Sukses

Lifestyle

Ibu, Terima Kasih atas Senyuman yang Begitu Merekah di Hari Spesial Itu

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Siti Zamzawiyah

Segalanya hilang bila datang bayangan

Kasihmu yang membelai lembut menyejukkan

Hilang pulang derita dan duka

Berganti bahagia

Mama, oh mama

Terimalah senyum untukmu, Mama

-Senyum untuk Mama By Santi Sardi-

Syair lagu yang begitu elok menyiratkan makna akan kasih sayang. Syair dengan beribu ungkapan menggambarkan tentang sosoknya. Sosok yang menjadi simbol kebanggaan bagi setiap individu di dunia. Ya, itulah sosok malaikat dunia, Ibu.

Ibu menjadi sosok yang begitu spesial bagiku. Ibu yang begitu menawan dalam perannya merangkap sebagai Ibu sekaligus Ayah bagiku. Ibu yang begitu kuat dan tangguh dalam mengarungi kerasnya samudera kehidupan, menjadikanku sangat kagum akan kiprah hidupnya. Ibu yang selalu membuatku tak sanggup menahan air mata tertahan lebih lama karena terbayang akan pengorbanannya yang begitu besar dalam berjuang.

Bahkan untuk diibaratkan dengan hitungan angka pun, jasa seorang Ibu tak mampu untuk dituliskan. Maka tak terlalu berlebihan ketika selalu terbesit suatu niat untuk memperlakukan spesial terhadapnya. Tak terkecuali dengan memberi bingkisan cinta di hari spesialnya, Hari Ibu, sebagai sedikit ungkapan akan pengorbanannya.

Hingga Momen Spesial yang Selalu Kunantikan Itu Datang

Hari Ibu menjadi salah satu hari yang selalu kunantikan. Hari saat aku mampu untuk mengungkapkan rasa terima kasihku akan sosok Ibu. Bukan berarti di hari-hari biasa aku tidak berterima kasih, namun entah karena apa pada saat itu ego selalu tinggi untuk mengungkapkan sebuah rasa. Oleh karenanya, ingin sekali rasanya di hari spesial tersebut aku mampu mengungkapkan sejuta rasa dalam mencipta senyuman seorang Ibu kembali terlukis di bibirnya.

Tak begitu pandai memang untuk memperlakukan Ibu dengan spesial apalagi bernuansa romantis. Karena pada akhirnya yang mampu kupersembahkan hanyalah bingkisan kecil terbalutkan doa. Persembahan yang kuharapkan mampu mewakilkan sedikit ungkapan yang selalu tak mampu kusampaiakan. Mungkin terlalu kecil untuk menyebut bingkisan itu sebagai persembahan spesial, bahkan kalau dibandingkan dengan kebanyakan orang. Namun tentunya hal itu bukan menjadi alasan untuk menyurutkanku dalam memberikan persembahan spesialku kepada Ibu. Dengan berbekalkan uang seadanya, bingkisan yang telah lama kuinginkan pun akhirnya dapat terbeli. Suatu kepuasan tersendiri ketika niat tersebut akhirnya teralisasikan dengan pengorbanan menahan jajan selama beberapa bulan.

 

Senyuman Ibu yang Begitu Merekah Akhirnya Dapat Kusaksikan

Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati seorang anak, akhirnya bingkisan tersebut sampai ke tangan Ibu. Respons yang begitu mengharukan terjadi begitu cepatnya. Tetes air mata begitu liarnya mengalir tanpa menunggu aba-aba dari sang pemiliknya. Haru sekaligus bahagia melihat senyum merekah kembali terlukiskan di bibir Ibu.

Kerutan di wajah yang semakin tergambar seolah-olah memudar pelan tergantikan dengan pancaran kebahagiaan. Air mata yang sering kusaksikan karena beratnya beban yang dipikul, akhirnya kini berganti dengan tetesan air mata bahagia. Lega rasanya mampu menjadikan momen langka dapat terpotretkan begitu sempurnanya di hari itu.

Kalimat syukur yang terus terucap seakan menggambarkan ungkapan bahagia yang terpancarakan di hari spesial. Tiada kebahagiaan lain selain melihat senyum itu mekar dengan manisnya. Begitu sesak menyaksikan beban Ibu yang selalu dipikulnya runtuh perlahan tergantikan dengan senyum yang terus mengembang. Begitu indah dan sempurna nuansa pada hari itu. Ya, semua itu tak luputnya dari peran sebuah persembahan kecil yang kuberikan kepadanya.

Sebuah bingkisan kecil yang kutahu sudah sejak lama diimpikan oleh Ibu, namun baru kali ini dapat terealisasikan. Bingkisan yang akan menjadi pengingat memori Ibu terhadap kenangan kepada sosok pendampingnya (ayah), yang telah 10 tahun pergi mendahuluinya. Bukan barang mahal memang, tapi barang itulah yang akan mengingatkan sebuah rangkaian cerita bahagia pada masanya. Begitu mengesankan bukan ketika sebuah memori cerita sederhana berubah menjadi sangat spesial tatkala terukir dengan orang terkasih kita.

Berbalutkan sejuta harapan, doa, senyuman, hingga air mata, menjadikan memori hangat hari itu begitu indah untuk selalu dikenang. Senyum Ibu yang begitu menawan dengan jelas tergambarkan di raut wajahnya, hingga ingin rasanya hari tak begitu cepat berganti. Kenangan yang telah terlewatkan, menjadikan sebuah pembelajaran bagiku untuk mencipta sebuah senyuman demi senyuman seorang Ibu terus terukir setiap harinya. Hingga nantinya tak mampu kuingat lagi air mata kepedihan seorang Ibu, karena telah sirna tergantikan dengan semburat indahnya senyumannya.

Ibu adalah guru terhebatku. Seorang guru yang penuh kasih sayang, cinta, dan tak kenal takut. Jika cinta semanis bunga, maka Ibuku adalah bunga manis dari cinta itu.

#ElevateWomen

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Resep Ayam Kampung Rebus Bumbu Jahe
Artikel Selanjutnya
Bak The Blind Side di Dunia Nyata, Anak dari Panti Asuhan Berhasil Jadi Atlet American Football