Sukses

Lifestyle

Saat Hati Bebas Menentukan Pilihan, di Situlah Kunci Kebahagiaan Bisa Didapatkan

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Wenny

Akhir Tahun 2019

“Coba kamu lakukan hal-hal yang dulu kamu suka. Hobi atau apa pun yang dekat dengan pekerjaan kamu sebelum menikah,” kalimat itu diucapkan psikolog yang menangani saya di akhir tahun 2019. Untuk pertama kalinya saya melakukan konsultasi ke psikolog. Penyebabnya? Beberapa bulan sebelumnya saya merasa ada yang salah dengan diri saya, tanda-tanda depresi, stuck dengan hidup, dan tidak ada motivasi melakukan apa pun. 

So many things have happened in 3 years. Saya menikah di tahun 2017, menjelang pernikahan saya memutuskan resign dari pekerjaan yang sudah hampir 6 tahun saya jalani, keputusan itu saya ambil sendiri tanpa tuntutan atau paksaan siapa pun. Setahun setelah itu saya menjadi ibu dan semua tampak baik-baik saja, tetapi tidak dengan isi kepala saya. Saya sendiri bingung kenapa saya jadi aneh, saya merasa gagal, semua kenegatifan dunia seperti mampir di hidup saya, dan setelah sesi konseling, diagnosa saya adalah anxiety disorder.

Ada beberapa hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini, tetapi gambaran besar yang terjadi di hidup saya hampir sama seperti Milly di film Milly & Mamet. Kehidupan Milly setelah menikah sangat menggambarkan kehidupan saya, apalagi waktu Milly bilang, “Sering-sering ke sini dong, aku kangen ngobrol sama orang dewasa,” DANG! Saya langsung related. Udahlah saya nggak kerja, ngurus anak lengkap dengan keribetan pompa ASI dan sebagainya, nggak ada penghasilan, nggak ada teman ngobrol setiap hari, persis seperti Milly. Bedanya saya dan Milly: Milly punya nanny saya nggak, Milly sudah tinggal di rumah sendiri, saya masih numpang di rumah mertua.

Lalu berceritalah saya sambil menangis heboh ke psikolog, "Why? What’s wrong with me?”

 

Konseling

Psikolog yang menangani saya tersenyum tipis dan mengatakan, “Melepas pekerjaan dan memulai kehidupan yang benar-benar baru bisa menjadi tantangan yang besar. Kamu dulu bekerja sudah 6 tahun, kamu bahagia dengan pekerjaan kamu, segala rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun pasti melekat. Apalagi kamu jurnalis, sering ketemu orang baru, dapat penghasilan, bisa beli ini dan itu, lalu semua kamu lepas. Di saat kamu masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan kehidupan baru setelah menikah, peran kamu bertambah sebagai ibu.”

“Untuk sebagian perempuan, menikah dan menjadi ibu setelah melepas pekerjaan adalah hal yang berjalan biasa saja—mulus. Tapi untuk sebagian perempuan, butuh support system yang banyak untuk menopang peran baru itu. Di kasus kamu, kamu sekarang hanya punya satu support system terdekat yaitu suami. Sudah pasti berat untuk kamu yang tadinya punya banyak support system. Ditambah lagi kamu harus menghadapi perubahan hidup yang kondisinya berbeda jauh dengan kondisi kamu sebelum menikah. Walaupun menikah dan resign adalah keputusan kamu, tetapi yang namanya perubahan hidup pasti ada tantangannya. Baguslah kamu datang ke saya di saat kondisi kamu masih ringan,”

Syukurlah—kondisi saya MASIH RINGAN.

Setelah pulang, saya mulai "menata hidup" seperti saran psikolog tersebut. Dimulai dari hal ringan seperti jalan-jalan pagi kena sinar matahari, semua yang dulu saya suka—meditasi, nonton film—sambil mompa ASI, dan sebagainya. Sebetulnya saya pernah memulai bisnis kecil dari rumah setelah punya baby, tetapi karena satu alasan yang tidak bisa saya ceritakan di sini, saya setop bisnis tersebut. Lalu saya putar otak lagi mencari peluang hal-hal lain yang bisa saya lakukan di rumah tetapi menghasilkan sesuatu, minimal berkarya.

Kondisi saya sebulan, dua bulan setelah konseling jauh lebih baik dan saya siap memulai hidup baru. Tetapi di bulan Maret 2020 pandemi melanda seluruh dunia dan kehidupan saya mandek. Saya hanya keluar rumah untuk belanja bulanan, ke rumah sakit untuk vaksin anak saya, dan untuk membeli sesuatu yang urgent. Keuangan mulai berantakan, segala ide terganjal situasi, berhenti lagi kehidupan saya.

Membuat Channel YouTube

Pertengahan Tahun 2020

Entah dari mana datangnya, muncul dorongan untuk membuat channel Youtube. Hal ini tentu membuat saya berpikir "Apaan sih pikiran ini?" Tetapi dorongan itu terus berputar-putar di dalam kepala saya.

Saya berpikir lagi, mau bikin konten apa? Saya suka makeup tetapi makeup saya ya begitu-begitu saja, natural buat keperluan kerja atau jalan-jalan, agak heboh kalau buat kondangan. Masak cuma seadanya, dan hal-hal kreatif lain bukan bidang saya. Kemudian tidak tahu bagaimana ceritanya saya kesasar di channel yang membahas tentang tarot. Iya, kartu yang katanya bisa meramal masa depan.

Hati saya terpanggil untuk belajar lebih dalam dan akhirnya saya benar-benar beli satu deck tarot tanpa banyak berpikir. Dari situ saya mulai belajar dan belajar. Oh, ternyata tarot tidak semistis itu, semua orang bisa belajar karena deck tarot tipe apa pun pasti ada manual book-nya, bisa dipelajari.

Saya mencari banyak informasi dan mendapatkan bahwa tarot bisa dipakai sebagai media untuk healing dan membuka sisi terdalam pikiran dan hati manusia. Makin ke sini saya melihat bahwa tarot bukan untuk meramal masa depan, tetapi untuk momen saat ini dan kemungkinan yang bisa terjadi dari segala tindakan yang dilakukan saat ini. Proses reading tarot bagi saya seperti menata puzzle yang berantakan untuk dilihat gambaran besarnya. Menarik.

Saya tidak tahu keberanian apa yang membuat saya membuat channel tarot reading sejak bulan Agustus 2020. Terjadi begitu saja. Sampai hari ini saya tidak menyangka sambutannya bagus dan di luar perkiraan.

Saya akhirnya belajar edit video, bikin thumbnail, belajar SEO, sistem Youtube dan sebagainya. Sebulan setelah saya membuka channel, saya sudah bisa monetisasi dan itu jauh lebih cepat dari prediksi saya. Selain hal-hal teknis yang sudah saya tulis sebelumnya, saya juga "kecemplung" untuk belajar hal-hal lain seperti astrologi, jiwa, past life, dan sebagainya.

Tetapi tentu saja, untuk hal-hal seperti ini, tidak semua orang bisa menerima keputusan saya. Karena tarot masih sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, dark-side dan sebagainya, saya memahami itu.

Saya tidak bisa memaksakan pemahaman saya kepada orang lain, terlebih kalau memang sejak awal dia sudah punya pola pikir sendiri mengenai dunia spiritual dan sebagainya. Ya tidak apa-apa, saya balas dengan senyum saja sebagai bentuk penerimaan saya terhadap pemikiran dia yang berbeda dengan saya. Tidak perlu drama, tidak perlu lebay, saya menerima bahwa setiap orang berbeda, dan saya tidak bisa memaksakan pemahaman saya kepada semua orang.

Menjelang akhir tahun 2020, saya masih menikmati petualangan baru saya. Seperti saran psikolog yang saya tuliskan di awal cerita ini, saya lakukan lagi hal-hal yang saya suka dan berkarya. Ternyata ini menjadi kunci kesembuhan saya. Ternyata perjalanan hidup bisa membawa saya kemana pun, ke arah yang tidak bisa saya duga, kadang tidak seperti yang saya rencanakan. Ini juga menjadi alasan kenapa saya menamakan channel saya: Jurnal Infinity

Tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan menjadi seorang tarot reader. Saya tidak tahu ke depannya akan seperti apa, tetapi saya nikmati saja apa yang ada di depan mata dan apa yang saya jalani sekarang. Saya bahagia melakukan apa yang saya pilih tanpa paksaan, itu sudah cukup buat saya. Bisa berkarya lagi, bisa menemukan diri saya lagi, belajar hal-hal baru, dan punya pendapatan sendiri sebagai bonus. Saya tahu, masih banyak PR ke depannya. Menjadi Youtuber ternyata tidak semudah itu, sebab konsisten adalah kunci utamanya dan itu adalah tantangan yang menyenangkan.

Untuk orang-orang di sekitar saya yang masih ragu dengan apa yang saya lakukan atau menyayangkan apa yang saya lakukan (sudah sekolah tinggi-tinggi dan logis tapi ujung-ujungnya jadi tarot reader), ya tidak apa-apa, ini menjadi hal-hal yang harus saya terima. Pada akhirnya saya juga harus belajar untuk berdamai dengan keinginan diri sendiri dan berdamai dengan apa kata orang lain tentang saya. Di usia saya saat ini, saya belajar untuk melihat ke diri saya sendiri, karena kalau saya terus melihat keluar, saya tidak akan pernah merasa cukup.

Dan untuk segala keputusan saya yang ingin terus belajar dan berkarya, saya mengutip kata-kata dari film Enola, "There are two paths you can take: yours, or the path others choose for you."

Saya pilih yang pertama.

Because...

I'm the boss. 

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Rekomendasi Sarapan untuk Kamu yang Mudah Stres
Artikel Selanjutnya
Ayah Kita Mungkin Tak Sempurna, tapi Dia yang Paling Banyak Berkorban untuk Kita