Sukses

Lifestyle

Mencegah Baby Blues Syndrome di Kehamilan Kedua

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Waritsa

Siapa yang tahu baby blues syndrome? Ya, kata-kata yang mulai menghantui dan semakin dikenal oleh sebagian calon ibu dan ayah di Indonesia. Menurut Healthline, sekitar 80 persen ibu melahirkan memiliki baby blues, yaitu periode singkat seusai persalinan yang dipenuhi dengan serangan kesedihan, kecemasan, stres, dan perubahan hati.

Kehamilan pertama saya memang seperti roller coaster baik untuk diriku maupun suami. Kami sama-sama tidak mengerti pun masih awam dengan kehadiran si kecil. Kenapa sampai aku mengetahui bahwa terkena baby blues ya karena saya seperti merasa sendiri serta marah-marah seolah tak ada yang membantu padahal suami menemani bahkan menambah cuti paternity dengan cuti tahunannya.

Kunci utamanya adalah periode singkat yaitu dua minggu selebihnya bisa masuk post partum syndrome sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut ke petugas medis. Mungkin kata-kata tak mampu menjabarkan kembali apa yang saya rasakan pada saat itu yang jelas dan pasti adalah saya tidak ingin berada di posisi yang sama dengan keadaan serupa ketika kehamilan kedua ini.

 

 

 

 

Berbenah dengan Literasi

Berkaca dengan pengalaman serta mencari beragam informasi yang bertebaran untuk lebih mempersiapkan diri akan kehamilan kedua walaupun dia datang secara mendadak karena rentan usia dengan kakaknya hanya satu tahun. Tapi, saya sudah yakin dan suami pun sama akan mampu melewati periode tersebut dengan baik.

Berbekal literasi, beberapa informasi menyarankan tetap waras dan tetap bahagia. Nah, saya pun mencari tahu cara tetap waras serta bahagia sehingga mampu melawan baby blues di persalinan kedua. Lalu waras bagi saya dan tidak memusingkan diri sendiri dengan mood swing seusai persalinan adalah dengan menulis.

Tiga bulan jelang kelahiran anak kedua, saya mendapatkan tawaran untuk kembali menulis secara freelance. Orangtua utamanya ibu saya mempertanyakan kesanggupan saya karena melihat saya hamil dengan anak kecil.

“Nggak apa-apa, aku sanggup. Insya Allah,” tegas saya sekaligus menekankan diri bahwa ini lah salah satu cara bahagia dan bentuk melawan baby blues di kehamilan kedua. Saat orang lain terlelap, saya di situ hadir mengutak-atik komputer jinjing dengan menulis sekaligus menyerap ilmu (karena jangan sampai tulisan saya hanya hadir tanpa memberikan efek untuk pembacannya).

Perubahan Tak Mengkhianati Hasil

Lalu, pada Januari awal tahun kemarin, saya pun melahirkan. Saya tidak berhenti dan tetap menulis tapi mengambil jadwal begadang malam bersama anak kedua saya. Hasilnya? Saya tidak terkena baby blues syndrome pada anak kedua.

Suami pun tak perlu cuti panjang untuk mengantisipasi karena saya meyakinkan diri kepadanya bahwa saya mampu. Benar saja, dia tak dapat cuti panjang karena urusan pekerjaan yang mendesak. Namun, karena kegiatan menulis tersebut, saya pun tak mempermasalahkan dan tetap asyik sembari mengurus dua anak kecil di rumah.

Inilah usaha saya untuk mengubah kebiasaan bahkan mungkin memutar diri agar menjadi lebih baik untuk diri sendiri, serta keluarga. Terakhir, jangan lupa bahwa para calon ibu dan ayah, kalian tidak sendiri di luar sana termasuk saya pun merasakan hal yang sama dalam kehamilan pertama. Ucapkan terima kasih kepada diri sendiri di tiap malamnya, dan ini selalu kulakukan sejak awal saya melawan baby blues syndrome di kehamilan kedua. Selamat mencoba!

#ChangeMaker

Loading