Sukses

FimelaMom

Cyberbullying Marak pada Anak SD, Kenali Tanda-Tandanya dan Cara Tepat Orangtua Bersikap

Fimela.com, Jakarta - Cyberbullying menjadi sebuah fenomena buruk di balik canggihnya dunia digital. Siapapun bisa jadi korban dan pelaku cyberbullying tak terkecuali anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Di satu sisi, gadget dapat membantu anak belajar, bermain, dan berkomunikasi dengan teman. Namun, semakin sering anak beraktivitas di dunia digital, semakin penting pula bagi orangtua untuk memahami berbagai risiko yang mungkin muncul, salah satunya cyberbullying.

Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, gim online, maupun platform lainnya. Dilansir dari UNICEF Parenting, bentuknya dapat berupa pesan atau komentar yang menyakitkan, penyebaran rumor, ancaman, hingga sengaja mengucilkan seseorang dari percakapan atau kelompok online.

Bagi anak SD, pengalaman seperti ini bisa terasa membingungkan. Mereka mungkin belum memiliki kemampuan untuk memahami situasi sepenuhnya atau menentukan langkah yang tepat ketika menerima perlakuan tidak menyenangkan di internet.

Tidak semua anak juga akan langsung mengatakan bahwa dirinya sedang mengalami perundungan. Ada yang memilih diam, menganggap kejadian tersebut akan berhenti sendiri, atau tidak tahu kepada siapa harus bercerita.

Di sinilah peran orangtua menjadi penting. Bukan berarti harus selalu mengawasi setiap aktivitas anak di internet, tetapi mengetahui kebiasaan digitalnya dapat membantu orangtua lebih peka ketika sesuatu mulai berubah.

orangtua bisa mulai dari hal sederhana, seperti mengetahui platform yang sering digunakan anak, dengan siapa mereka biasanya berinteraksi, dan jenis aktivitas apa yang dilakukan secara online.

Selain itu, penting untuk membangun kebiasaan berbicara tentang pengalaman di internet. Ketika obrolan tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian, anak akan lebih mudah mengungkapkan jika suatu saat menemukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Kenali Perubahan yang Mungkin Muncul pada Anak

Salah satu tantangan dalam mengenali cyberbullying adalah bentuknya tidak selalu terlihat seperti perundungan secara langsung. Tidak ada luka fisik yang bisa dilihat, tetapi pengalaman tersebut dapat memengaruhi emosi dan kebiasaan anak.

Menurut UNICEF Parenting, beberapa tanda yang dapat muncul ketika anak mengalami cyberbullying antara lain menjadi lebih menarik diri, menunjukkan tekanan emosional setelah menggunakan perangkat, mengalami perubahan pola tidur atau makan, serta kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai.

Pada anak SD, perubahan tersebut dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Anak yang biasanya antusias bermain bersama teman mungkin mulai memilih untuk berada sendiri. Ia juga bisa kehilangan semangat mengikuti kegiatan yang sebelumnya membuatnya senang.

Aktivitas sekolah juga dapat berubah. Anak mungkin tiba-tiba enggan pergi ke sekolah, lebih sulit berkonsentrasi saat belajar, atau tampak tidak nyaman ketika membicarakan teman-temannya.

Kebiasaan menggunakan gadget pun bisa berubah. Sebagian anak mungkin terus-menerus mengecek ponsel karena khawatir ada pesan atau komentar baru. Sementara itu, anak lainnya justru menjauh dari gadget karena merasa tidak nyaman dengan apa yang muncul di dalamnya.

Meski begitu, satu perubahan saja tidak berarti anak pasti menjadi korban cyberbullying. Perilaku serupa dapat muncul karena masalah pertemanan, tekanan sekolah, atau berbagai hal lain yang sedang dihadapi anak.

Karena itu, orangtua sebaiknya melihat perubahan tersebut sebagai sinyal untuk membuka percakapan, bukan langsung memberikan kesimpulan. Pertanyaan sederhana seperti, “Tadi ada sesuatu yang bikin kamu tidak nyaman?” atau “Ada yang terjadi saat kamu main atau ngobrol online?” bisa menjadi awal percakapan.

Jika anak belum ingin bercerita, berikan waktu. Yang penting, ia tahu bahwa orangtua siap mendengarkan ketika dirinya sudah merasa siap.

Cara Orangtua Bersikap Saat Anak Mengalami Cyberbullying

Jika anak akhirnya bercerita tentang pengalaman buruk di dunia maya, usahakan untuk tidak langsung bereaksi dengan marah atau panik. Respons pertama orangtua dapat menentukan apakah anak akan merasa nyaman untuk melanjutkan ceritanya atau justru memilih menutup diri.

Mulailah dengan mendengarkan. Biarkan anak menjelaskan apa yang terjadi dengan caranya sendiri. Hindari pertanyaan yang menyudutkan, seperti, “Kenapa kamu tidak melawan?” atau “Kenapa masih berteman dengan dia?”

Sebaliknya, orangtua dapat menegaskan bahwa anak tidak pantas mendapatkan perlakuan tersebut dan tidak perlu merasa bersalah karena menjadi korban. Validasi sederhana dapat membuat anak merasa didukung ketika sedang menghadapi situasi yang sulit.

Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan orangtua

Setelah mengetahui apa yang terjadi, orangtua dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Simpan bukti yang ada
screenshot pesan, komentar, unggahan, atau percakapan dapat disimpan jika nantinya diperlukan untuk melaporkan kejadian tersebut.
  2. Blokir akun yang mengganggu. Bantu anak menggunakan fitur blokir agar pelaku tidak dapat terus mengirim pesan atau melakukan interaksi yang mengganggu.
  3. Laporkan konten atau akun.
Gunakan fitur report pada platform jika terdapat komentar, unggahan, atau pesan yang termasuk perundungan.
  4. Beri tahu pihak sekolah bila diperlukan.
Jika pelaku merupakan teman sekolah atau kejadian tersebut mulai memengaruhi aktivitas belajar dan pergaulan, orangtua dapat menghubungi guru atau pihak sekolah untuk mencari solusi bersama.
  5. Tetap dampingi anak setelah akun diblokir atau masalah dilaporkan. Perhatikan kembali kondisi anak dan beri kesempatan untuk bercerita jika masih merasa tidak nyaman.

Setelah masalah ditangani, anak mungkin membutuhkan waktu untuk kembali nyaman menggunakan gadget, berinteraksi dengan teman, atau menjalani rutinitas sekolah seperti biasa.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading