Fimela.com, Jakarta - Sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan berbagai senyawa antioksidan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, kandungan gizi tersebut dapat berkurang jika sayuran diolah dengan cara yang kurang tepat. Salah satu metode memasak yang paling sering digunakan adalah merebus, tetapi proses ini juga berpotensi menyebabkan hilangnya sebagian nutrisi, terutama vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C dan beberapa vitamin B.
Banyak orang mengira bahwa selama sayuran sudah matang, nilai gizinya akan tetap sama. Padahal, cara merebus, lama waktu memasak, hingga jumlah air yang digunakan sangat memengaruhi kandungan nutrisi yang tersisa. Kesalahan-kesalahan sederhana yang sering dilakukan di dapur justru membuat vitamin dan mineral larut ke dalam air rebusan atau rusak akibat paparan panas yang terlalu lama.
Agar manfaat sayuran tetap maksimal, penting untuk mengetahui kebiasaan apa saja yang sebaiknya dihindari saat merebus. Lantas apa saja kesalahan merebus sayuran yang membuat gizinya banyak hilang dan masih sering dilakukan? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (24/7/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Advertisement
1. Merebus Sayuran Terlalu Lama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5424191/original/080789700_1764135901-Gemini_Generated_Image_w8iw8dw8iw8dw8iw.png)
Kesalahan yang paling umum adalah membiarkan sayuran berada di dalam air mendidih terlalu lama. Banyak orang beranggapan bahwa semakin lama direbus maka sayuran akan semakin matang dan aman dikonsumsi. Padahal, waktu perebusan yang berlebihan justru mempercepat kerusakan berbagai vitamin yang sensitif terhadap panas, terutama vitamin C, folat, dan beberapa jenis vitamin B. Selain itu, tekstur sayuran menjadi terlalu lembek sehingga kurang menarik saat disantap.
Semakin lama sayuran terkena suhu tinggi, semakin besar pula jumlah nutrisi yang berpindah ke air rebusan. Brokoli, bayam, buncis, dan asparagus termasuk sayuran yang kandungan vitaminnya cukup mudah berkurang apabila dimasak terlalu lama. Bahkan, warna hijau cerah yang berubah menjadi hijau kusam sering menjadi tanda bahwa sebagian pigmen alami dan kandungan nutrisinya mulai mengalami degradasi.
Idealnya, rebus sayuran hanya hingga mencapai tingkat kematangan yang diinginkan atau tender-crisp, yaitu masih sedikit renyah tetapi sudah matang. Untuk sebagian besar sayuran hijau, waktu perebusan sekitar 2–5 menit sudah cukup. Cara ini membantu mempertahankan warna, tekstur, rasa, sekaligus kandungan gizinya agar tetap optimal.
2. Menggunakan Air Terlalu Banyak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4607279/original/041007300_1697023460-michal-b-V5WDW9gvyCo-unsplash.jpg)
Banyak orang mengisi panci dengan air hingga penuh saat merebus sayuran. Padahal, semakin banyak air yang digunakan, semakin besar peluang vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, ikut larut ke dalam air rebusan. Akibatnya, kandungan nutrisi yang benar-benar dikonsumsi dari sayuran menjadi jauh berkurang.
Selain menyebabkan hilangnya vitamin, penggunaan air berlebihan juga membuat proses pemanasan berlangsung lebih lama sebelum air mencapai titik didih. Sayuran pun terpapar panas dalam waktu yang lebih panjang sehingga risiko penurunan kualitas gizi semakin meningkat. Hal ini terutama berlaku untuk sayuran berdaun hijau yang memiliki jaringan lunak dan cepat matang.
Sebaiknya gunakan air secukupnya, hanya hingga sayuran terendam atau bahkan lebih sedikit jika memungkinkan. Untuk beberapa jenis sayuran, metode mengukus justru lebih disarankan karena menggunakan air lebih sedikit sehingga kehilangan nutrisi dapat diminimalkan. Jika tetap merebus, manfaatkan air rebusannya sebagai bahan sup atau kaldu agar sebagian nutrisi yang larut tetap dapat dikonsumsi.
Advertisement
3. Memotong Sayuran Terlalu Kecil Sebelum Direbus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5504540/original/064901100_1771241314-woman-cutting-iceberg-cabbage.jpg)
Memotong sayuran menjadi potongan yang sangat kecil memang dapat mempercepat proses memasak. Namun, cara ini juga memperbesar luas permukaan sayuran yang bersentuhan langsung dengan air panas. Semakin luas permukaannya, semakin banyak vitamin dan mineral yang berpotensi larut ke dalam air selama perebusan berlangsung.
Selain itu, proses pemotongan juga merusak sebagian dinding sel tanaman sehingga senyawa antioksidan lebih mudah terpapar oksigen dan panas. Kondisi tersebut mempercepat penurunan kualitas nutrisi, terutama pada sayuran yang kaya vitamin C seperti paprika, brokoli, atau kubis.
Sebaiknya potong sayuran dalam ukuran sedang atau cukup besar sesuai kebutuhan. Bila memungkinkan, rebus dalam keadaan utuh, kemudian potong setelah matang. Cara ini membantu mempertahankan kandungan gizi sekaligus menjaga tekstur sayuran tetap baik saat disajikan.
4. Memasukkan Sayuran Sejak Air Masih Dingin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271687/original/092509400_1603100635-food-3267634_1920.jpg)
Sebagian orang langsung memasukkan sayuran ke dalam panci yang masih berisi air dingin, lalu memanaskannya bersama-sama. Kebiasaan ini membuat sayuran berada dalam paparan panas lebih lama karena harus menunggu air mencapai titik didih. Akibatnya, vitamin yang sensitif terhadap suhu tinggi memiliki lebih banyak waktu untuk mengalami kerusakan.
Selain berpengaruh pada kandungan gizi, metode ini juga dapat membuat tekstur sayuran menjadi kurang menarik. Sayuran cenderung lebih lembek karena mengalami proses pemanasan bertahap yang lebih panjang dibandingkan jika dimasukkan setelah air mendidih.
Cara yang lebih baik adalah mendidihkan air terlebih dahulu, baru kemudian memasukkan sayuran. Teknik ini mempercepat proses pemasakan sehingga waktu paparan panas menjadi lebih singkat. Hasilnya, warna sayuran tetap cerah, teksturnya lebih renyah, dan kandungan gizinya lebih terjaga.
Advertisement
5. Tidak Segera Mengangkat Sayuran Setelah Matang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499600/original/049762800_1770791005-unnamed__6_.jpg)
Kesalahan berikutnya adalah membiarkan sayuran tetap berada di dalam air panas meskipun kompor sudah dimatikan. Banyak orang mengira proses memasak berhenti saat api padam, padahal suhu air yang masih tinggi tetap melanjutkan proses pematangan. Akibatnya, sayuran menjadi terlalu matang (overcooked) dan kehilangan lebih banyak nutrisi.
Paparan panas yang terus berlangsung juga membuat warna hijau sayuran berubah menjadi kusam. Tekstur yang semula renyah berubah menjadi lembek, sementara cita rasanya menjadi kurang segar. Kondisi ini menandakan bahwa sebagian struktur sel tanaman telah mengalami kerusakan akibat panas berlebih.
Begitu sayuran mencapai tingkat kematangan yang diinginkan, segera angkat dan tiriskan. Untuk sayuran hijau, Anda juga dapat langsung merendamnya sebentar dalam air es (ice bath). Teknik ini menghentikan proses memasak, menjaga warna tetap cerah, serta membantu mempertahankan tekstur dan kualitas gizinya.
6. Menutup Panci Rapat Selama Perebusan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4015176/original/043469000_1651840957-pexels-oleg-magni-3800512_1_.jpg)
Menutup panci memang membantu air lebih cepat mendidih. Namun, untuk beberapa jenis sayuran hijau, menutup panci terlalu rapat selama proses perebusan dapat memerangkap asam alami yang keluar dari sayuran. Asam tersebut mempercepat perubahan warna hijau menjadi kusam dan dapat memengaruhi cita rasa.
Selain itu, suhu di dalam panci menjadi lebih stabil dan tinggi sehingga beberapa vitamin yang sensitif terhadap panas mengalami penurunan lebih cepat. Meski perbedaannya tidak terlalu besar, kebiasaan ini tetap dapat memengaruhi kualitas akhir sayuran, terutama jika waktu perebusan juga terlalu lama.
Untuk sayuran hijau seperti bayam, brokoli, atau buncis, banyak ahli menyarankan merebus dalam air yang sudah mendidih dengan waktu singkat. Jika menggunakan tutup, bukalah sesekali atau angkat segera setelah sayuran matang agar kualitas warna dan teksturnya tetap terjaga.
Advertisement
7. Langsung Membuang Air Rebusan Sayuran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4589328/original/011245700_1695724194-pexels-castorly-stock-3722585.jpg)
Air rebusan sayuran sering kali langsung dibuang setelah proses memasak selesai. Padahal, sebagian vitamin larut air, mineral, dan senyawa alami dari sayuran telah berpindah ke dalam air tersebut. Jika air rebusan dibuang begitu saja, sebagian nutrisi yang masih bisa dimanfaatkan ikut terbuang.
Hal ini terutama berlaku jika sayuran direbus untuk membuat sup, semur, atau hidangan berkuah. Air rebusan sebenarnya masih mengandung berbagai zat gizi yang dapat memberikan manfaat apabila ikut dikonsumsi. Karena itu, membuangnya tanpa dimanfaatkan menjadi salah satu bentuk pemborosan nutrisi.
Jika memungkinkan, gunakan air rebusan sebagai kaldu dasar untuk sup, saus, atau kuah masakan lainnya. Namun, pastikan sayuran telah dicuci bersih sebelum direbus sehingga air rebusan tetap aman dan layak digunakan sebagai bagian dari hidangan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kesalahan Merebus Sayuran yang Membuat Gizinya Banyak Hilang
1. Mengapa vitamin pada sayuran bisa hilang saat direbus?
Beberapa vitamin, terutama vitamin C dan vitamin B kompleks, bersifat larut dalam air dan sensitif terhadap panas. Saat direbus terlalu lama atau menggunakan banyak air, vitamin tersebut dapat larut ke dalam air rebusan atau rusak akibat suhu tinggi.
2. Berapa lama waktu ideal merebus sayuran?
Tergantung jenis sayurannya. Sayuran hijau seperti brokoli, bayam, dan buncis umumnya cukup direbus sekitar 2–5 menit hingga matang tetapi masih renyah (tender-crisp).
3. Mana yang lebih baik, merebus atau mengukus sayuran?
Mengukus umumnya lebih baik untuk mempertahankan kandungan gizi karena menggunakan lebih sedikit air sehingga kehilangan vitamin yang larut dalam air dapat diminimalkan.
4. Apakah air rebusan sayuran boleh dikonsumsi?
Ya, selama sayuran telah dicuci bersih sebelum dimasak. Air rebusan masih mengandung sebagian vitamin dan mineral sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kaldu atau kuah sup.
5. Bagaimana cara terbaik menjaga gizi sayuran saat dimasak?
Gunakan air secukupnya, rebus dalam waktu singkat setelah air mendidih, potong sayuran secukupnya, segera angkat setelah matang, dan manfaatkan air rebusan bila memungkinkan. Cara-cara tersebut membantu mempertahankan kandungan nutrisi agar tetap optimal.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5850567/original/006992200_1778751754-pexels-guvo59-28913737.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305887/original/058775500_1784806969-0becea39-de36-4929-b4ff-f33cb22aab8e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305928/original/063081800_1784808757-Sup_Oyong_Telur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305743/original/060574500_1784801176-konstantinos-papadopoulos-tlk31LMrEkk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305678/original/035482400_1784800049-Screenshot_2026-07-23_162628.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305290/original/073842500_1784790638-Gemini_Generated_Image_jcu1i8jcu1i8jcu1.jpg)
![Aktivitas seni mengasah kreativitas anak Anda. [Dok/Pexels.com/RDNE Stock project].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/sYRo04pdq3jyVEYK1TRLHwhCotw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6211232/original/000151300_1779089269-pexels-rdne-7605918.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260534/original/047578000_1781600279-pexels-silverkblack-23224898.jpg)
![Penting bagi orangtua untuk menciptakan pengalaman liburan sekolah yang lebih interaktif agar anak tetap antusias selama perjalanan.[Dok/freepik.com/bearfotos]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/GSPzTjjXeOt4Hp6uEmaK-AJcRQI=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5694836/original/038786000_1778572235-5189.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7756548/original/097066400_1780565583-pexels-pixabay-39691_2.jpg)
![Staycation yang dikemas secara kreatif akan memperkuat ikatan emosional bersama anak. [Dok/Pexels.com/Micah Eleazar].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/jfrAvSsGA_Vx6yc0_1deRA3GU5Y=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7737925/original/016472200_1780544463-pexels-micahways-10498601.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256412/original/010386300_1750236587-sensual-photo-cute-little-girl-people-walks-outside-woman-brown-coat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562566/original/083037000_1776832876-2148454494.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9168686/original/052028100_1783089795-SnapInsta.to_731390804_18633683221028089_4612980540689131065_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111127/original/006590700_1783059947-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_13.21.44__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537481/original/061504900_1774424944-pexels-polina-tankilevitch-3735155.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6928406/original/044133000_1779698635-young-activists-preparing-action.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2972913/original/082767900_1574245378-josh-applegate-p_KJvKVsH14-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2944946/original/016947600_1571646509-thiago-cerqueira-Wr3HGvx_RSM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4038631/original/060126900_1653984049-humphrey-muleba-xy3iffqI4L0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384323/original/033026900_1760768424-IMG-20251018-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521169/original/060978200_1772682613-young-woman-looking-concerned-class.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542533/original/032149900_1774946379-smiley-family-high-five.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3642511/original/087961000_1637727628-pexels-photo-3585088.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306025/original/092003100_1784830178-IMG-20260723-WA0127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306002/original/020394900_1784825028-IMG_1190.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305997/original/091903700_1784823366-89568794-B5E5-4F02-BDC2-9CE57EBB9058.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305993/original/036458400_1784821760-IMG_6032.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305984/original/092121400_1784820529-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_19.46.44.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304696/original/079638200_1784734184-IMG_6671.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304722/original/033806400_1784740627-Five_Spices_Smoked_Duck.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304646/original/055505200_1784727995-IMG_2233.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2944946/original/016947600_1571646509-thiago-cerqueira-Wr3HGvx_RSM-unsplash.jpg)