Sukses

Health

6 Cara Deteksi Dini Kanker Prostat dan Penyebabnya seperti yang Dialami SBY

Fimela.com, Jakarta Kanker prostat merupakan salah satu kanker terbanyak yang dialami oleh laki-laki di dunia dan ke-4 pada laki-laki di Indonesia. Pada tahun 2013, di Indonesia diperkirakan terdapat 25.012 pria yang menderita kanker prostat.

Kanker prostat pun dialami oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab disapa SBY, didiagnosa mengidap kanker prostat.

"Sesuai dengan diagnosa dari tim dokter, Bapak SBY mengalami kanker prostat (prostate cancer)," kata Staf Pribadi SBY, Ossy Dermawan dikutip dari keterangan resmi yang diterima Liputan6.com pada Selasa, 2 November 2021.

Ossy mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, melalui metode MRI, biopsi, positron emission tomography (PET) specific membrane antigen (SMA), scan, dan pemeriksaan yang lain, kanker prostat yang diidap SBY masih berada dalam stadium awal.

Ossy menyampaikan setelah dilakukan konsultasi dengan tim dokter Indonesia termasuk para urolog senior, diputuskan pengobatan kanker prostat dilakukan di sebuah rumah sakit di luar negeri.

SBY pun sudah berangkat untuk melakukan pengobatan di Minneapolis, Amerika Serikat. Rencananya SBY akan menjalani pengobatan 1,5 bulan.

Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM, Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U(K) mengatakan jika pasien kanker prostat yang didiagnosis pada stadium dini, akan memiliki angka harapan hidup di atas 90 persen.

Sayangnya sebagian besar pasien dengan kanker prostat stadium awal tidak menyadari adanya gejala. Gejala terkadang baru dirasakan pasien saat kanker sudah menyebar ke organ lainnya.

Gejala yang dikeluhkan meliputi gangguan kemih, adanya darah pada urin, pembesaran kelenjar getah bening sekitar prostat, penurunan berat badan dan jika kanker sudah menyebar ke tulang dapat menyebabkan nyeri tulang.

Untuk itu penting bagaimana tahu deteksi kanker Prostat, berikut penjelasannya.

1. Pemeriksaan dini kanker prostat disarankan untuk mulai dilakukan pada pria sekitar usia 40 tahun.

2. Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter meliputi tanya jawab tentang ada atau tidaknya keluhan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

3. Pemeriksaan rektal dan pemeriksaan prostate-specificagent (PSA) dari sampel darah. Pada pemeriksaan rektal, dokter akan menilai perubahan fisik pada prostat pasien: apakah ada pembesaran, asimetri, perubahan pada permukaan dan konsistensinya. Pada pemeriksaan PSA, kadar protein yang diproduksi kelenjar prostat akan diukur volumenya dan akan dinilai apakah dalam batas normal.

4. Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti pemeriksaan urin, pemeriksaan fungsi ginjal, dan ultrasonography (USG) dapat dilakukan sesuai dengan indikasi.

5. Pemeriksaan dini yang dilakukan diharapakan dapat menemukan pasien risiko tinggi, agar dapat dilakukan pemeriksaan lanjut seperti biopsi. Selain itu, pemeriksaan dini juga bertujuan untuk mendeteksi pasien kanker prostat stadium awal agar dapat dilakukan intervensi secepatnya dan mencegah prognosis yang lebih buruk.

6. Hasil pemeriksaan akan menentukan langkah selanjutnya bagi pasien: apakah perlu pemeriksaan berkala, pemeriksaan lanjut untuk memastikan diagnosis atau memulai tatalaksana kanker prostat.

Penyebab kanker prostat

Kanker prostat adalah kanker yang terjadi pada prostat. Prostat adalah kelenjar kecil berbentuk kenari pada pria yang menghasilkan cairan mani yang memberi nutrisi dan mengangkut sperma

Ada berbagai faktor penyebab terjadinya kanker prostat pada pria. Salah satu diantaranya ialah pola hidup tidak sehat.

"Kebiasaan merokok, pola diet yang tidak baik, serta kurangnya seseorang dalam berolahraga dapat meningkatkan risiko terkena kanker prostat pada pria,” ujar dr. Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid, Sp. U (K) Ph.D.

Tak hanya itu, faktor pendorong lainnya seperti usia, ras, riwayat keluarga, perubahan gen, diabetes, kolesterol, dan obesitas juga dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker prostat.

#elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Pasien Leukimia Dewasa Kini Bisa Akses Layanan Terapi Seluler di Rumah Sakit Dharmais
Artikel Selanjutnya
70 Persen Kasus Kanker di Indonesia Didapati pada Stadium Lanjut