Sukses

Lifestyle

5 Kisah Hubungan Menantu dan Mertua yang Mengandung Air Mata

Fimela.com, Jakarta Hubungan menantu dan mertua punya ikatannya sendiri. Terlebih saat harus hidup seatap atau serumah dengan mertua setelah menikah, akan ada sejumlah penyesuaian yang perlu dilakukan. Tak bisa dipungkiri bahwa ada hubungan yang baik, ada juga yang kurang harmonis.

Hubungan menantu dan mertua bisa mengandung air mata. Ada air mata kesedihan, tapi ada juga air mata yang mengharukan dan menghangatkan hati. Berikut ini lima kisah pilihan dari Sahabat Fimela tentang hubungan menantu dan mertua. Semoga dari kisah-kisah ini, kita bisa mengambil hikmahnya.

1. Tidak Cocok dengan Mertua

"Meskipun banyak hal yang tidak aku sukai, tidak cocok atas diri beliau, aku selalu memegang prinsip bahwa aku tidak akan menceritakan atau curhat apapun dan dengan siapapun tentang beliau, bahkan meski dengan suamiku, karena pasti suamiku sedih jika mendengarkannya.

Dan alhasil, dari hari ke hari, tampaklah ketidakcocokanku dengan beliau, aku sudah malas beres-beres rumah lagi setelah beberapa kali aku berberes dan beliau menampakkan ketidaksukaannya lewat kata-kata atau sikapnya. Meski beberapa kali kakak iparku mengingatkan bahwa ini pun juga rumahmu. Aku pikir dulu juga begitu, tapi lambat laun aku lelah dan menyerah. Aku lebih banyak diam dan memilih menjauh dari beliau."

Selengkapnya: Tinggal Serumah dengan Mertua, Hidupku Bagai Boneka Tak Bernyawa

2. Ibu Mertua yang Sangat Baik, meski Sudah Tak Lagi Jadi Menantunya

"Jika ada yang mengatakan hubungan ibu mertua dan menantu perempuannya selalu drama, mungkin sedikit berbeda denganku. Aku dan ibu mertuaku cukup dekat, bahkan melebihi kedekatanku dengan ibuku sendiri. Aku dekat dengan beliau jauh sebelum aku dan mantan suamiku menikah.

Ibu mertua adalah sosok yang paling bahagia ketika mendengar bahwa aku dan mantan suami memutuskan menikah. Sekaligus yang paling terluka saat akhirnya aku dan mantan suami memutuskan berpisah. Bukan bersedih, lebih kecewa mengapa aku memutuskan mengambil langkah ini."

Selengkapnya: Terima Kasih dan Maafku pada Ibu Mertua setelah Perceraianku dengan Putranya

3. Melapangkan Hati saat Tinggal dengan Mertua dan Ipar

"Saya adalah orang baru di keluarga suami, butuh waktu bagi saya beradaptasi dengan kehidupan mertua begitu juga dengan kehamilan. Fluktuasi hormon begitu sangat mengontrol saya, mertua sering bilang saya malas padahal saya benar-benar merasa selalu lemas dengan kondisi kehamilan saya. Ipar yang selalu ikut campur dan selalu mencari kesalahan saya. Membuat saya merasa manusia paling tidak berguna. Namun saya bersikeras bertahan dan mendalami karakter masing-masing anggota keluarga.

Saya sangat sedih ketika terjadi pendarahan selama hamil karena bekerja dengan kondisi tidak sesuai dengan porsi orang hamil, membereskan rumah, mencuci baju seluruh anggota rumah, menyetrika, dan sering juga mencuci piring bekas makan kedua ipar belum dan juga memasak. Menceritakan pada suami juga tidak enak, belum tentu juga percaya, tapi saya mau cerita ke siapa lagi."

Selengkapnya: Jauh dari Suami, Seatap dengan Mertua dan Ipar Butuh Kelapangan Hati

4. Ibu Mertua yang Kasih Sayangnya Luar Biasa

"Ternyata Allah tidak mengambil semuanya, mungkin aku terlambat menyadari ada seorang ibu lagi yang juga selalu memberi perhatian, kasih sayangnya, dan doanya untukku. Dialah ibu mertuaku, selama ini mungkin karena kami tidak begitu dekat tetapi tetaplah beliau seorang ibu, selalu memaafkan anaknya yang lalai.

Begitu pun denganku, sampai Allah menyadarkanku, bahwa aku masih mempunyai seorang ibu lagi yang begitu kuat, yang begitu sayang dan perhatian, Allah memberiku cobaan dengan memberikan aku sakit yang harus beristirahat total. Di situlah ibu mertuaku selalu datang ke rumah dan merawat aku. Setiap hari beliau memantau perkembangan kesehatanku, mengecek makanan yang aku makan, bahkan obat yang harus diminum pada waktunya."

Selengkapnya: Ibu Mertua yang Penuh Kasih, Memberiku Perasaan Cinta yang Baru

5. Ibu Mertua yang Tidak Membeda-bedakan

"Hidup bersama sekitar 7 tahun, dalam satu atap dengan sosok yang biasa disebut ibu mertua dan tidak sedikit yang menjadikan hal tersebut sebagai momok tersendiri. Tapi, berbeda dengan saya, justru saya belajar banyak hal dari beliau, terutama tentang arti kasih sayang dan cara mengungkapkannya. Bukan bermaksud membandingkan dengan ibu kandung karena setiap ibu pasti memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan kasihnya dan saya menyukai cara ibu mertua.

Beliau memiliki kesabaran yang luar biasa. Awal pernikahan tentu saja saya perlu banyak beradaptasi, maklum saya sendiri adalah anak bungsu dalam keluarga dan perempuan satu-satunya. Keseharian di rumah cenderung di manja, tetapi karena saya menikahi anak pertama dari keluarga suami secara otomatis saya harus bertanggung jawab lebih, terlebih lagi memiliki 3 adik ipar sekaligus."

Selengkapnya: Ibu Mertua Tak Menyebutku sebagai Menantu, tapi Anak Perempuannya Sendiri

Baik air mata kesedihan maupun air mata bahagia bisa mewarnai hubungan menantu dan mertua. Serta, pastinya kita semua berharap dan selalu menginginkan hubungan kita dengan orang terdekat kita bisa senantias baik dan harmonis.

#ElevateWomen

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading