Sukses

Lifestyle

Memperbaiki Ibadah, Hidup Perlahan Berubah Lebih Baik

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: W

Hidup di dunia, bagai berjalan melangkah dalam juntaian tirai yang penuh rahasia, tertutup, tak ada yang tahu. Dibutuhkan usaha untuk menyingkap juntaian itu satu per satu hingga sampai pada tujuan, pula siraman pinta yang dilangitkan agar mata dan hati selalu diberi terang.

Aku tidak tahu siapa diriku esok hari. Seorang bayi yang dilahirkan pada bulan Juni malam itu, benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi di 14 tahun yang akan datang pada dirinya. Gadis belia itu resmi menjadi seorang anak dari ayah dan ibu yang memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka. Ya... orangtuaku telah bercerai, aku tidak tahu harus berkata dan berbuat apa, duniaku runtuh seketika.

Tepat saat hari terakhir menjadi siswi sekolah menengah pertama (SMP), tepat saat itu juga hari terakhir orangtuaku bersama menjadi dua insan dalam satu perahu, yang kini mereka menepi, turun dari perahu itu, dan kemudian memutuskan untuk kembali berlayar namun di atas perahu yang berbeda. Di saat aku akan masuk sekolah menengah atas (SMA), di saat teman-temanku lepas dalam riang merayakan kelulusan kami dari sekolah menengah pertama, histeria tawa dan teriakan bahagia saat kelulusan sekolah menengah pertama benar-benar aku mati rasa, raya suka tak berasa sedikit pun, kemudian menjadi remaja SMA yang berhasil mengikrarkan “masa SMA adalah masa yang paling indah”, tapi tidak bagiku.

Semenjak “perang dunia” itu (sebutan untuk perpisahan kedua orangtuaku, sebutan sampai saat ini), aku berpura-pura menjadi baik-baik saja. Aku selalu “menghadirkan” kehidupan normal tentang keluargaku kepada orang-orang di sekitarku, termasuk kepada teman-temanku. Namun tidak saat aku di rumah. Aku berubah menjadi gadis yang sangat emosional, mudah marah, mudah menangis, tapi juga bisa tertawa, namun mudah kembali lagi menjadi sendu.

Semenjak “perang dunia” itu, aku merasa bahwa hidup yang kutapaki ini banyak yang tak sesuai dengan hidup yang kuharapkan. Kental dalam rasaku, hal itu pasti tak lepas karena apa yang sudah kedua orang tuaku lakukan. Merekalah yang membuat hidupku berubah menjadi seperti ini. Berubah dari penuh keceriaan menjadi penuh kesedihan, berubah dari merasa aman menjadi mudah takut, dan berubah dari mudah menggapai sesuatu menjadi susah menggapainya, termasuk dalam menggapai mimpi-mimpi besarku.

Orang-orang di sekitarku, termasuk ibu dan ayah secara halus seakan menyalahkan ketidaksanggupanku dalam menggapai pencapaian. Sontak aku teriak, mengatakan kepada mereka bahwa aku berada dalam keadaan seperti ini karena ibu dan ayah, benar aku teriak sampai tak ada satu pun orang yang mampu menangkap suaraku. Aku adalah korban. Korban dari perceraian mereka. Kalimat itu telah mendoktrin logika dan perasaanku hingga gadis itu tumbuh beranjak dewasa. Semenjak “perang dunia” itu juga, aku menjadi seorang yang takut akan sebuah hubungan, alih-alih pernikahan. Aku tak tahu sampai kapan rasa menjadi korban ini akan terus kuhayati.

Genap aku menginjak usia 19 tahun, selama kurang lebih 5 tahun itu berarti aku hidup dalam jeratan “menjadi korban”, yang atau jangan-jangan jeratan itu kubuat untuk diriku sendiri. Sampai pada suatu pikiran saat merenung, dan memikirkan hal yang sama kedua kalinya. Sampai kapan rasa menjadi korban ini akan terus kuhayati? Saat pandangku tak ada yang melihat, saat ucapku tak ada yang mendengar, saat gelisah dan sedihku tak ada yang merasa, hanya aku yang mampu melihat pandangku, mendengar ucapku dan merasakan gelisah dan sedihku, hanya aku yang sanggup memulihkan diriku sendiri. Jalan pertama untuk pemulihan diriku adalah dengan membuat keputusan untuk mendaftar kuliah di program studi Psikologi. Besar harapku dapat menyembuhkan luka dalam diriku, dengan memelajari Ilmu Psikologi di dalam “wadah” yang tepat, di sinilah aku sekarang.

Kuliah Psikologi

Psikologi, mega ilmunya membuat jiwaku “dipijat”, ditambah dengan bertemu serta berkawan dengan para guru dan teman yang positif, membuatku sangat nyaman dan merasa diberi banyak perhatian disini. Aku merasa sedikit berdamai dengan keadaan masa laluku. Setiap hari, perlahan aku mencoba menghilangkan kebiasaanku dalam penghayatan menjadi “korban”. Aku belajar melihat keputusan yang diambil seseorang dari sudut pandang yang berbeda, termasuk cara pandangku terhadap jalan yang dipilih ibu dan ayahku untuk bercerai.

Pemahamanku akan hal itu datang perlahan saat banyak orang di sekitarku menceritakan keluhnya padaku, dan aku pun berusaha menghubungkan keluhnya dengan ilmu yang kudapat, sangat menyenangkan. Kami jadi sama-sama belajar untuk bermanfaat bagi orang lain, bukan lagi hanya memikirkan hal pahit dalam diri yang terus diungkit, yang mana sudah waktunya untuk disingkirkan dari kehidupan. Psikologi mendongkrak diriku untuk naik, namun sejatinya kemauan diriku sendiri untuk naik inilah yang membuatku mencapai tingkat hidup yang lebih baik di atas. Applause for myself!

Hariku berubah, hidupku diuji lagi tapi sekarang saat menjadi mahasiswi Psikologi semester akhir. Aku yang tinggal mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing terkait data subjek tugas akhirku, namun tak sampai. Dosen pembimbing memintaku untuk ambil data ulang, padahal deadline pengumpulan skripsi dua hari lagi, badanku lemas dan mataku berkaca-kaca, sambil berjalan keluar dari ruang dosen pembimbing, seketika aku berjalan cepat ke kamar mandi fakultas, menangislah sesenggukkan aku di kamar mandi itu, dan lagi kutenangkan diriku sendiri.

Marah, dan seketika teringat ibu dan ayah yang pasti akan sedih mendengar putrinya mengalami hal ini. Teringat ibu dan ayah lagi, diriku mengalami hal tak terduga ini, juga pasti karena ibu dan ayah, kebiasaanku menyalahkan orang lain terulang lagi. Mungkin urusanku belum selesai dengan aku yang menjadikan diriku sebagai "korban", oleh karena itu Tuhan ingin membuatnya benar-benar selesai dengan dihadapkan lagi dengan satu ujian baru. Kali ini aku tidak terlalu larut dalam kesedihan, dan menyalahkan keadaan. Kuletakkan semua.

Memperbaiki Ibadah

Seluruhnya yang terjadi padaku, kupasrahkan pada keinginan Tuhan. Kutenangkan diriku dengan terus mengelus dada, sambil terus membiasakan berkata, “Semua terjadi karena sudah kehendak-Nya, dan Dia akan beri pelangi setelah ini, Tuhan tahu kamu kuat." Berawal dari itu, setiap hari aku terus perbaiki ibadahku, agar tepat waktu dalam melaksanakannya. Apalagi saat masa pandemi seperti sekarang ini, merupakan sebuah berkah bila bisa dilihat dari sisi lain.

Banyak waktu yang bisa kulakukan di rumah, salah satunya beribadah lebih banyak. Ibadah pelengkap wajib pun kujalani, sepertiga malam aku selami walau tak tiap hari, serta senantiasa mengingat-Nya dalam zikir. “Ya Tuhanku, Yang Maha Mencintai hamba-Mu, ampunilah aku, tolong aku, angkat aku dari ujian ini, sungguh aku mengadu kelemahanku yang tak sanggup menghadapai ini Tuhan," sebutku dalam salah satu doa yang kupanjatkan. Memperbaiki ibadah adalah hal yang terus kuusahakan untuk dilakukan agar menjadi kebiasaan.

Berjalan empat bulan setelah itu, cahaya itu mulai terlihat. Aku bersyukur, benar-benar bersyukur, Tuhan mendengar dan menjawab pinta yang kupanjatkan selama ini. Sekarang aku lebih menghargai kedua orangtuaku, aku menjadi lebih tenang karena berkurangnya rasa menjadi “korban” dari aku untuk diriku, dan data tugas akhir yang sudah berganti subjek, kini telah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing, dan bisa dilanjutkan pada bab selanjutnya. Sekali lagi sangat bersyukur! Aku tahu Tuhan Maha Baik, semua ini diturunkan karena Tuhan sangat mengasihi hamba yang ingin Ia ubah, yang ingin Ia naikkan.

 

#ChangeMaker

Loading