Sukses

Lifestyle

Diperlakukan Buruk oleh Kerabat, Hanya Sabar yang Bisa Mengobati Hati

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: Annita Fitri - Pekanbaru

Aku mengingatnya selalu di ingatanku. Bulan suci Ramadan tahun 2014 diriku pergi meninggalkan kampung bersama ibu dan adik-adikku. Begitu pentingnya jabatan dan harta di hati manusia, hingga membuat batin mereka buta. Kesedihan begitu kuat melekat di hati ibuku, tapi ia tetap tegar dan tersenyum. Aku hanya diam, walau ingin sekali berteriak kepada orang-orang yang telah membuat hati ibuku terluka.

Andai saja mereka mengetahui beban serta penderitaan ibuku. Andai saja mereka berada pada posisi yang sama seperti yang dirasakan ibuku, mungkin mereka tidak sanggup menerimanya.

Begitu kuatnya ibuku. Sebagai manusia biasa terkadang ia mengeluh. Tapi ia tidak pernah lari dari masalah. Saat ia tersadar, bersimpuh di hadapan Sang Maha Kuasa doa dan air matanya mengalir dengan tulus mendoakan setiap kebaikan orang-orang yang ia sayangi, walau terkadang sering membuat dirinya terluka.

Ayah dan ibuku telah berusaha layaknya orangtua lainnya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Namun perlu diketahui, hidup terkadang sering berada di luar kendali. Tidak ada yang menginginkan hidup dengan ekonomi tidak mencukupi. Aku tahu ibuku tidak ingin merepotkan siapapun. Ia juga ingin memenuhi kebutuhan anak-anaknya sendiri. Hanya saja takdir berkata lain. Penghasilan ayahku tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Terkadang ia tidak bekerja dalam waktu yang cukup lama karena memang tidak ada pekerjaan. Untuk membuka usahapun kami tidak memiliki modal. Sementara kebutuhan makan dan sekolah anak-anaknya terpaksa meminta bantuan kakak ibuku.

 

Perlakuan Buruk

Hingga suatu hari kondisi ekonomi keluargaku benar-benar sulit. Ibuku pulang ke kampung membawa anak-anaknya. Ayahku berada di kota sendirian sambil tetap berusaha mencari pekerjaan yang bisa membuat keluarganya kembali berkumpul. Aku mengira selama ini Om dan Tanteku begitu sangat baik. Aku sangat menyayangi mereka. Bahkan salah satu dari mereka adalah idola dalam hidupku. Namun entah apa yang terjadi. Mungkin mereka telah lelah dengan keterbatasan ekonomi yang kami miliki. Mungkin mereka tidak bisa membantu lagi, atau kami terlihat menjijikkan di mata mereka.

Satu demi per satu dari mereka mulai bertingkah aneh dan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Kata demi kata meluncur seperti serangan peluru yang menghantam jantung ibuku. Mereka berteriak kepada ibuku di depanku dan juga adik-adikku tentang ayahku yang tidak bisa menjadi ayah yang baik karena telah menelantarkan istri dan anak-anaknya. Bagiku ayahku adalah yang terbaik. Hanya karena takdir belum membuatnya berhasil dalam menggapai keberhasilan bukan berarti ia ayah yang buruk karena ayah selalu mengajarkan kebaikan kepadaku dan adik-adikku. Menjadi orang yang berkekurangan tidaklah hina di mata Tuhan. Bukankah baik dan buruknya seseorang ditentukan dari hati dan amalannya.

Om dan tanteku menatap diriku serta adik-adikku dengan tatapan yang mengerikan. Seolah kami adalah kumpulan kutu yang menjadi parasit bagi mereka. Tidak saja menghina ayah dan ibuku, mereka juga mengatakan aku dan adik-adikku adalah anak yang tidak tahu diri. Bagi mereka seharusnya kami sadar sebagai anak dari orangtua yang hidupnya pas-pasan, kami tidak boleh seenaknya saja. Harus ikut memasak di dapur, membereskan rumah dan melakukan pekerjaan lainnya. Sementara sepupuku yang lainnya dibiarkan pergi bermain dan tertawa lepas. Jika aku dan adik-adikku tersenyum saja, tatapan tajam mereka segera tertuju kepadaku.

Aku menelepon ayahku dan menceritakan semuanya. Ayahku tidak marah. Ia hanya memintaku bersabar dan berdoa. Sebagai anak pertama, ayah memintaku untuk tetap tenang dan memberikan contoh yang baik kepada adik-adikku.

Perlahan Membaik

Seminggu kemudian harapan yang kupanjatkan disetiap doa-doaku pun terwujud. Ayahku mendapatkan pekerjaan yang bisa membuat kami bisa berkumpul kembali. Ayah menyuruh kami berangkat ke kota kembali tinggal bersamanya. Meski diperlakukan tidak adil, ibuku tetap saja bersikap baik. Sebelum berangkat ke kota, ibuku menyampaikan permintaan maafnya karena telah merepotkan kakak-kakaknya.

Di tempat tinggal yang baru, kami mencoba melupakan segala kenangan pahit yang telah kami alami. Ibuku berpesan agar mau memaafkan orang-orang yang telah menyakiti perasaanku selama ini. Akupun memaafkan mereka, karena aku percaya Allah juga tidak suka jika aku menyimpan marah dan dendam.

Kata orang hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di bawah, kadang diatas. Kini roda kehidupanku sedang berputar menuju ke atas. Walau pergerakannya lambat, aku percaya semuanya butuh proses. Tidak ada kesabaran yang berakhir sia-sia. Sesungguhnya memaafkan itu lebih membuat perasaan tenang daripada menyimpan kemarahan.

Aku dan keluargaku hanya fokus pada tujuan yang ingin kami capai. Ibuku juga mengajarkanku untuk tetap berbuat baik kepada siapapun dan mendoakan yang baik-baik saja.

 

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Loading