Sukses

Health

Cortisol Cocktail, Racikan Jus Jeruk dan Air Kelapa yang Viral untuk Kelola Stres

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, belakangan ini istilah cortisol cocktail banyak berseliweran di media sosial. Minuman ini kerap disebut-sebut dapat membantu tubuh menghadapi rasa lelah sekaligus menjaga keseimbangan hormon.

Ramuan dasarnya sederhana: jus jeruk, air kelapa, dan sedikit garam laut, dengan sebagian variasi menambahkan magnesium. Popularitasnya erat dikaitkan dengan kortisol, hormon yang memegang peranan sangat vital dalam respons tubuh terhadap stres.

Saat berada di bawah tekanan, kelenjar adrenal memproduksi kortisol sebagai bagian dari mekanisme alami. Hormon ini penting, namun kadar yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam kondisi tertentu dapat berkaitan dengan masalah kesehatan.

Melansir BBC, Kamis, 20 Agustus 2026, pendukung cortisol cocktail meyakini kombinasi vitamin C, kalium, dan natrium dalam minuman ini dapat membantu mendukung fungsi kelenjar adrenal. Kandungan elektrolitnya juga dipercaya berperan dalam menjaga tubuh tetap terhidrasi, terutama saat aktivitas meningkat atau cuaca panas.

Sejumlah klaim lain menyebut cortisol cocktail berpotensi membantu menjaga tekanan darah serta mengurangi risiko kenaikan berat badan. Meski demikian, klaim-klaim tersebut perlu disikapi secara kritis. Hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan minuman ini secara khusus mampu "menghidupkan kembali" kelenjar adrenal atau menurunkan kadar kortisol.

Manfaat dari setiap bahan penyusun tentu ada, namun hal itu tidak otomatis membuktikan efektivitas kombinasi tersebut sebagai minuman anti-stres. Popularitas di media sosial juga bukan ukuran khasiat.

Lebih tepat jika cortisol cocktail dipandang sebagai minuman yang mengandung sejumlah vitamin dan elektrolit, bukan solusi spesifik untuk mengendalikan kortisol.

Bagaimana Kadar Kortisol Berubah dan Gejala yang Muncul

Kadar kortisol dalam tubuh sebenarnya mengalami perubahan alami sepanjang hari. Umumnya, hormon ini berada pada tingkat yang lebih tinggi di pagi hari dan perlahan menurun menjelang malam. Pola harian ini merupakan bagian dari ritme biologis tubuh, sehingga fluktuasi kadar kortisol tidak selalu menandakan adanya gangguan kesehatan.

Jika kadar kortisol tinggi terjadi secara kronis, sejumlah perubahan pada tubuh dapat muncul. Gejalanya antara lain peningkatan nafsu makan, kelemahan otot, kecemasan, perubahan suasana hati, mudah marah, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, kulit menipis, hingga wajah terlihat kemerahan.

Meski demikian, gejala tersebut tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk memastikan kadar kortisol terlalu tinggi. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat. Dokter dapat menggunakan tes darah, urine, atau air liur untuk mengukur kadar kortisol, dan hasilnya membantu membedakan perubahan hormon yang masih normal dari kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Peran Pola Makan dan Kebiasaan Harian dalam Menghadapi Stres

Pola makan seimbang dapat mendukung tubuh saat menghadapi stres. Asupan protein, biji-bijian utuh, dan lemak sehat membantu menjaga kestabilan gula darah serta mendukung respons hormon yang lebih teratur.

Serat dari buah, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan penting untuk kesehatan usus yang berkaitan dengan komunikasi antara sistem pencernaan dan otak. Makanan fermentasi seperti kefir, yogurt, sauerkraut, dan kimchi juga dapat menjadi pilihan dalam menu harian. Magnesium turut mendukung berbagai fungsi tubuh, termasuk proses yang berkaitan dengan relaksasi.

Hubungan pola makan dan kortisol bersifat dua arah. Stres dapat memengaruhi pilihan makanan, sementara konsumsi kafein, alkohol, gula rafinasi, dan lemak olahan dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres. Penelitian juga menunjukkan bahwa stres mendorong sebagian orang lebih sering memilih makanan tinggi gula, lemak, dan energi.

Karena itu, menjaga pola makan bergizi, membatasi asupan tertentu, tidur cukup, dan memenuhi kebutuhan cairan dapat menjadi bagian dari kebiasaan untuk membantu tubuh menghadapi tekanan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading