Sukses

Lifestyle

Cross-dressing: Antara Gaya Hidup dan Penyakit

Cross-dressing secara umum telah diterima sebagai sebuah gaya hidup, bahkan pekerjaan, di kota-kota besar. Istilah cross-dressers dan cross-dressing sendiri juga marak muncul dalam berbagai media dan forum-forum diskusi. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak sepenuhnya memahami perilaku gender ini dengan gamblang.

Dijelaskan melalui ifge.org, cross-dressers sebenarnya berarti seseorang yang suka mengenakan pakaian untuk lawan jenis meski orang-orang ini tidak mempunyai keinginan untuk berganti kelamin. Sedangkan cross-dressing lebih merupakan salah satu bentuk aksi trans-gender yang, sekali lagi, tidak mengharuskan seseorang untuk berganti kelamin. Jadi, secara umum bisa disebut "alih-pakaian" ini lebih ditujukan sebagai rasa nyaman namun tidak melupakan identitas asli seseorang yang terlahir sebagai pria atau wanita.

Sering juga disalahpahami sebagai penyakit seksual, aksi cross-dressing akan lebih tepat disebut perilaku mental yang unik. Dalam dunia hiburan Indonesia, banyak tokoh yang melakukan aksi unik ini. Aming dan Tata Dado adalah nama beken yang sering menggunakan pakaian wanita di layar atau panggung hiburan, tapi berpakaian layaknya pria biasa dalam keseharian mereka.

Bebarapa pelaku cross-dressing sendiri bahkan sering bertanya-tanya apakah mereka dikategorikan 'sakit' dan membutuhkan bantuan profesional. Namun menurut The International Foundation for Gender Education, cross-dressing tidak termasuk penyakit, melainkan lebih sebagai gaya hidup dan profesi.

Yang menjadi sumber masalah adalah isu-isu individual dari lingkungan sekitar. Rasa minder atau malu yang berlebihan akibat pandangan orang di sekitar, bisa membuat para cross-dresser tertekan dan, pastinya, membutuhkan penanganan yang lebih jauh dari dokter atau terapis.

Oleh: Hening

(vem/rsk)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading