Sukses

Lifestyle

Fimela Luncheon: Pilih Mana? Bos Perempuan atau Laki-laki?

Para Fimela Friends ini adalah satu geng teman sekolah yang kebanyakan berasal dari Kota Kembang, Bandung, walaupun beberapa ada yang sudah menetap dan bekerja di Jakarta. Fimela Luncheon sendiri merupakan acara makan siang bersama yang diadakan oleh FIMELA.com dengan sekelompok perempuan dan bukan sekadar acara makan siang biasa, melainkan sambil berdiskusi mengangkat satu topik yang sedang hangat atau dekat dengan keseharian perempuan. Dan pastinya akan ada buah tangan setelah selesai acara ini. Dalam kesempatan saat ini, peserta Fimela Luncheon beruntung "dibekali" paket kecantikan dari Clinique.

Dibagi menjadi tiga grup, grup pertama membahas topik; Pilih mana? Bos Perempuan atau Laki-laki?

Saat FIMELA.com meluncurkan topik ini, tanpa banyak basa-basi satu persatu para peserta angkat bicara. "Perempuan dan laki-laki tidak bisa disamakan karena secara alami mereka pun sudah berbeda," ujar Irin, Executive Producer Trans 7 sambil memilih menu makanan untuk santap siang itu. "Sekarang sepertinya kualitas kerja udah nggak bisa dibedakan berdasarkan gender. Karena semua tergantung pada pribadinya masing-masing," Evi selaku Channel Development di salah satu consumer goods company menambahkan.

Penasaran dengan pengalaman menghadapi kedua macam bos sepanjang pengalaman mereka, FIMELA.com pun mengorek dan bertanya lebih dalam. "Saya banyak bertemu dengan berbagai macam bos, baik perempuan ataupun laki-laki. Tapi, saya tidak terlalu mengambil pusing karena yang penting adalah profesionalisme kerja," giliran Leli, Control and Reporting sebuah bank swasta ambil bagian.

Obrolan terus berlanjut sambil kami menikmati hidangan yang ada di atas meja. Kemudian, FIMELA.com kembali melontarkan pertanyaan; Seberapa penting keharmonisan hubungan bos dengan bawahannya? Apakah ada yang pernah berhenti kerja hanya karena nggak cocok  dengan atasan? "Hubungan harmonis antara bos dengan bawahannya sangat penting untuk dijaga. Kalau nggak, coba deh bayangin gimana malesnya kita saat mau pergi ke kantor. Ngebayangin (ketemu si bos) aja males, apalagi jalan ke kantornya. Tapi, untungnya saya nggak pernah punya pengalaman seperti itu dan sejauh ini saya belum pernah berhenti kerja hanya karena nggak cocok sama bos," ujar Evi sambil tertawa ringan.

"Kita pasti maunya punya bos ideal yang peduli sama bawahan, selalu punya solusi, dan nggak cuci tangan saat bawahan melakukan kesalahan. Tapi, yang namanya ideal sepertinya jarang terjadi. Jadi kita harus bisa belajar menghadapinya," Leli menutup pembicaraan siang itu.

Seru, kan, obrolan kita? Pastinya. Kamu mau dapat giliran untuk makan siang sama FIMELA.com dan menjadi bagian dari kelompok diskusi kami?
Email dan daftarkan geng atau kelompok kamu ke: nuniek@fimela.com

What's On Fimela
Loading