Sukses

Lifestyle

Editor Says: Arctic Monkeys, Cinta Pada Pendengaran Pertama

Fimela.com, Jakarta "I said, "Who's that girl there?", I wonder what went wrong. So that she had to roam the streets. She don't do major credit cards. I doubt she does receipts. It's all not quite legitimate.". Sejak pertama kali saya mendengar suara manja Alex Turner dengan iringan gitar di awal lagu When The Sun Goes Down pada 2006 lalu, saya langsung jatuh hati. Bahkan hingga saat ini.

***

Perkenalan saya dengan Arctic Monkeys terbilang accidentally alias nggak sengaja. Di suatu pagi di 2006, di angkutan kota (angkot) perjalanan menuju sekolah, seperti biasa untuk mengusir kesal karena jalanan macet, saya mendengarkan radio lewat ponsel yang kala itu belum smart-smart banget.

Sampai pada di sebuah kesempatan, Deddy Mahendra Desta (Desta ex Club 80's), yang kala itu menjadi announcer di radio yang saya dengarkan, memperkenalkan sebuah lagu dari band yang juga terbilang baru. When the Sun Goes Down dari Arctic Monkeys, katanya. "Oooh..," dalam hati saya.

Tanpa basi-basi panjang, Desta pun segera memutar lagunya. Hmm.. Entah perasaan apa yang telah masuk ke jantung hati dan pikiran saya waktu itu. Saya merasa ada sesuatu yang tak biasa dari musik yang disajikan oleh empat abang-abang rupawan asal Sheffield, kota di Yorkshire Selatan, Inggris tersebut. 

Sejak itu, saya jadi selalu menanti lagu-lagu mereka di radio. Lebih dari itu, saya mencari tahu tentang mereka lewat internet. Mendengarkan lagu-lagunya lebih jauh dan tenggelam lebih dalam bersama musik rock asal Inggris yang selama ini nggak saya kenal-kenal banget. Hmmm...

13 lagu dari album pertama Arctic Monkeys yang berjudul Whatever People Say I Am, That's What I'm Not telah benar-benar mencuri hati saya. Kalau banyak orang bilang "jatuh cinta pada pandangan pertama", mungkin perasaan saya saat itu ke musik Arctic Monkeys adalah "jatuh cinta pada pendengaran pertama". Yak sip.

Jujur, meski sejak kecil saya banyak mendengar musik luar negeri, tapi, hingga 2006, saya belum menemukan musisi luar negeri yang click untuk saya kagumi. Kekaguman malah saya dapatkan setelah mendengar album Whatever People Say I Am, That's What I'm Not, album yang berasal dari band (yang terbilang) baru saat itu. 

Arctic Monkeys dan Perubahan yang Terjadi

Sejak 2006, hingga kini total ada 5 album sudah ditelurkan dan serangkaian tur dijalankan oleh Arctic Monkeys, namun, hingga saat ini, belum ada satu promotor Tanah Air pun yang berhasil membawa mereka ke Indonesia. Seringnya, hanya ada berita-berita hoax serta selebaran palsu semata yang kerap saya dengar dan lihat. Hih!

Sebagai penggemar, mustahil rasanya jika saya tidak ingin menyaksikan mereka secara langsung di depan mata. Apalagi, saya sangat mengikuti setiap perkembangan empat sekawan tersebut sejak dirilisnya album pertama dan album-album EP lainnya. Ya meskipun baru beberapa tahun belakangan ini saya baru mampu membeli album-album mereka dalam kepingan CD asli rilisan UK. Ihiy!

Gitaris band rock The Orwells, Matt O'Keefe melontarkan pernyataan kurang sedap kepada Arctic Monkeys.

Tak ketinggalan, gosip seputar asmara sang vokalis, Alex Turner, dengan beberapa perempuan pun tak lupa saya pantau keberadannya. Di kalangan perempuan, Alex Turner merupakan seorang rock star yang ketampananya bisa bikin tergila-gila. Temasuk saya. Namun, ketimbang Alex Turner, entah kenapa saya malah klepek-klepek dibuat oleh Matt Helders. Chubby chubby gimana gitu ye kan.

Gitaris Arctic Monkeys, menyatakan bahwa bandnya sering mendengarkan karya-karya David Bowie selama penggarapan album AM.

Bicara soal musikalitas, buat kamu yang juga mendengarkan Arctic Monkeys sejak album pertama, pasti tak bisa memungkiri untuk merasakan setiap perubahan musik yang ada di album demi album. 

Mulai dari Whatever People Say I Am, That's What I'm Not, yang sarat dengan distorsi nada. Favourite Worst Nightmare, yang masih menonjolkan sisi rock mereka, lalu Humbug yang sedikit melunak pada beberapa lagu namun terdengar tetap rumit, kemudian ada Suck It and See yang lebi liar dengan sentuhan rock and roll, hingga yang paling terakhir, AM, album yang kental dengan nuansa hip hop dan RnB. *sotoy abitchhh*

Dari lima album Arctic Monkeys, semuanya punya keunikan dan ciri khas tersendiri, setidaknya di telinga saya. Namun, di album ke-5 inilah yang bikin saya benar-benar nggak habis pikir. Entah karena mereka yang terlalu mengeksplorasi, atau saya yang nggak bisa terima kenyataan. Nuansa rap dan hip hop yang ada di sebagian besar lagu bikin saya merasa Arctic Monkeys kehilangan jati diri. Emmm atau justru itu jati diri Arctic Monkeys yang sebenarnya? Entahlah.

Ditanya soal album ke-6 yang dinanti-nanti para penggemar sejak rilisnya AM, dikutip dari Rollingstone.co.id, Alex Turner mengaku tak mau terburu-buru. "Tidak, tidak saat ini. Belum. Tapi sewaktu-waktu mungkin. Maksud saya, kita lihat saja. Tidak usah terburu-buru," kata Alex ketika ditanya oleh Radio X. Hmmm.. Kebanyakan project di luar ya, Bang? :(

Well, apapun yang terjadi pada Arctic Monkeys kini dan nanti, saya hanya berharap bahwa mereka akan terus menjadi dirinya sendiri. Terpengaruh sih boleh lah ya, tapi disaring juga. Ah, can't wait to listen your next album and fallin in love again and again, Pals. Btw, KONGSER KALI BANG DI JAKARTAAAAAAA!

Salam,

Febriyani Frisca

 

Editor kanal Unique

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading