Sukses

Health

Waspada, 6 Kelompok Ini Rawan Penyakit Akibat Musim El Nino yang Mengintai

ringkasan

  • Fenomena El Niño memicu perubahan iklim ekstrem global, seperti kekeringan dan banjir, yang menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran berbagai penyakit menular di wilayah rentan. [4]
  • Penyakit akibat musim El Nino meliputi demam berdarah, malaria, kolera, chikungunya, Zika, dan penyakit pernapasan, dengan dampak bervariasi di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. [4]
  • Negara berkembang lebih rentan terhadap dampak kesehatan El Niño karena keterbatasan infrastruktur, kemiskinan, dan akses layanan kesehatan yang buruk, memperparah krisis yang ada. [11, 14]

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, fenomena iklim global yang dikenal sebagai El Niño merupakan fase hangat dari pola iklim siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang terjadi secara tidak teratur setiap 2 hingga 7 tahun. Peristiwa alami ini ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, khususnya di sekitar garis khatulistiwa. Perubahan iklim ini memicu berbagai kondisi cuaca ekstrem, mulai dari kekeringan parah hingga curah hujan berlebihan, yang pada gilirannya berkontribusi pada wabah penyakit. 

Dampak El Niño meluas secara global, mengubah pola cuaca dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Interaksi kompleks antara peristiwa cuaca abnormal dengan faktor-faktor seperti populasi, kepadatan penduduk, status kesehatan, dan infrastruktur sanitasi dapat memperburuk krisis iklim yang sudah ada. [4] Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi banyak penyakit menular untuk memperluas jangkauannya, terutama yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk. 

Fenomena El Niño memiliki dampak yang beragam dan signifikan terhadap kesehatan manusia di seluruh dunia, terutama di daerah tropis yang rentan seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika. Peningkatan suhu global dan pergeseran curah hujan selama El Niño menghasilkan kondisi yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup patogen dan vektor pembawa penyakit. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami berbagai penyakit akibat musim El Nino yang berpotensi mengancam kesehatan. 

Waspada Demam Berdarah dan Kabut Asap di Asia Tenggara Akibat El Nino

Di Asia Tenggara, El Niño membawa ancaman serius berupa demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Suhu permukaan tanah di atas normal dan habitat yang lebih kering selama El Niño menyebabkan nyamuk berpindah ke daerah perkotaan yang padat penduduk, di mana mereka menemukan genangan air untuk bertelur. [2]

Kekeringan yang diperparah oleh El Niño juga menyebabkan kebakaran hutan yang memengaruhi kualitas udara secara drastis. [4] Sebagai contoh, selama El Niño 2015-2016, wabah DBD terjadi di Asia Tenggara. [2] Kekeringan terkait El Niño pada tahun 1997 dan 2015 memperburuk kebakaran hutan di Indonesia dan Malaysia, menyebabkan masalah kualitas udara yang parah. [4]

Kualitas udara berbahaya bahkan mendeklarasikan keadaan darurat di Indonesia pada tahun 2015. [4] Pola cuaca yang tidak menentu selama El Nino terbukti meningkatkan kasus DBD hingga 60% di wilayah terdampak. [21] Minimnya hujan mengurangi proses 'pencucian' polutan di udara, sehingga partikel berbahaya dapat bertahan lebih lama di atmosfer, meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). [2, 34]

El Nino Picu Kolera dan Malaria: Kisah dari Afrika dan Amerika Latin

Di Afrika Timur, El Niño dapat memicu wabah kolera, demam Rift Valley (RVF), malaria, dan penyakit diare. Curah hujan di atas normal menyebabkan kontaminasi sumber air oleh limbah, yang memicu wabah kolera. [5] Kondisi basah dan curah hujan berlebihan juga meningkatkan insiden penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor seperti malaria, demam berdarah, kolera, dan tifus. [3]

Tanzania mengalami wabah kolera yang signifikan selama El Niño 2015-2016, dengan kasus tertinggi kedua dan ketiga dalam periode 18 tahun. [5] Wabah RVF di Kenya, Somalia, dan Tanzania pada tahun 2006-2007 menyebabkan lebih dari 200.000 infeksi manusia dan sekitar 500 kematian. [14]

Amerika Latin juga menghadapi ancaman serius dari El Niño, termasuk demam berdarah dengue, chikungunya, Zika, kolera, infeksi Vibrio, malaria, dan penyakit pernapasan. [4] Kondisi kering di Amerika Selatan bagian utara dikaitkan dengan peningkatan penularan virus dengue dan penyakit pernapasan. [18] Curah hujan lebat dan banjir di Amerika Tengah dan Selatan dapat menyebabkan peningkatan penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor. [18] Brasil mengalami proliferasi demam berdarah selama El Niño 2015-2016, dengan jumlah kasus tertinggi dari tahun 2000 hingga 2017. [4]

Ancaman Penyakit Langka dan Vektor Baru di Amerika dan Asia Selatan

Di Amerika Serikat Bagian Barat, khususnya Colorado dan New Mexico, El Niño dikaitkan dengan peningkatan kasus hantavirus dan pes (plague). Peningkatan curah hujan dan suhu yang lebih ringan selama El Niño mendorong pertumbuhan vegetasi, menyediakan lebih banyak makanan untuk hewan pengerat yang membawa hantavirus. Peningkatan populasi hewan pengerat ini meningkatkan kontak mereka dengan manusia. Curah hujan di atas normal juga secara signifikan terkait dengan wabah pes. [30]

Asia Selatan juga tidak luput dari dampak El Niño, dengan peningkatan risiko malaria, kolera, dan penyakit diare. Kekeringan di Asia Selatan dan Asia Tenggara, serta curah hujan di bawah rata-rata di Sri Lanka, dapat meningkatkan risiko malaria. [3] Di wilayah Punjab, Pakistan, risiko epidemi malaria meningkat lima kali lipat setelah El Niño besar. [3]

Wabah kolera di India Selatan dan Bangladesh juga terkait dengan El Niño. [4] Selain itu, Kepulauan Pasifik, termasuk Papua Nugini, Tahiti, Hawaii, dan Fiji, mengalami wabah demam berdarah dan chikungunya yang bertepatan dengan kondisi kekeringan parah akibat El Niño. [4]

Faktor Kerentanan: Mengapa Penyakit Akibat Musim El Nino Lebih Parah di Negara Berkembang?

Dampak kesehatan El Niño cenderung lebih intens di negara-negara berkembang. [11] Hal ini terjadi karena mereka memiliki kapasitas terbatas untuk mengurangi konsekuensi kesehatan. [14] Kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial-ekonomi yang sudah ada memperparah kerentanan komunitas, membuat mereka lebih mudah terkena dampak negatif El Niño. [11]

Keterbatasan infrastruktur kesehatan dan sumber daya seringkali menjadi penghalang, sehingga upaya mitigasi dan respons terhadap krisis kesehatan menjadi kurang efektif. [12] Kondisi ini menempatkan jutaan orang di negara-negara berisiko tinggi dalam bahaya serius. [14] Negara-negara seperti Ethiopia, Lesotho, Kenya, Papua Nugini, Somalia, Tanzania, dan Uganda termasuk dalam daftar berisiko tinggi. [14, 16]

Wilayah ini sangat rentan terhadap bencana alam. Kekeringan ekstrem dan kekurangan air akut telah melanda jutaan orang di Pasifik Barat Daya, Amerika Tengah, dan Afrika Selatan. [17, 23] Di sisi lain, kondisi lebih basah di Amerika Selatan dapat menyebabkan banjir intens, yang merusak fasilitas kesehatan dan membatasi akses ke perawatan. [18] Risiko penyakit menular meningkat drastis saat akses makanan, air, dan sanitasi terbatas, diperparah oleh rusaknya infrastruktur air bersih dan sanitasi. [12]

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading