Sukses

Lifestyle

Pasangan yang Terlalu Pencemburu Membawa Petaka dalam Hidup

Fimela.com, Jakarta Tak pernah ada yang bisa baik-baik saja saat terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic relationship). Baik dalam hubungan keluarga, kerja, pertemanan, hingga hubungan cinta, terjebak dengan seseorang yang memberi kita luka jelas membuat kita menderita. Namun, selalu ada cara dan celah untuk bisa lepas dari hubungan yang beracun tersebut. Selalu ada pengalaman yang bisa diambil hikmahnya dari hal tersebut. Simak kisah Sahabat Fimela berikut yang diikutsertakan dalam Lomba Let Go of Toxic Lover ini untuk kembali menyadarkan kita bahwa harapan yang lebih baik itu selalu ada.

***

Oleh: Dita Oktaviani

Semua berawal dari perkenalanku dengan seorang pria dari chatting online. Berlanjut dengan bertukar nomor handphone dan kopi darat. Sebut saja Bayu. Singkat cerita setelah berkenalan dan kopi darat, ia ‘nembak’ aku untuk jadi pacarnya, dan aku mengiyakan. 

Sebulan pertama pacaran, semua lancar, hingga suatu hari aku menemukan keanehan. Ternyata Bayu adalah seorang yang pencemburu. Ia selalu mengawasiku 24 jam penuh. Ia takut aku selingkuh, ia berpikir kalau teman-temanku itu punya niat tak baik padaku. Lalu aku dijauhkan dari sahabat-sahabatku. Alasannya, mereka punya efek tak baik untukku. Aku dilarang main bersama siapa pun, kecuali dengannya. Bahkan saat aku keluar rumah dengan ibuku, ia pun curiga! 

Beberapa bulan kemudian, semester baru perkuliahan dimulai. Tahun pertama aku diwajibkan untuk tinggal di asrama. Hubunganku dengan Bayu menjadi semakin rumit. Ia makin menjadi-jadi. Ia mewajibkan kami bertemu setiap minggu. Dan itu tidak boleh dilewatkan. Sekali tak bertemu dengannya, ia marah dan memakiku. Ia berujar, aku selingkuh, sehingga tak mau bertemu dengannya.

Hidup yang Serba Dibatasi

Setiap bertemu, ia mengecek semua isi handphone-ku. Jika ada nomor yang tak ia kenal, ia memakiku dan mematahkan sim card di handphone-ku. Pernah saat aku berulang tahun, teman lamaku SMS dan mengucapkan selamat ulang tahun, dan ia membacanya. Ia marah, ia memakiku, kali ini makin menjadi, ia menamparku dan memukulku. Ia membenturkan kepalaku ke tembok. Di sana aku baru tahu kalau ternyata ia sekejam ini. Dan ini selalu terjadi setiap kali kami bertengkar.

Selama 3,5 tahun aku hanya jadi pelampiasan marahnya. Tapi aku tak berani cerita pada siapa pun, termasuk orangtuaku. Karena Bayu mengancam akan melakukan sesuatu di luar batas apabila aku melawannya. Aku bungkam. Selama pacaran, selain kekerasan fisik dan verbal yang kudapatkan, aku pun dituntut untuk membuatnya senang. Setiap kami bertemu, aku harus selalu membawakannya makanan dan rokok. Kalau tidak, ia akan marah. 

Setelah lulus kuliah, ia melarangku bekerja. Alasannya, bekerja itu rawan selingkuh. Dari saat itu aku kecewa padanya. Aku mulai berpikir, bagaimana masa depanku nanti kalau terus-terusan bareng dia? Aku nggak mau cuma jadi burung dalam sangkar saja, mending deh kalo sangkarnya dari emas.

Aku terus berpikir gimana caranya lepas dari Bayu. Sedangkan sudah beberapa kali aku minta putus, dia selalu menahanku. Akhirnya kali ini kuberanikan diri untuk minta putus. Dan akan menjemput impianku dan hari-hari indahku tanpa dirinya. Dan ternyata benar, tak ada lagi dia di hidupku membuat hariku lebih bahagia. Buatku, let go of toxic relationship itu perlu. Karena kita berhak bahagia tanpa gangguan orang-orang yang bermasalah dalam hidup kita. Dan hidupku sekarang jauh lebih indah tanpa orang-orang toxic di sekitarku. 

#ChangeMaker

Loading
Artikel Selanjutnya
Kasih Sayang Seharusnya Menguatkan, Bukan Membuat Batin Tersiksa
Artikel Selanjutnya
Jangan Mau Dibodohi Pria yang Mengabaikan Ketulusan Hatimu