Sukses

Info

Kena Hack, Situs SIPP Ditutup Sementara oleh Kemenkes

Fimela.com, Jakarta Baru-baru ini situs web pemerintah Situs Informsi Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (SIPP Kemenkes) diretas oleh hacker. Saat masuk ke situs https://sipp.kemkes.go.id/x.html, penggunjung akan melihat tampilan web yang sudah di-deface atau tampilannya diubah oleh hacker.

Melansir dari liputan6.com Kementerian Kesehatan atau Kemenkes menanggapi kasus tersebut dengan melakukan pengecekan serangan yang terdapat pada situs SIPP. 

"Saat ini kami terus melakukan pengecekan kemungkinan serangan pada situs SIPP, memang ada perubahan tampilan pada website," kata Kepala Biro Humas Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari liputan6.com.

Tak hanya itu, setelah melakukan pengecekan Nadia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penutupan terhadap situs web SIPP Kemenkes untuk sementara waktu sebagai bentuk pencegahan.

Nadia menegaskan bahwa situs SIPP tidak menyimpan data pribadi maupun data lainnya. SIPP hanya sebuah situs yang memuat informasi jenis pelayanan publik di Kemenkes, baik di pusat maupun unit pelaksana teknis (UPT). Selain itu, meskipun SIPP diretas unit layanan terpadu (ULT) tetap berjalan normal seperti biasa.

"Situs itu juga dimanfaatkan untuk melakukan survei kepuasan masyarakat secara online dan hal lain sesuai amanah UU 25/2009 tentang pelayanan publik," ungkap Nadia.

 

 

Ubah tampilan web

Dalam retasan yang dilakukan oleh hacker membuat tampilan laman web SIPP menjadi berwarna hitam disertai dengan tulisan “Hacked by ./Mungiell // anoonsec Team”. Tak hanya itu, pelaku pun menyertakan tulisan yang berbunyi seperti:

“Telah hilng moral di negara ini, Telah gagal pahlawanku untuk membentuk negeri ini. Siapa yang pantas untuk disalahkan? Siapakah kini plipur lara, nan seti dan perwira. Siapakah kini pahlawaan hati, pembela bangsa sejati.”

Sampai saat ini, laman SIPP masih belum bisa diakeses secara normal, serta masih menampilkan pesan dari hacker. Seperti yang diinfokan sebelumnya, laman web SIPP digunakan oleh Kemenkes sebagai bentuk sistem informasi publik yang berisikan tentang survey kepuasan.

"Iyaa lagi di cek ke Pusdatin. Nggak tahu juga apa betul diretas, lagi dicek lebih lanjut," ucap Siti Nadia Tarmizi saat dikutip dari liputan6.com.

 

 

Hacker bobol data pemerintah

Sebelumnya, beberapa waktu lalu pemerintah mendapatkan penyerangan dari hacker yang membocorkan dari KPU, nomor pelanggan indihome, hingga dokumen rahasia Presiden RI. Melalui akun dengan username @bjorkanism telah memiliki lebih dari 135 ribu pengikut di Twitter.

Penyerangan yang dilakukan oleh Bjorka menimbulkan pro dan kontra bagi masyarakat, ada yang setuju dengan aksinya ada pula yang tidak setuju karena dianggap merugikan negara dan memecahbelah bangsa. Namun, banyak juga masyarakat yang penasaran apa motif atau alasan Bjorka untuk meretas data pemerintah.

Melalui akun Twitter-nya, Bjorka mengungkapkan bahwa motif peretasan yang dilakukannya karena orang terdekatnya menjadi korban kebijakan Orde Baru Pasca 1965 yang menetap di Warsawa, Polandia. Namun, hal tersebut belum dapat dikonfirmasi kebenarannya karena bisa jadi kisah nyata atau hanya karangan dari Bjorka.

Berdasarkan cuitan yang ada di akun Twitter-nya, Bjorka mengatakan bahwa aksi peretasan yang dilakukan kepada pemerintah ini merupakan bentuk dari demonstrasi di era yang baru. Tak hanya itu, ia juga mengatakan bahwa sistem keamanan yang dikelola oleh pemerintah Indonesia sangat mudah untuk diretas.

"Pemimpin tertinggi dalam teknologi harusnya ditugaskan kepada seseorang yang mengerti, bukan politis dan bukan seseorang dari angkatan bersenjata. Karena mereka hanyalah orang bodoh," tulisnya.

Buntut dari penyerangan tersebut akun Twitter Bjorka telah ditangguhkan karena dianggap melanggar aturan. Sebelum ditangguhkan, Bjorka sempat membagikan informasi data atau doxing pejabat tinggi lainnya, seperti Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, Ketua DPR Puan Maharani, hingga Menteri BUMN Erick Thohir.

 

 Penulis: Angela Marici

#Women for Women

What's On Fimela
Loading