Sukses

Lifestyle

Dulu Berbisnis Online, Kini Jadi ASN dan Sudah Bisa Beli Properti

 

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Damar

Menjadi Super Lady Boss at Home kedengarannya terlalu muluk untuk diwujudkan. Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha mewujudkannya. Berawal dari merantau kuliah di ibu kota dengan beasiswa, aku dan mantan pacarku (sekarang menjadi suamiku) mencoba berjualan online. Sama-sama berlatar belakang dari keluarga sederhana, menjadikan kami lebih mandiri dan mencoba untuk mencukupi semua kebutuhan kuliah tanpa merepotkan orangtua.

Tahun 2011 kala itu saat e-commerce belum sebanyak saat ini, kami hanya mengandalkan iklan di jejaring sosial facebook dan Forum Jual Beli K*skus kala itu. Mulai dari menjadi reseller peralatan elektronik keperluan mahasiswa hingga kami bisa menyetok barang sedikit demi sedikit.

Keuntungan yang mulanya hanya beberapa ribu per item, mulai terkumpul hingga berjuta-juta. Semua keuntungan dari hasil jualan online aku yang mengatur, entah kenapa dulu kami bisa begitu saling percaya dalam menjalankan bisnis padahal kami masih belum ada ikatan serius.

Aku membagi keuntungan kami menjadi tiga pos. Pertama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kami disamping uang beasiswa yang kami dapat setiap bulan sebesar delapan ratus lima puluh ribu rupiah; kedua untuk kebutuhan darurat kami; dan ketiga untuk tabungan bersama kami jika nanti diperkenankan untuk berlanjut ke tahap yang lebih serius.

Mungkin karena tujuan kami untuk melangkah ke tahap yang lebih serius, kami benar-benar berusaha untuk bisa mendapatkan hasil terbaik. Keuntungan yang tadinya hanya kutempatkan dalam sebuah celengan lama-lama bisa disimpan dalam deposito bank. Yang awalnya kami hanya naik angkot atau Trans Jakarta ke mana-mana untuk sekedar membeli barang, akhirnya kami bisa membeli sepeda motor untuk mobilitas kami walaupun hanya motor bekas aku sangat bersyukur.

Mengatur Keuangan dengan Bijak

Setahun setelah berjualan online kami berdua lulus kuliah. Dua tahun setelah lulus kami benar-benar mewujudkan keinginan kami untuk menikah dengan uang hasil kerja keras kami. Sungguh pencapaian yang tidak pernah terlintas dulu. Menikah dengan sahabat dan rekan bisnis dengan dana dari hasil kerja kami. Setelah menikah kami sama-sama diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ditempatkan di pulau terpencil di timur Sulawesi.

Aku mulai memikirkan cara bagaimana kami dapat memiliki properti karena kami sudah tidak bisa melanjutkan berjualan online lagi di rantau, terlalu mahal untuk sekedar membayar ongkos kirim dari Pulau Jawa. Sama seperti dulu, suamiku tetap mempercayakan pengaturan keuangan keluarga kami padaku.

Setiap kami menerima gaji, aku membaginya menjadi tiga pos. Pertama untuk kebutuhan sehari-hari kami dan keperluan mendadak lain; kedua tabungan untuk mudik ke Jawa (karena butuh dana yang tidak sedikit, kami menghabiskan sekitar Rp30 juta untuk dua kali mudik dalam setahun); dan ketiga kusiapkan satu rekening tabungan yang tidak boleh kami utak-atik sama sekali.

Kata orang kami sangat beruntung karena aku dan suami sama-sama berprofesi sebagai PNS, mau apa saja tinggal “menyekolahkan” SK kami di bank. Tapi kami tidak pernah mau melakukannya, kami yakin ada jalan lain jika kami berusaha. Tidak akan berkah jika kami mendapatkan sesuatu dari hasil riba, itu yang selalu kami ingat dan berusaha kami terapkan dalam keluarga kami.

Kadang aku merasa tabungan kami tak kunjung bertambah, karena rasanya kami hanya bekerja agar bisa mudik ke kampung halaman. Tapi aku tetap berusaha menyisihkan sedikit demi sedikit setiap bulannya. Sampai saat ini di usia kami yang ke-30, di enam tahun pernikahan kami, alhamdulillah sekarang kami dapat menempati rumah yang kami beli secara syariah. Kami juga bisa membeli sebidang tanah untuk tabungan, dan belum lama ini kami dapat membeli sebuah mobil untuk menyambut kelahiran anak kedua kami.

Apa pun pilihan yang diambil, semua perempuan bisa menjadi Lady Boss versinya masing-masing. Bagiku, memilih tetap berkarier dan menjadi “menteri keuangan” di rumah adalah caraku menjadi seorang Lady Boss at Home.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Perjuangan Bekerja untuk Membiayai Kuliah Sendiri yang Berbuah Manis
Artikel Selanjutnya
Corona Hentikan Penerbangan, Bocah 10 Tahun Ini Jalan Kaki ke Inggris Demi Memeluk Sang Nenek