Sukses

Lifestyle

Mendaki Gunung Merbabu bersama Suami, Perkuat Diri Jalani Kehidupan Rumah Tangga

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh:  Indah Rahmasari

Ini adalah pendakian pertama setelah kami menikah, bisa dibilang adalah momen bulan madu. Untuk sebagain orang, menikmati bulan madu dengan melakukan pendakian bukanlah hal yang lumrah. Namun bagi saya dan suami, ini adalah bekal kami untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang kadang penuh liku dan mendaki.

Memasuki bulan keempat pernikahan, kami memutuskan untuk mendaki Merbabu. Kala itu Merbabu menjadi gunung yang pas menurut kami, karena keindahan alam yang menawan serta jalur yang pendek dengan lokasi yang strategis bisa diakses dengan moda transportasi umum.

Kami berangkat dari terminal Bungurasih Surabaya menuju Magelang dengan bus cepat EKA. Dari terminal Magelang menuju Wekas kami naik bus mini dan turun di basecamp pendakian. Sebelum memulai pendakian kami melakukan pemanasan ringan setelah mengurus administrasi pendakian.

Pendakian dimulai dari basecamp menuju pos satu dengan estimasi waktu sekitar 2 jam. Jalurnya berupa susunan batu rapi yang diapit ladang sayur milik penduduk. Gerimis manis nan romantis menemani kami, dengan sensasi dingin yang mulai menyelimuti.

Perjalanan selanjutnya menuju pos dua, jalurnya lumayan terjal, hampir semuanya tanjakan tajam tanpa ada jalan datar. Gerimis manis berubah menjadi hujan lebat disertai angin dan sesekali badai. Sungguh perjalanan terasa semakin berat dan menguras emosi.

Fisik kami mulai lelah, beban kami bertambah berat dari jas hujan yang kami kenakan dan carier kami yang terasa semakin berat karena basah. Di sinilah kami sedang diuji, di tengah kondisi tak nyaman dengan rasa lelah yang teramat.

Sekitar dua jam perjalanan yang berat, sampailah di pos dua. Pos ini kerap digunakan untuk mendirikan tenda dan bermalam, karena tempatnya datar dan terdapat sumber mata air. Saat itu kondisi saya sangat lemah, setelah empat jam diguyur hujan dan diterjang badai. Tulang seolah membeku dan kaki engan untuk diajak melangkah lagi.

Mencapai Puncak Bersama

Saya mulai ragu untuk melanjutkan perjalanan ke puncak esok pagi, namun saya juga tak berani hanya diam di tenda seorang diri. Di sisi lain, ada suami yang sangat ingin menginjakkan kaki di puncak.

Di balik hangatnya tenda dengan ditemani kopi panas dan pemandangan menawan pasca hujan, kami berembuk cukup alot. Mencari solusi terbaik untuk menyatukan mauku dan maumu menjadi mau kita.

Sampai kami memutuskan untuk tetap melanjutkan pendakian menuju puncak dan turun lewat jalur Wekas atau balik kucing. Ini di luar rencana kami sebelumnya, yang naik lewat jalur Wekas dan turun Jalur Selo. Pertimbangannya agar kami bisa melanjutkan pendakian ke puncak dengan beban yang ringan. Barang-barang berat seperti tenda dan peralatan masak bisa kami tinggal di pos dua.

Pagi pun datang dengan cuaca hangat yang menenangkan. Langit berhias pelangi di balik pegunungan sungguh begitu menawan, seolah badai yang kami lalui kemarin tak pernah terjadi. Kami bergegas melanjutkan pendakian setelah sarapan. Jalur puncak ada di atas sumber mata air, estimasi waktu yang dibutuhkan sekitar dua setengah jam.

Satu jam perjalanan kami melewati jalur bebatuan dan berkelok untuk sampai di pos persimpangan pemancar atau kerap disebut pos tiga. Jalur pendakian mulai terbuka hingga bertemu persimpangan jalur Kopeng yang berada di pos Watu Tulis. Sekitar limabelas menit kami tiba di persimpangan pos Helipad. Selanjutnya kami melewati punggungan dengan jurang mengangah dan suguhan pemandangan lembah yang indah. Sampailah kami di persimpangan antara Puncak Kenteng Songo atau Puncak Syarif.

Kami memilih Puncak Kenteng Songo dengan melewati punggungan Ondorante yang terjal. Melewati bibir tebing curam yang biasa disebut jembatan setan, sungguh sensai yang sangat menarik. Semesta merestui kami, siang itu cuaca begitu cerah sehingga nampak deretan gunung megah dari Merapi, Sindoro dan Sumbing yang begitu mengah dan menawan.

Angin berembus kencang menemani keharuan kami ketika di puncak. Kami hanya saling menatap sembari bersyukur atas segala nikmat perjalanan yang telah kami lalui berdua. Mendaki gunung adalah cara kami untuk belajar akan banyak hal, termasuk pelajaran berharga tentang kehidupan berumah tangga.

Di alam kami dididik untuk mendengar, menghargai, menghormati, mengambil keputusan terbaik di saat sulit dan manajemen segala hal termasuk emosi, keuangan dan perbekalan. Bagi kami ini adalah perjalanan berharga yang bisa kami jadikan bekal dalam menjalani kehidupan berumah tangga yang penuh dengan gejolak dan ketidakpastian.

#ElevateWomen

PLAYLIST VIDEO 3 AGUSTUS 2021
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories My Trip Story
Artikel Selanjutnya
Indahnya Toleransi di Selandia Baru: Ada Sebuah Pengalaman yang Berkesan Untukku