Sukses

FimelaMom

Jangan Langsung Dimarahi, Ini Cara Membaca Bahasa Tubuh Balita Saat Frustrasi

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menghadapi balita yang tiba-tiba menangis, berteriak, atau menunjukkan bahasa tubuh seperti menolak dan menjauh memang bisa membuat orangtua bingung. Terlebih jika penyebabnya terlihat sepele, seperti tidak mendapatkan mainan yang diinginkan atau diminta berhenti bermain. Padahal, bagi si kecil, situasi tersebut bisa terasa cukup besar.

Dilansir dari Raising Children Network, balita masih belajar memahami sekaligus mengatur emosinya. Karena kemampuan mereka untuk menjelaskan perasaan belum sepenuhnya berkembang, rasa kecewa atau frustrasi sering muncul lewat tangisan, teriakan, gerakan tubuh, hingga perubahan perilaku.

Bukan Berarti Si Kecil Sengaja Membuat Kesal

Pada usia balita, kemampuan untuk mengendalikan keinginan belum sama seperti orang dewasa. Mereka bisa tahu apa yang diinginkan, tetapi belum tentu tahu bagaimana cara menghadapi rasa kecewa ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Misalnya, seorang anak ingin mengambil mainan sendiri tetapi kesulitan membukanya. Setelah beberapa kali mencoba, ia mungkin mulai merengek, melempar mainan, atau meminta bantuan sambil menangis.

Situasi seperti ini mudah dianggap sebagai perilaku nakal. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada rasa kesal karena tidak berhasil melakukan sesuatu yang sedang ingin ia lakukan.

Hal yang sama bisa terjadi ketika rutinitasnya berubah. Pergantian aktivitas, rasa lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi juga dapat membuat balita lebih mudah kewalahan.

Karena itu, memperhatikan apa yang terjadi sebelum si kecil mulai rewel bisa membantu orangtua memahami pemicunya. Dari sana, bahasa tubuh dan perilakunya akan lebih mudah dibaca.

Kenali Tanda Balita Mulai Kewalahan

Tidak semua balita menunjukkan rasa frustrasi dengan cara yang sama. Ada yang langsung menangis, sementara lainnya menjadi lebih diam, menjauh, atau terus mengulang permintaan.

Karena itu, orangtua bisa memperhatikan perubahan yang muncul sebelum si kecil benar-benar kehilangan kendali atas emosinya.

1. Wajah Mulai Berubah

Perubahan ekspresi bisa menjadi salah satu tanda awal. Balita mungkin mulai mengerutkan dahi, cemberut, atau terlihat gelisah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.

2. Gerakan Tubuh Semakin Intens

Coba perhatikan jika si kecil mulai menghentakkan kaki, mengepalkan tangan, menjatuhkan tubuh, atau bergerak dengan lebih kasar dari biasanya. Gerakan tersebut dapat menjadi cara tubuh menunjukkan rasa tidak nyaman.

3. Terus Mengulang Permintaan

Ada kalanya balita terus meminta hal yang sama meskipun sudah mendapatkan jawaban. Bukan selalu karena ingin membantah, tetapi karena ia masih kesulitan menerima bahwa keinginannya tidak bisa terpenuhi.

4. Suara Berubah Menjadi Lebih Keras

Rengekan yang perlahan berubah menjadi tangisan atau teriakan juga patut diperhatikan. Saat kesulitan menemukan kata-kata untuk menjelaskan perasaannya, suara bisa menjadi cara paling mudah bagi anak untuk mengekspresikan emosi.

5. Mulai Memukul atau Melempar

Ketika sudah sangat kewalahan, sebagian anak dapat memukul, menendang, menggigit, atau melempar benda. Perilaku ini tetap perlu dihentikan, terutama jika bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Yang penting, jangan hanya melihat satu tanda secara terpisah. Perhatikan juga situasi yang terjadi sebelumnya. Dari kebiasaan tersebut, orangtua bisa perlahan mengenali pola yang biasanya membuat si kecil frustrasi.

Begini Cara Merespons Balita yang Sedang Frustrasi

Setelah mengenali tanda-tandanya, langkah berikutnya adalah menentukan respons yang tepat. Saat anak sedang menangis atau berteriak, orangtua mungkin tergoda untuk langsung berkata, “Sudah, jangan menangis,” atau meminta mereka berhenti.

Namun, memberikan waktu untuk menenangkan diri bisa menjadi langkah awal yang lebih membantu. Orangtua dapat berada di dekat anak dengan tetap menjaga suara dan sikap agar tidak ikut terbawa emosi.

Bantu Beri Nama pada Perasaannya

Ketika situasi mulai lebih tenang, coba bantu anak memahami apa yang sedang dirasakan. Kalimat sederhana seperti, “Kamu kecewa karena tidak boleh main lagi, ya?” bisa menjadi awal.

Anak tidak harus langsung menjawab. Yang terpenting, ia mulai mengenal hubungan antara perasaan dan kata yang menggambarkannya.

Berikan Pilihan Sederhana

Jika memungkinkan, berikan dua pilihan yang masih sesuai dengan batasan orangtua. Misalnya, “Mau simpan mainannya sendiri atau Mama bantu?” Cara ini memberi anak sedikit ruang untuk memilih tanpa membuat aturan menjadi hilang.

Tetap Tegas pada Perilaku yang Tidak Aman

Memahami emosi bukan berarti membiarkan perilaku yang menyakiti. Jika anak memukul, orangtua tetap dapat menghentikannya sambil mengatakan, “Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul.”

Setelah situasi mereda, orangtua juga bisa melihat kembali pemicunya. Apakah anak sedang lapar, mengantuk, terlalu lelah, atau kesulitan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain?

Dengan mengenali pola tersebut, orangtua dapat lebih siap menghadapi situasi serupa berikutnya. Tidak harus selalu berhasil membuat anak langsung tenang. Yang penting, sedikit demi sedikit, si kecil belajar bahwa emosinya boleh dirasakan dan ada cara yang lebih aman untuk menyampaikannya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading