Sukses

Lifestyle

Pelukis Nan Fashionable (II)

Vemale.com - Nana Tedja, seorang pelukis dan penulis, namun kini ia lebih condong menuangkan kemampuan seninya pada media kanvas. Menurutnya melukis adalah belahan jiwa, sedangkan menulis kini hanya sebagai pengisi waktu luang. Kesan pertama ketika melihat sosok pelukis perempuan ini adalah bahwa beliau sangat memperhatikan penampilannya yang boleh dikata selalu mengikuti tren masa kini. Dari Batik Ke Kanvas Kemudian beralih dengan membicarakan tentang perjalanan Nana menekuni dunia lukis, ia menjawab dengan antusias dan hangat meski di luar sedang hujan yang turun tiada henti sejak awal bertandang ke rumahnya yang terletak di kawasan Selatan Yogyakarta. Perempuan kelahiran Yogyakarta, 28 September 1971 ini, sejak usia 5 tahun sudah bercita-cita menjadi seorang pelukis. Cita-cita yang kemudian dibangun oleh pengaruh tumbuh kembang dalam lingkungan keluarga pengusaha batik. "Awal melukis di kain batik, saya merasa senang. Pada waktu itu sedang booming acara menggambar di televisi (TVRI) yang menampilkan Alm. Tino Sidin," kenangnya tersenyum. Selain lingkungan membatik, juga karena sang kakek dari pihak ibu adalah seorang pelukis keraton. Namun yang sangat mempengaruhi adalah lingkungan membatik di keluarganya. Setiap hari melihat ibunya melukis di kain batik, semakin membuat Nana membulatkan cita-citanya untuk menjadi seorang pelukis. "Saya belajar sendiri, tidak ada kursus karena orang tua saya sibuk sehingga tidak bisa menyempatkan anaknya untuk kursus melukis. Saya melukis di kain-kain batik karena ikut-ikutan, kemudian coba dijual. Saat sekolah dari SD hingga SMA saya gemar melukis. Setelah melukis lalu diberikan ke teman-teman," katanya semangat. Perjalanan Nana dalam menekuni bidang seni satu ini tidaklah mulus, ada hambatan yang sangat mengganggu, yakni ayahnya yang menentang cita-citanya. Menjadi seniman buat ayahnya bukanlah pilihan cita-cita yang diinginkannya. "Begini, orang tua saya boleh dibilang tergolong kolot, terutama bapak saya, sedangkan ibu saya bebas. Menurut bapak, tidak boleh jadi seniman, beliau pengennya saya jadi ekonom, pengusaha, dokter, atau insinyur. Beliau paling ngeri kalau anaknya jadi seniman. Apalagi pada tahun-tahun dulu seniman kan hidupnya acak kabut," ceritanya. Walaupun jelas-jelas dilarang, seorang Nana tidak patah semangat, ia tetap melukis walaupun ditentang bahkan peralatan melukisnya sempat dirusak oleh sang ayah. Ketika meneruskan ke bangku kuliah, ia mengikuti keinginan orang tuanya untuk mengambil jurusan Manajemen. Baginya, menuruti keinginan orang tuanya ternyata ada gunanya juga. Ia tetap kuliah di bidang yang diinginkan orangtuanya, namun tetap punya wadah berkesenian yang tidak diketahui oleh orang tuanya. "Saya mencari ilmu sendiri di lingkungan ISI dengan memperkenalkan diri dan berteman pada yang sudah menjadi pelukis dan para dosennya juga. Usai kuliah di Universitas Atmajaya (Yogyakarta), saya ke ISI (Institut Seni Indonesia, Yogyakarta) untuk mencari lingkungan, sehingga saya terbawa dalam dunia lukis," paparnya panjang lebar. Nana ingat betul momen saat memamerkan karya-karyanya pada tahun 1996. Konsep atau aliran yang ia pilih awalnya realis, potret, bolak-balik, hampir semua aliran ia ikuti tanpa konsep. Baginya semua itu hanya untuk diary. "Ketika masuk S2 di ISI, saya mengambil jurusan penciptaan seni lukisan. Saat itu pikiran saya mulai terbuka untuk membuat konsep karena sekolah mengajarkan dalam membuat karya pasti ada landasan teorinya. Pameran yang sudah-sudah mungkin belum matang konsepnya, namun lukisan saya sekarang sudah punya konsep baik yang untuk tugas akhir dan ada beberapa yang sudah dibeli orang (Distorsi Diva)." Mengenai konsep karya yang dipilihnya adalah Pop Art, dia memiliki alasan bahwa Pop Art senantiasa berkembang dan sesuai dengan hatinya. Apalagi ia memang menyukai sesuatu yang modis (fashionable). Seperti juga penampilannya yang fashionable. "Karya kontemporer lebih nyaman, enak nih karyanya lebih trendi, lebih masa kini, lebih ke saya, gejolak jiwa juga lebih kena," jelasnya. Nana yang sempat mengenyam pendidikan politik di Filipina ini pernah tinggal di Jakarta untuk berkarir sebagai penulis, tepatnya penulis skenario sinetron tetap di PT.Triwarsana Jakarta. Dia juga pernah kerja freelance di berbagai PH (Multivision Plus, Millenium Visitama "KISMIS" RCTI). Selain itu, Nana juga pernah tinggal di Singapura setelah menikah namun kini ia lebih memilih pulang kampung karena ia merasa hidupnya sekarang lebih berarti (ibu dari dua orang anak, menjadi pelukis, menulis novel dan cerpen). Selain melukis, menulis cerpen, memasak, ia juga punya kesibukan lain yakni mendesain baju untuk anak-anak, berenang dan dansa (Cha Cha, Rumba) "Saya sudah pernah hidup berjibaku dengan kesibukan yang tiada hentinya, tinggal dan bekerja di Jakarta selama 2 tahun membuat saya larut dalam kesibukan sendiri. Makanya sekarang ketika sudah berkeluarga saya usahakan untuk bisa terus menemani anak-anak saya. Buat saya sangat mengecewakan jika meninggalkan anak demi kesibukan. Hal itu bisa menimbulkan pengalaman yang tak mengenakkan bahkan merugikan anak saya sendiri." Melukis sudah menjadi bagian dalam hidupnya, namun melukis bukanlah mata pencaharian buat seorang Nana. Melainkan sebagai wadah untuk berkesenian dan berapresiasi, masalah untuk dibeli orang atau tidak merupakan poin kesekian buat Nana. "Dalam hal profesional baru saya harus mengikuti harga standar. Lukisan saya tergolong murah, karena saya tidak menilai lukisan dengan uang. Dilihat dan direspon orang saja saya sudah senang, saya tidak makan dari lukisan, jelas ada suami, jadi saya tidak susah-susah jual lukisan. Saya jual hanya saat pameran. Mahal atau tidak, pasar yang menentukan. Kadang ada yang terbeli di studio atau balai lelang," ungkap Nana yang mengidolakan Ronald Manulang sebagai pelukis favoritnya (dikarenakan beliau memiliki teknik dan konsep yang bagus menurut Nana). "Lukisan adalah belahan jiwa, jika ada orang senang ya silahkan memiliki, soal harga belakangan. Saya senang jika orang perhatian dan merespon karya saya," mantapnya lagi. Bagaimana dengan ambisi ke depan? "Saya tetap pengen melukis hingga tua, karena memang profesi saya. Galeri tetap survive untuk support saya dan teman-teman. Usaha lain seperti kerajinan (usaha keluarga) tetap lancar." Menurut Anda menjadi pelukis bisa menghidupi kebutuhan? "Bisa, kalau pelukis itu sudah terkenal, istilahnya in demand. Lukisan saya masih tergolong biasa. Menghidupi sangat bisa kalau sudah begitu. Tapi kalau belum, jangan pernah bercita-cita bahwa lukisan itu bisa menghidupi kita, melainkan kita yang bisa menghidupi lukisan atau kesenian." Biodata
  • Nama: Nana Tedja
  • Lahir: Yogyakarta, 28 September 1971
  • Pendidikan: Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jurusan Penciptaan Seni Lukis
  • Nama Suami: Daniel Barito
  • Anak: Michael Tico Majanateja dan Nadja Madamungga
Pameran Tunggal IDOL
  • 1996 - Pameran Lukisan Tunggal, Hotel Melia Purosani, Yogyakarta
  • 1999 - Pameran Lukisan Tunggal, Bentara Budaya, Yogyakarta
Pameran Bersama (Pilihan)
  • 1999 - The Windsor & Newton World Wide Millenium Painting Competition dan Pameran Lukisan Galeri Hidayat, Bandung
  • 2000 - "Refleksi Seni I", Darga Gallery, Sanur, Bali
  • 2001 - "Tanda Mata I", Bentara Budaya, Yogyakarta
  • 2002 - " Tanda Mata II", Bentara Budaya, Jakarta dan "Pameran Lukisan", Museum Widayat, Magelang
  • 2004 - "BAZART", Benteng Vredeburg, Yogyakarta
  • 2007 - "Homage to Homesite", Jogja Nasional Museum, Yogyakarta dan "Ilusi Nasionalisme Raden Saleh", Jogja Gallery, Yogyakarta dan "Luar Biasa", Galeri Biasa, Yogyakarta dan "100 Tahun Affandi", Pameran Patung, Museum Affandi, Yogyakarta
  • 2008 - "Untukmu Perempuan Indonesia", Gedung Arsip Nasional, Jakarta dan "Art to Art", Coral Gallery, Yogyakarta dan "Mengenang Kerusuhan Mei", Pameran Instalasi & Happening Art, Jogja Nasional Museum dan "Reformist", Langgeng Art Project, Yogyakarta dan "Jogja Art Fair", Taman Budaya, Yogyakarta dan "Red District Project", Koong Galeri, Jakarta
Penghargaan 1999 The Windsor & Newton World Wide Millenium Painting Competition Buku
  • Biasa Bercerita, Kumpulan Cerpen, Penerbit Erlangga, Jakarta
  • Cerita Isabel, Novel Remaja, Penerbit Intaran
  • Perjalanan Seni Lukis Indonesia, Koleksi Bentara Budaya 2004, Penerbit Bentara Budaya, Jakarta
  • The Journey of Indonesian Painting, The Bentara Budaya Collection 2008, Penerbit Gramedia
(vem/oya/meg)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

    What's On Fimela
    Loading