Sukses

Health

Wabah Ebola 2026, WHO Nyatakan Darurat Global, Strain Bundibugyo Jadi Tantangan Baru

ringkasan

  • WHO mendeklarasikan wabah Ebola 2026 di DRC dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC) pada 16 Mei 2026.
  • Wabah ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, strain langka yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang disetujui, berbeda dengan Zaire ebolavirus.
  • Pencegahan melalui kebersihan, menghindari kontak dengan hewan/orang terinfeksi, dan praktik aman menjadi krusial di tengah upaya respons global.

Fimela.com, Jakarta - Kabar mengenai wabah Ebola kembali mencuat, kali ini pada tahun 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendeklarasikan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat Internasional (PHEIC) pada 16 Mei 2026. Deklarasi ini menjadi sorotan utama karena menandakan sebuah 'peristiwa luar biasa' yang berisiko menyebar secara internasional dan memerlukan respons global yang terkoordinasi.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah kasus terkonfirmasi pertama dilaporkan di Goma, sebuah kota padat penduduk dengan hampir dua juta jiwa yang berbatasan langsung dengan Rwanda. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, jenis Ebola yang langka dan memiliki tantangan penanganan tersendiri.

Wabah Ebola 2026: Ancaman Baru di Afrika Tengah

Wabah Ebola 2026 ini dipicu oleh virus Bundibugyo, varian langka yang sebelumnya hanya terdeteksi dalam dua wabah pada tahun 2007 dan 2012.

Pada 15 Mei 2026, Kementerian Kesehatan DRC mengumumkan wabah Ebola di Provinsi Ituri, wilayah timur DRC. Di hari yang sama, Kementerian Kesehatan Uganda juga mengonfirmasi kasus Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo setelah seorang individu dengan riwayat perjalanan dari Provinsi Ituri, DRC, mencari perawatan medis di Kampala pada 11 Mei 2026.

Situasi semakin kompleks dengan laporan kasus-kasus yang diimpor dari Ituri ke ibu kota DRC, Kinshasa, serta Provinsi Kivu Utara. Ibu kota Uganda, Kampala, juga melaporkan kasus impor serupa, menunjukkan potensi penyebaran yang lebih luas.

Data Kasus dan Tantangan Penanganan Wabah Bundibugyo

Hingga 16 Mei 2026, Provinsi Ituri di DRC melaporkan delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 246 kasus yang dicurigai, dan 80 kematian yang dicurigai. Sementara itu, Uganda mencatat dua kasus terkonfirmasi laboratorium (termasuk satu kematian) di Kampala pada 15 dan 16 Mei 2026, tanpa hubungan epidemiologis yang jelas satu sama lain.

Secara keseluruhan, wabah terbaru di Afrika tengah ini telah menyebabkan lebih dari 300 kasus yang dicurigai dan merenggut 100 nyawa. Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) mengidentifikasi 336 kasus yang dicurigai dan 10 kasus terkonfirmasi di DRC, dengan 87 kematian di negara tersebut. Uganda sendiri memiliki dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian tambahan.

Tantangan terbesar dalam penanganan wabah ini adalah ketiadaan pengobatan atau vaksin yang disetujui secara spesifik untuk Ebola Bundibugyo. Vaksin dan pengobatan yang ada saat ini dirancang untuk Zaire ebolavirus, sehingga upaya respons menjadi lebih sulit. Saat ini, para peneliti tengah berupaya menentukan pengobatan dan vaksin eksperimental mana yang harus diprioritaskan untuk pengujian.

Respons Global dan Lokal Hadapi Ebola 2026

Menanggapi krisis ini, WHO telah mengirimkan lima ton pasokan medis ke DRC dan mengalokasikan dana darurat sebesar $500.000. Médecins Sans Frontières (MSF) juga telah mengerahkan timnya di wilayah terdampak dan berencana untuk memobilisasi lebih banyak sumber daya.

Pemerintah AS turut bergerak untuk mengatur transportasi enam warga negaranya yang terpapar virus dari DRC, termasuk satu yang positif Ebola, agar dapat menerima perawatan di bawah karantina.

Mengenal Ebola: Virus Mematikan yang Perlu Diwaspadai

Penyakit Ebola (EBOD), yang sebelumnya dikenal sebagai demam berdarah Ebola, adalah penyakit parah yang seringkali berakibat fatal pada manusia dan primata lainnya. Ini adalah demam berdarah virus zoonosis yang disebabkan oleh empat dari enam ebolavirus yang diketahui.

Virus penyebab Ebola termasuk dalam genus Orthoebolavirus dari famili Filoviridae. Hingga kini, enam spesies Orthoebolavirus telah diidentifikasi, dengan tiga di antaranya menyebabkan wabah besar: Virus Ebola (EBOV) yang menyebabkan penyakit virus Ebola (EVD), Virus Sudan (SUDV) penyebab penyakit virus Sudan (SVD), dan Virus Bundibugyo (BDBV) yang menyebabkan penyakit virus Bundibugyo (BVD).

Tingkat kematian rata-rata penyakit Ebola adalah sekitar 50%, namun angka ini dapat bervariasi dari 25% hingga 90% dalam wabah sebelumnya. Kelelawar buah dari famili Pteropodidae diyakini sebagai inang alami Orthoebolavirus. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi seperti kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, antelop hutan, atau landak yang ditemukan sakit atau mati di hutan hujan.

Ebola pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 sebagai penyebab wabah kembar di dekat Sungai Ebola di Republik Demokratik Kongo (saat itu Zaire) dan di wilayah Sudan, muncul di desa-desa terpencil dekat hutan hujan tropis Afrika Tengah.

Gejala dan Cara Penularan Virus Ebola

Masa inkubasi Ebola, yaitu rentang waktu dari infeksi hingga munculnya gejala, berkisar antara 2 hingga 21 hari, dengan gejala paling sering muncul sekitar delapan hingga sepuluh hari setelah terpapar virus.

Gejala awal Ebola bisa muncul tiba-tiba dan menyerupai flu, meliputi demam, kelelahan, malaise, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Gejala ini kemudian diikuti oleh muntah, diare, nyeri perut, ruam, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Dalam kasus yang lebih parah, pendarahan internal dan eksternal, seperti pendarahan dari gusi atau darah dalam tinja, dapat terjadi.

Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya, seperti air mani, tinja, atau muntahan, dari orang atau hewan yang terinfeksi. Kontak dekat dengan jenazah korban Ebola yang meninggal juga sangat menular. Penularan terjadi ketika virus masuk ke tubuh melalui kulit yang rusak atau selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut.

Selain itu, orang dapat terinfeksi melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi sekresi infeksius, seperti jarum atau pakaian kotor. Praktik pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan tubuh atau cairan tubuh orang yang terinfeksi juga dapat berkontribusi pada penularan. Penting untuk diketahui bahwa virus Ebola tidak dapat ditularkan melalui udara.

Virus ini bahkan dapat bertahan dalam air mani selama setidaknya tiga bulan setelah pemulihan, berpotensi menyebabkan infeksi melalui hubungan seksual. Orthoebolavirus juga diketahui dapat bertahan di area yang terlindungi kekebalan tubuh pada beberapa pasien yang pulih, termasuk testis, bagian dalam mata, dan otak.

Pengobatan dan Pencegahan Ebola: Apa yang Bisa Dilakukan?

Perawatan suportif intensif dini, seperti rehidrasi dengan cairan oral atau intravena, serta pengobatan gejala spesifik, terbukti meningkatkan angka kelangsungan hidup. Untuk penyakit virus Ebola yang disebabkan oleh spesies Zaire orthoebolavirus, dua pengobatan telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration (FDA): Inmazeb®, kombinasi tiga antibodi monoklonal, dan Ebanga®, antibodi monoklonal tunggal. Antibodi ini bekerja seperti antibodi alami tubuh untuk melawan infeksi, namun efektivitasnya belum ditetapkan untuk virus selain Zaire orthoebolavirus.

Dalam hal vaksin, ada dua vaksin yang disetujui untuk penyakit virus Ebola (yang disebabkan oleh Zaire ebolavirus): Ervebo (Merck & Co.) dan Zabdeno serta Mvabea (Janssen Pharmaceutica). Vaksin Ervebo direkomendasikan sebagai bagian dari respons wabah dan membantu melindungi individu berisiko tinggi seperti pekerja laboratorium dan petugas kesehatan. Vaksin Zabdeno/Mvabea juga melindungi orang dewasa dan anak-anak usia 1 tahun ke atas. Namun, perlu ditekankan bahwa saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang disetujui untuk Ebola Bundibugyo.

Pencegahan menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran Ebola. Langkah-langkah penting meliputi:

  • Menghindari kontak dengan hewan liar: Mengurangi risiko penularan dari satwa liar ke manusia, terutama dari kelelawar buah atau monyet/kera yang terinfeksi, serta menghindari konsumsi daging mentah mereka.
  • Menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi: Meminimalkan risiko penularan antarmanusia melalui kontak langsung atau dekat dengan orang yang terinfeksi, terutama cairan tubuh mereka.
  • Kebersihan tangan: Rutin mencuci tangan adalah praktik esensial.
  • Praktik pemakaman yang aman: Melakukan pemakaman yang aman dan bermartabat bagi mereka yang meninggal akibat Ebola.
  • Peralatan Pelindung Diri (APD): Petugas kesehatan wajib menggunakan APD yang sesuai.
  • Vaksinasi: Vaksinasi petugas medis dan vaksinasi cincin untuk melindungi kontak orang yang terinfeksi, jika vaksin tersedia untuk strain yang bersangkutan.
  • Isolasi: Pasien harus diisolasi di pusat perawatan yang ditunjuk untuk pengobatan dini dan untuk mencegah penularan di rumah.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading