Sukses

Lifestyle

Dampingi Ibu yang Berjuang Sembuh, Keluarga adalah Nadi Hidupku

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Erna Winarsih Wiyono

Terlahir dengan kondisi serba kecukupan dengan perhatian penuh cinta kasih akung dari kedua orang tuaku, menjadikan perjalanan kisah hidupku harmonis dan dinamis. Semua berjalan lancar hingga suatu ketika dokter memvonis ibuku kanker kelenjar getah bening. Seketika duniaku berhenti berputar, segala bentuk ikhtiar kami lakukan untuk kesembuhan ibu tak peduli harta kami akan habis, yang terpenting adalah ibu sembuh seperti sedia kala.

Dalam masa-masa ekonomi yang sudah tak sama seperti dulu, ayah dan ibu sebelumnya membekali kami putra-putrinya untuk bisa bertahan dalam kondisi berpunya atau tidak berpunya. Saat hal itu terjadi kami tidak kesulitan berganti peran dan menikmati hari tanpa beban, dari berpunya menjadi tidak berpunya. Namun aku yakin di balik semua perjalanan ini ada hikmah yang Tuhan YME sisipkan untuk pelajaran berharga ke depannya. Ketika kondisi kehidupanku di bawah, aku banyak kehilangan teman-temanku yang mungkin tidak siap melihat perubahan siklus hidupku. dalam situasi itu menulis menjadi penghiburan bagiku.

Aku menyukai kegiatan menulis semenjak duduk di bangku kelas 5 SD, saat itu aku rajin berkirim karya ke majalah anak yang populer di masa itu, Majalah Bobo. kegiatan menulis itu sempat terhenti dan tidak aku teruskan karena aku kehilangan rasa percaya diri sesaat setelah beberapa kawanku mengejek hasil tulisanku. Lalu aku merenung, kenapa aku menyerah karena mereka menghina dan menertawakanku? Dan kekuatan untuk semangat menulis bangkit kembali setelah aku melihat ibu berjuang melawan kankernya.

Sebelum tervonis kanker getah bening, ibu pernah menjabat posisi bendahara pada Dinas Pertanian, ibu kerap berbagi tentang perjalanan dinasnya. Hal favoritnya bercocok tanam dan bunga Wijaya Kusuma, tangan ibu menghasilkan kesuburan pada apa yang beliau tanam. Saat aku memintanya untuk mendampingi aku ikut tinggal di Bogor, ibu membawa semua tanaman pandan yang subur yang beliau tanam selama ini. Maka saat tetangga menyapa, mereka pasti langsung menanyakan, "Pandannya dijual tidak, Bu?"

Aku berpikir memberi lahan yang bisa membuat ibu bebas bercocok tanam, agar aku tetap bisa mendengar suaranya saat bernyanyi dengan pot-pot yang ibu isi dengan apa pun yang ingin ibu tanam. Momen adalah merekam perjalanan hidup pada tangan sang waktu, kembali megningat sejenak saat mengantar ibuku melewati lorong-lorong rumah sakit, bertemu diagnosa yang berbeda dan aku tidak akan sedikit pun menghakimi apa yang dokter katakan. Dokter adalah jembatan ikhtiar untuk memperjuangkan kesembuhan ibu dari kanker, selebihnya adalah keajaiban dari Tuhan YME.

Bau rumah sakit, obat, dan hilir mudik pasien tidak membuatku trauma. Perjuangan itu dimulai ketika ibuku divonis kanker kelenjar getah bening hingga perjuangan akhir adik bungsuku yang berakhir di tahun 2014, kanker adalah ujian Tuhan terhadap keluargaku.

Mendampingi Ibu untuk Sembuh

Mereka yang sudah divonis kanker dan mereka yang berjuang. Kanker dengan berbagai jenis dan stadium. Orang-orang terkasih yang terkena kanker, di antaranya ibuku, kanker kelenjar getah bening (Limfoma Hodgkin) maka diperlukan mental yang kuat serta hati yang lapang dalam mendukung para penderita kanker. Mereka yang berada di samping para penderita kanker: 50% hidup dan 50% berakhir kematian.

Kita bicara soal fakta dalam acara berbagi bersama para penderita kanker. Tuhan memberi ujian pada hamba-Nya untuk melihat seberapa besar kesabaran itu diuji.

Kanker bukanlah kutukan saat itu menjumpaimu, Tuhan YME memilihmu untuk mengujimu jauh lebih sabar dari waktu-waktu sebelumnya. Kanker bukanlah alasan kau menutup hati dan harimu, meski fisikmu lain dari sebelumnya. Kanker adalah penguji apakah sahabatmu masih ada untukmu, ataukah pasanganmu masih mau untukmu? Maka hasil akhir kau simpulkan sendiri.

Jangan sembunyikan kankermu dengan kesedihan. Aku mengapresiasi orang-orang yang berani jujur berkata pada publik bahwa memiliki kanker tak bermaksud mendulang rasa kasihan berlebihan. Kalimat pernyataan itu memerlukan keberanian dan kejujuran. Jangan pernah menghakimi orang penderita kanker.

Dua tahun lebih mendampinginya melawan kanker, bukan hal yang sederhana. Jika banyak puisi tercipta itu kewajaran sebagai teman di kala harapan hanya kosong tanpa bisa berkata kembali. Lalu pena Tuhan menjadwalkan ibu di kesembuhan, menatap matahari tanpa dihalangi kaca rumah sakit kembali, menapaki tanah bumi bukan imajinasi lagi, tapi kaki-kakinya sendiri.

Aku sangat kagum pada mereka yang mau mendampingi pasangannya meski tak secantik dulu, setia yang tak hanya sebatas janji tapi perwujudan hakiki dari niat dan menjaga tali sakral pernikahan. Pejuang kanker adalah pribadi-pribadi tangguh yang bersiap di medan tempur untuk berlaga tanpa mengeluh rasa sakit. Di antara mereka ada ibuku, pejuang kanker yang mendapat tiket emas untuk keajaiban Tuhan tanpa batas, ketika prediksi manusia tak bisa selalu dijadikan sandaran semangat, Tuhan hadir untuk menyentuhnya dalam kuasa-Nya.

Keluarga adalah nadi hidup, kukatakan demikian sebab keluarga adalah harta yang paling berharga, tak bisa disandingkan dengan kemewahan apa pun di dunia.

Ibu berkata, "Perahu itu adalah kebersamaan keluarga,dalam ikatan sapu lidi yang tidak terputus sekalipun ada khilaf di dalamnya." Keluarga adalah dermaga terakhir yang selalu membuka pintu saat kau merasakan rindu, letih dari segenap langkah-langkah yang kau tapaki.

Keluarga adalah muara cinta dan kasih tanpa batas. Keluarga adalah nadi hidup bagiku.

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading