkan. Ibu tetap bisa memilih mana yang terasa relevan dan meninggalkan hal yang tidak sesuai dengan kondisi keluarga.

Lingkungan yang suportif juga dapat membantu ketika rasa ragu mulai muncul. Berbicara dengan pasangan, keluarga, atau teman yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi ruang untuk melepas beban setelah menghadapi hari yang sulit.

Penulis: Najwa Maulidina

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading