Sukses

Health

Penyakit Cacar Monyet Berganti Nama, Simak Alasannya

Fimela.com, Jakarta Penyakit cacar monyet tengah menjadi perbincangan. Baru-baru ini, penyakit ini banyak menjangkiti penduduk di berbagai belahan dunia. Sebanyak lebih dari 1.600 sudah ditemukan di 39 negara.

Naiknya kasus temuan penyakit ini menimbulkan problematika lain di tengah masyarakat. Kini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berencana mengganti nama penyakit cacar monyet atau monkeypox.

Dikutip dari Liputan6.com, Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan stigma atau rasisme terkait monkeypox. Hal ini diumumkan oleh Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan pada Selasa, 14 Juni 2022 lalu.

Nama baru segera terungkap

Tedros meyampaikan, WHO bersama para mitra dan ahli dari seluruh dunia tengah mengubah nama virus cacar monyet. Ia menambahkan, WHO akan segera mengumumkan nama teranyar untuk penyakit itu.

Beberapa waktu lalu, banyak peneliti dunia menyebut penggunaan nama cacar monyet mengandung unsur diskriminasi dan stigma. Itu sebabnya, penting bagi WHO untuk segera mengubah nama penyakit itu.

Juru bicara para pakar mengungkapkan, nama cacar monyet yang kini digunakan tak sesuai dengan panduan WHO. Organisasi kesehatan tersebut menyarankan agar menghindari penggunaan nama wilayah dan hewan untuk menamai suatu penyakit.

Serupa dengan virus penyebab Covid-19

Hal serupa juga pernah menjadi perbincangan pada awal masa pandemi Covid-19. Saat itu, masyarakat dunia menyebut virus penyebab COVID-19 sebagai virus Wuhan atau virus China.

Kemudian, WHO menamai ulang virus tersebut menjadi SARS-CoV-2.Hingga ini, hewan penyebab cacar monyet yang sesungguhnya belum terungkap jelas. Virus tersebut sudah ditemukan pada varietas mamalia dalam jumlah luas.

Para ilmuwan menyebut, menamai virus ini dari Afrika bukan hanya dinilai tidak akurat melainkan juga diskriminatif. Terutama, hal ini merujuk pada konteks wabah global yang bisa memunculkan stigma.

Penulis: Ersya Fadhila Damayanti

#Women for Women

What's On Fimela
Loading