Sukses

Health

GLP-1 Jadi Tren untuk Menurunkan Berat Badan, Ini Fakta di Baliknya

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, obat berbasis GLP-1 belakangan semakin ramai diperbincangkan karena dikaitkan dengan penurunan berat badan. Popularitasnya bahkan membuat sebagian orang mengenalnya sebagai obat pelangsing. Padahal, GLP-1 atau glucagon-like peptide-1 merupakan hormon alami yang memiliki peran dalam mengatur kadar gula darah dan nafsu makan. 

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, obat GLP-1 bekerja dengan meniru fungsi hormon GLP-1 di dalam tubuh. Terapi ini awalnya digunakan dalam pengelolaan diabetes tipe 2 karena dapat membantu tubuh mengontrol kadar gula darah. 

Dilansir dari World Health Organization, terapi GLP-1 bekerja dengan merangsang pelepasan insulin ketika kadar gula darah tinggi sekaligus mengurangi pelepasan glukagon. Obat ini juga dapat memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan rasa kenyang sehingga membantu mengurangi asupan makanan.  

Beberapa jenis obat yang bekerja melalui mekanisme tersebut kemudian digunakan untuk membantu pengelolaan obesitas. Semaglutide dan liraglutide termasuk obat yang bekerja menyerupai GLP-1, sedangkan tirzepatide bekerja pada reseptor GLP-1 dan GIP. Karena kemampuannya memengaruhi rasa kenyang dan nafsu makan, obat-obatan tersebut kemudian mendapatkan perhatian besar sebagai salah satu pilihan dalam pengelolaan berat badan.

Bagaimana GLP-1 Membantu Menurunkan Berat Badan?

Salah satu alasan GLP-1 banyak digunakan dalam pengelolaan berat badan adalah kemampuannya memengaruhi nafsu makan. Ketika rasa kenyang bertahan lebih lama, jumlah makanan yang dikonsumsi dapat berkurang sehingga membantu proses penurunan berat badan. 

Dilansir dari World Health Organization, sebagian besar orang yang menggunakan terapi GLP-1 mengalami penurunan setidaknya 5 persen dari berat badan awal. Namun, hasil yang lebih baik tetap perlu didukung dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik.

Dilansir dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, obat resep untuk pengelolaan berat badan dapat dipertimbangkan bagi orang dengan obesitas atau mereka yang memiliki kelebihan berat badan disertai masalah kesehatan tertentu. Keputusan penggunaan obat tetap perlu dilakukan bersama tenaga kesehatan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing. 

Selain membantu mengontrol berat badan, terapi GLP-1 juga dapat memberikan manfaat terhadap kondisi metabolik tertentu. Dilansir dari World Health Organization, beberapa terapi GLP-1 dapat menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan gagal jantung pada kondisi tertentu, serta membantu mengurangi risiko beberapa komplikasi penyakit kronis.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti GLP-1 ditujukan untuk semua orang yang ingin menurunkan berat badan. Penggunaannya tetap membutuhkan pertimbangan medis.

Ada Efek Sampingnya, GLP-1 Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

Di tengah popularitasnya sebagai obat penurun berat badan, GLP-1 tetap memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Efek samping yang paling umum berkaitan dengan sistem pencernaan dan dapat berbeda pada setiap orang. 

Dilansir dari World Health Organization, efek samping yang umum terjadi meliputi mual, muntah, sembelit, dan diare. Beberapa masalah pencernaan yang lebih serius, seperti pankreatitis akut, gangguan pengosongan lambung, serta masalah pada saluran empedu, juga masih dikaitkan dengan penggunaan terapi GLP-1 da terus dievaluasi. 

Risiko juga dapat muncul ketika seseorang memperoleh obat dari sumber yang tidak terjamin. Dilansir dari Food and Drug Administration, produk GLP-1 yang belum disetujui tidak melalui proses peninjauan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan kualitas sebelum dipasarkan. Karena itu, masyarakat dianjurkan memperoleh obat berdasarkan resep dokter dan melalui apotek berizin.  

Jadi, sebelum mengikuti tren penggunaan obat pelangsing berbasis GLP-1, penting untuk memahami manfaat, risiko, serta kebutuhan tubuh terlebih dahulu. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang lebih aman dibandingkan menggunakan obat hanya karena sedang populer di media sosial.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading